*ruang rawat*
Dia terbangun dari tidur-tidurannya. Dan mencoba menarik tangannya. Dan membuat orang yang memegang tangan itu kembali tegak duduk.
"Udah bangun?" setelah mengucapkan kalimat yang terlalu lebay mungkin, dan sekarang dia bisa bersikap biasa saja?Dan lawan bicara nya pun bersikap seperti tidak mendengar apa-apa.
"Menurut lo? Kalo gue udah buka mata gue, dan lo udah bisa liat gue? Artinya apa? Ya udahlah" jawabnya tak kalah sinis, "Balik sekolah" dan sekarang dia harus belajar menahan emosinya."Dan lo pikir? Gue bakal nurut gitu?"
"Kenapa si lo? Gue tuh udah sehat," dan dia pun mencoba untuk berdiri,"nih liat" sambil berdiri tegak.
Dan hanya di lihat oleh orang dihadapannya itu."Aww" dan sesak lagi. Cowok itu bisa melihat. Dan pura-pura nggak tau.
"Gaya-gaya an si"dan cewek itu pun duduk lagi.
"Yaudah iya, balik lah, ngapain disini coba? Kurang kerjaan." ucapnya.
"Kurang kerjaan? Yang lebih kurang kerjaan tuh siapa? Marah-marah, pingsan, nggak bangun-bangun, umpamanya tadi lo nurutin gue nggak bakalan gini, lo bisa pulang sekarang, dasar batu"
Mereka sama sama berdiam. Sampain gadis itu memberanikan berbicara.
"Makasih" sambil tetap menatap tangannya.Senyu. Ya, cowok itu tersenyum, "ya" jawabnya terlalu singkat.
"Hm, yaudah sono panggilin dokternya" dikarenakan dia tidak mau meladeni lagi. Jadilah, sekadarnya ia menjawab.
"Oke, gue panggil dokter dulu" dan cowok itu pun memanggil dokter. Dan saat keluar dari ruangan.
"Apaan ni?" diambilnya bunga dan cokelat yang tergeletak tepat di depan pintu itu."Ada apa?" teriak dari orang yang berada di dalam.
Dan yang meresa mendengarpun dia berbalik badan dan menampakkan dua benda di tangannya.
"Kepo" jleb, jawabnya minta ditampol. Mengerucutlah itu bibir.
"Yadah, panggil dokternya"
"Iya bawel" dan langsung keluar. Dan membawa barang yang ditemukannya.
Dia berjalan sambil membolak-balikan benda itu. Berpikir, ternyata cewek macam dia ada penggemar rahasia.
'siapa yang ngasih? Sok misterius banget, gue kasih aja lah nanti' dan dia melanjutkan perjalanan ke dokternya.
*dikamar*
"Saya kira kamu yang bawa aku kesini, saya kira kamu akan nglakuin apa yang kamu lakuin kepada temenku waktu itu, sampai dia meminta maaf dengan cara seperti kemaren, tapi ternyata bukan, mungkin memang bukan kamu ya waktu itu, saya kira kamu sudah disini, ternyata belum ya, oke, saya nunggu kok, dan saya harap secepatnya kamu datang" ucapnya sendiri.Dan beberapa saat kemudian ada seseorang yang mau masuk kedalam ruangan putih itu.
Klek. Dan menampakan seseorang yang ditunggunya. Dokter."Lama banget si lo, lo manggi dokternya di arab ya? Lama bener" sentaknya pada cowok yang sudah membuat dia berada di tempat yang memuakkan ini.
"Bawel banget sih? Udah baik, sekarang mulai lagi"
"Lo baper, cuma sekedar gue ucapin terima kasih? Seharusnya lo yang minta maaf, nggak ada perasaan bersalah banget" melengos.
"Siapa suruh lo sesek napas, makanya kalo sakit tuh dirumah, sok sokan masuk" diberinya jeda sedikit, "maaf" satu kata yang membuat gadia itu langsung melihatnya.
"Disuruh baru bilang, mungkin lo bawa gue kesini juga terpaksa ya? Nggak usah dibantu kalo gitu, gue nggak selemah itu, yang mau lo bantu"
"Gue udah minta maaf, dan gue salah lagi, mending lo diem dari pada lo kumat"

KAMU SEDANG MEMBACA
One Your Reason ( On Going)
Teen FictionJadi, hanya satu yang bakalan gue minta dari lo, satu dari sejuta alasan lo, yang bakal lo pakai buat yakinin gue lagi. Gimana? Ini bodohnya seorang gue, gue percaya gitu aja, Dan kalo gue aja mau nerima alasan lo, kenapa gue gak bisa nerima diri l...