[20] Kado Terburuk

5.8K 643 53
                                    


-Kado Terburuk-


::I'm Still Here::


Keluar dari BTS?

Bang Sihyuk seketika membulatkan matanya ketika kalimat itu terlontar dari mulut ayah Jimin. Bagaimana bisa lelaki itu membuat keputusan seperti ini? Bang PD-nim jelas tahu bahwa ayah dari anak didiknya itu tentu saja tak ingin kehilangan anaknya, ia sangat mengerti hal itu. Tapi... keluar dari BTS? Ia yakin Jimin akan menentang hal ini.

"Tuan Park, Anda tak bisa melakukan ini! Jimin akan terluka jika tahu hal ini."

"Saya tahu hal itu, PD-nim. Tapi... ayah mana yang ingin kehilangan anaknya?"

Bang PD-nim menarik napas dalam sedang ayah Jimin menghela napas gusar lalu menatap lelaki di depannya memohon.

"Tuan Park...."

"Jimin anak tertua saya, dia masih memiliki ibu yang membutuhkannya, dia masih memiliki adik yang butuh kasih sayangnya. Dan saya sebagai ayah, tak pernah ingin berpisah nyawa dengannya."

Bang PD-nim menarik napas dalam lalu terdiam sejenak menetralkan hatinya yang sedikit terguncang.

"Saya tak bisa mengeluarkan Jimin begitu saja. Jimin akan tetap menjadi bagian BTS, apapun yang terjadi. Jimin akan tetap seorang Jimin BTS. Maafkan saya tuan Park, saya lebih baik menunggu hingga waktu menjawab... dibanding memutuskan sesuatu yang akan melukai anak seperti Jimin."

"PD-nim!"

"Saya pikir tak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya permisi!"


__I'm Still Here__

"Ayah dan Jihyun dimana?"

Wanita yang berada di hadapan Jimin tersenyum tipis sembari mengusap kepala Jimin lembut. Menatapnya penuh kasih sayang.

"Ayah sedang bicara dengan Bang PD-nim. Jihyun di luar bersama teman-temanmu."

Jimin mengernyitkan dahinya pelan, "Apa yang ayah bicarakan dengan Bang PD-nim?"

Nyonya Park tampak tersenyum canggung, ia berdehem pelan kembali mengusap kepala anaknya, "Kau tanyakan saja pada ayahmu nanti, eoh!"

Jimin semakin mengernyitkan dahinya merasa ada hal yang aneh dari ekspresi ibunya, namun ia hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian suara gesekan lantai terdengar, pintu kamar dimana ia dirawat terbuka menampilkan sosok lelaki yang mirip dengannya. Park Jihyun –adiknya- berjalan masuk sendirian dengan langkah ragu mendekati kakaknya.

"Kemarilah! Kenapa kau berjalan sangat pelan seperti itu?"

Jihyun menghela napas pelan lalu berjalan lebih cepat, sedangkan ibu dari kedua lelaki itu tampak melangkah mundur. Ia mengerti bahwa kedua anaknya itu butuh waktu untuk bicara berdua, terlebih mengingat terakhir kali mereka bertemu kondisi hati keduanya tak begitu baik.

"Bagaimana kuliahmu?" tanya Jimin ketika Jihyun telah mendudukkan diri di sampingnya.

Jihyun menggaruk sebentar lehernya, lalu mengangguk, "Baik."

I'm Still Here ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang