"Keluar kota" jawabnya santai.
"Haaa!!!" dia kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa orang ini membawa nya ke luar kota dengan pakaiannya seperti sekarang ini.
"Ih, lo ngeselin banget si? Gue nggak bawa handphone, dompet, dan pakaian gue? Lo tuh, ih, berenti nggak" dengan nada yang nggak santai.
"Salah sendiri"
"Berenti, gue loncat nih" dan motornya pun minggir. Dan gadis itu pun langsung turun dari boncengan. Dengan amarah yang ditahannya. Dan dia mau melenggang. Tapi tidak bisa, ada tangan lain yang lebih cekatan.
"Terus lo mau pulang naik apa? Angkot? Ojek? Taksi? Mikir dong, lo sendiri tadi yang bilang yaudah, ayok, yaudah, kan udah gue tanya juga, baju kayak gitu, terus disini siapa yang salah? Gue,?"
"Lo nggak bilang mau ke tempat yang jauh, gue kira lo cuma mau beli apa gitu, gila, mau nyulik gue?"
"Kalo gue mau nyulik lo, mikir-mikir kali, belum berisik lo, cerewet lo, terus gue lo suruh dengerin radio dari mulut lo, mending gue denger radio rusak, kalo pun iya, kemarin kemaren ngapain gak gue bawa? Stupid" dengan nada yang sangat datar. Bayangin aja. Pasti kesel. -,-
"Jahat"
"Bodo"
"Ngeselin"
"Bawel"
"Gila"
"udah kan lo nggak bisa jawab, emang gila mau ngeles lagi""Lo ikut gue, apa lo gue tinggal disini"
"Mending jalan kaki sampek kaki gue patah dari pada gue ikut lo"
"Yaudah, serah" dan cowok itupun meninggalkan perempuan itu begitu saja. Tanpa di kasih uang.
Meskipun masih diliriknya cewek yang berdiri dengan wajah yang di tekuk sekali.Dia pun mana tega, bukankah hari ini adalah rencana nya. Mengajak gadis itu jalan-jalan. Mengajak ke tempat yang indah. Kenapa sekarang yang ada ribut selalu. Setelah sudah naik diatas motor dia pun turun kembali. Dan mengahmpiri gadis yang masih disitu.
"Naik!!" perintahnya.
"Nggak sudi"
"Lo, batu banget jadi cewek"
"Bodo"
"Emang lo tolol"
"Kalo gue tolol, yaudah ngapain lo deket-deket gue" cowok itu pun tidak mengindahkan kalimat yang barusan meluncur.
"Lo naik sekarang apa gue beneran kasar sama lo,"
"Gue bilang nggak ya nggak, batu banget sih jadi cowok"
"Lo yang batu, ayo" ditariknya sangat kuat tangan kecil itu. Sampai terasa sakit ditangannya.
"Sakit, gue nggak mau" tapi ditulikannya telinga itu. Tetep di tarik. "SAKIT" sambil mencoba dihempaskan tapi tidak bisa. Hanya bisa membuat cowok itu berbalik badan. Napas nya memburu, dan dia harus bisa mengontrolnya.
Hanya sedikit orang disitu. Namun mereka semua masa bodoh. Mungkin mereka berpikir, hanyalah cek cok kecil antara pasangan. Karena mereka tidak mendengar si perempuan tidak berteriak meminta tolong. Toh, tadi memang anteng di atas motor.
Setelah berbalik dilepaskannya tangan yang di genggam itu. Bukan genggam. Cengkeram lebih tepatnya.
"Sa kitt, kasar banget sih" langsung dilihatnya pergelangan tangan yang sedikit memerah itu.Mencoba menyentuh pergelangan tangan itu. Tapi langsung ditepisnya.
"Nggak usah""Lo bisa nggak sih, nurut, matuh," cewek itu masih setia memandang pergelangan tangan itu yang sakit. Matanya memanas, dan ingin sekali menangis. Dan, tes, satu tetes berhasil lolos dan diikuti lolosan yang lainnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
One Your Reason ( On Going)
Teen FictionJadi, hanya satu yang bakalan gue minta dari lo, satu dari sejuta alasan lo, yang bakal lo pakai buat yakinin gue lagi. Gimana? Ini bodohnya seorang gue, gue percaya gitu aja, Dan kalo gue aja mau nerima alasan lo, kenapa gue gak bisa nerima diri l...