Madison datang dengan membawa nampan berisi dua hotdog dan kentang goreng. Dia duduk di depan ku.
"Kau tidak diet?" Tanya ku.
"Tidak." Madison dan aku tertawa.
"Boleh kami bergabung." Tanya Shawn yang berdiri memegang nampan berisi dua burger dan dua iced lemonade diikuti Jack.
"Silahkan." Jawab Madison.
Jack duduk di sebelah Madison, dan Shawn duduk di sebelah ku.
"ehm.. sebenarnya aku dan Jack sudah resmi menjadi sepasang kekasih." Madison mengejutkan ku.
"Apa? Dari kapan?" Tanya ku.
"Congrats bro." Ucap Shawn.
"Sebenarnya kemarin aku ingin memberitahumu, tapi kau sedang tidak mood." Madison memakan kentang goreng.
-
Aku berjalan menuju balkon dan menelfon ibu. "Ibu.. apa kau sedang sibuk?"
"Tidak... Nash akan sampai besok pagi. Kau kapan pulang?"
"Aku sepertinya tidak akan kembali saat liburan musim panas... Ibu sendirian di desa?"
"Ibu dirumah bibi.. Kenapa kau tidak pulang? Kau akan melewati hari ulang tahun mu sendiri.."
"Tak masalah.. Aku merindukan mu."
"Ibu juga merindukan mu. Jaga dirimu baik - baik sayang."
Aku mematikan telfon dan menangis. Aku ingin sekali bertemu ibu. Tapi aku tidak bisa kembali ke Belanda, biaya untuk kembali ke Belanda tidak lah murah.Ctek. Suara pintu kamar Shawn terbuka. Aku langsung menghapus air mata ku.
"Sebentar lagi musim panas, kau ada rencana untuk kembali ke Belanda?" Dia merangkul ku. Karna tidak ada jawaban dari ku, dia menoleh kearah ku. "Kau menangis?" Shawn memeluk ku. "Apa ada yang memarahi mu? Katakanlah."
"Aku merindukan ibu ku... Aku ingin sekali pulang tapi tiket pesawat tidak akan murah." Aku menangis dalam pelukan Shawn.
"Jangan menangis, aku berjanji aku akan mengajak mu kembali ke Belanda di musim panas tahun depan." Shawn mengelus kepala ku.
Aku melepas pelukan nya.
"Kau tahu lusa tanggal berapa?" Dia memegang kedua tangan ku.
"8 Agustus."
"Yap kau benar, Aku ingin kau memasak daging panggang saus mayo dan muffin selai anggur yang banyak karna aku akan mengajak teman ku untuk makan malam dirumah."
"Baiklah."
Shawn mengelus rambut ku lalu masuk ke dalam kamar nya.
Dari mana dia tahu jika aku bisa membuat daging panggang? Atau mungkin dia menyuruh ku karna dia menginginkan nya. Dia menyuruh ku memasak bukan berarti dia tahu jika aku bisa memasaknya bukan?
Aku masuk dan merebahkan tubuh ku di atas kasur. Tak lama aku mulai mengantuk dan terlelap.
-
Aku terbangun saat sesuatu menampar wajah ku. "Sial!" Aku membuka mata ku ternyata itu tangan Shawn. Aku melirik kearah nya. Bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak sementara aku terbangun karna ulahnya. Jam di kamar ku menunjukan 5:15 am. Yang dimana 15 menit lagi alarm ku akan berbunyi.
Aku beranjak dari tempat tidur ku dan membangun kan Shawn. "Bagunlahh pria maple syrup!"
"Kau.. Aku.. jangan tinggalkan.." Dia mengigau, lalu tak lama dia membuka matanya.
"Beraninya kau tidur di kamar ku tanpa seizinku." Aku menceramahinya.
"Aku tidak bisa tidur." Dia mengucek matanya.
Aku hanya melihat kearah nya lalu mengambil jaket ku dan berjalan menuju taman belakang. Aku melakukan pemanasan untuk meregangkan otot ku.
"Boleh aku ikut?" Shawn datang dan duduk di pinggir kolam benerang.
"Tidak.." Ucap ku, lalu berlari mengelilingi lapangan.
"Baiklah aku akan berenang." Shawn membuka bajunya lalu masuk ke dalam kolam.
Aku berlari kearah nya. "Kau gila? Ini masih pagi."
"Kalau begitu izinkan aku lari bersama mu." Dia memasang puppy eyes yang lagi lagi berhasil membuatku untuk tidak menolak rayuan nya.
"Terserah kau saja." Ucap ku. Lalu kembali mengitari taman.
Shawn keluar dari kolam dan berlari di samping ku. "Berapa kali biasanya kau berkeliling?"
"Apa kau harus berlari tanpa baju." Tanya ku.
"Aku akan memakainya." Dia berhenti di pinggir kolam untuk memakai pakaian nya.
Setelah berkeliling beberapa kali aku memutuskan untuk duduk di kursi taman.
"Kau lelah?" Tanya Shawn lalu duduk di sebelah ku. "Bersiaplah untuk ke kampus." Shawn meninggalakan ku.
Benar. Aku harus bersiap ke kampus karna ini hari terakhir sebelum libur musim panas.
-
"Shawn.." Cam menoleh ke arah Shawn yang sedang menikmati sarapan nya. "Apa kau sudah mendapat kabar dari ibu?"
Shawn meletakan roti panggang yang dia pegang, lalu menoleh ke arah Cam. "Appartement belagio 105." Shawn meminum susu di hadapan nya hingga habis lalu beranjak dari tempat duduk dan menarik tanggan ku.
"Tunggu apa yang kau maksud dengan Appartement 105?" Teriak Cam.
-
"Shawn aku belum menghabiskan makanan ku." Aku memakai seat belt miliku.
"Kalau kau masih lapar kita akan ke Mcd." Tanya Shawn.
"Tidak.."
-
Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Madison.
"Carol.." Madison memanggilku. "Apa kau tau gosip tentang Shawn?"
"Gosip tentang?" Aku menoleh ke arah nya.
"Shawn akan melaksanakan pemotretan dengan seseorang model. Tema nya adalah pasangan musim panas. Akan di terbitkan di majalah vogue."
"Shawn tidak pernah membicarakan nya dengan ku." Ucap ku.
"Dan yang akan menjadi model wanita nya adalah Hailey Balwin. Dia adalah seniorku di bidang ini. Dan yang harus kau tahu, dia adalah teman dekat Ellie."
Jantung ku rasanya berhenti berdetak saat mendengar Madison menyebut nama Ellie. "Kapan pemotretan itu akan di laksanakan?"
"Entahlah itu masih menjadi perbincangan saat aku melaksanakan pemotretan kemarin."
"Kenapa harus Shawn?" Tanya ku.
"Shawn adalah seorang idola sekarang. Dia anak dari pengusaha di kota ini dan juga penampilan nya waktu itu berhasil menarik perhatian." Jelas Madison.
Aku hanya menatap kosong ke arah Madison. Aku sangat takut jika Shawn akan tertarik kepada model itu, dia akan semakin melupakan aku yang sebenarnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Manipulate | Shawn Petter Raul Mendes
Fanfictionpernahkah kamu bermimpi untuk hidup bersama cinta pertama mu? aku selalu bermimpi untuk itu. bahkan di saat semuanya tidak mungkin terjadi, aku masih mempercayai bahwa cinta pertama itulah yang akan menjadi bagian dalam hidupku selamanya. Tapi apa h...