18. Tersudut.....

21 4 0
                                    

Aku memeluk Stefani erat sebelum melepas dirinya kembali kepada Stefan. Rasanya masih terasa berat merelakan Stefi pergi begitu saja. Mengingat terlalu banyak kenangan yang sudah kami lewatkan walaupun sebentar. Tetapi jika melihat dirinya saat ini, aku merasa seharusnya aku bisa ikhlas menerima jalannya. Serta mendoakan yang terbaik bagi Stefi dan Stefan setelah ini.

"Stefi, abis ini sering main ya...." kataku penuh harap.

"Iya, siap. Apa lagi kalau abis ini nerima undangan dari kamu pasti langsung dateng." katanya membuatku agak bingung.

"Ngapain diundang? Klo mau main ya main aja...." kataku

"Aduh, Re kamu ini nggak peka banget ya.... Maksud aku undangan itu undangan pernikahan kamu..." kata Stefi

"Ah, apaan sih basi...." jawabku ketus

"Eh.... Jujur nih... Sama yang kemarin udah sampe mana?" tanyanya menggoda

"Hush... Apaan sih! Ngaco ah!"

"Apanya yang ngaco coba. Udah dikenalin ke ortunya belum?" tanyanya menggoda

"Apaan sih. Ya, kita cuma sebatas temen kok. Tapi udah deh... Sekarang yang penting aku sudah cukup seneng dengan kamu dan Stefan balikan." kataku lagi.

"Iya, semoga dengan ini kami semakin mengerti apa yang memang sebenernya ingin kami cari dalam kebersamaan kami."

"Iya... Yah, sekali lagi aku berdoa semoga perjalanan kalian menyenangkan. Oke."

"He'em, sampai jumpa." pamit Stefi sembari melambaikan tangan padaku

Perlahan dirinya mulai berjalan beranjak pergi. Meninggalkan aku yang masih menunggu bayangnya hilang perlahan menuju tempat yang memang seharusnya. Bisa menjadi sebuah rumah untuk dia memiliki arti dalam hidup seseorang yang dia cintai. Walaupun pemandangan ini membuatku bahagia, namun entah mengapa pada sisi lain aku justru merasa sakit.

Ya, aku merasa sakit karena aku merasa terpojok pada sebuah kenyataan. Kalau seharusnya aku mulai membuka diriku, menerima seseorang yang mungkin menginginkan aku berada dalam arti keberadaan dirinya. Mengisi ceruk kosong dalam hatinya sebagai motivasi untuk menjadi terbaik bagi diri kami satu sama lain. Tanpa perlu kami merasakan sakitnya berpura-pura menjadi orang lain.

Karena sebetulnya alasan kenapa aku tak pernah mau berbohong adalah aku hanya tak mau membohongi orang lain tentang siapa sebenarnya orang yang dia cintai. Aku cuma ingin jujur mengakui siapa diriku supaya tahu siapa orang yang sungguh tulus, tanpa harus melukai orang lain lebih dalam lewat kebohongan.

Namun toh, kenyataannya aku selalu dianggap terlalu lugu. Entah itu karena mereka tak mau rugi dengan menyatakan hal ini. Apalagi ada kemungkinan kehilangan orang yang disayangi karena dianggap otoriter, atau bahkan mungkin. Orang tak mau hidupnya sulit dengan menanggung kesulitan hidup pasangannya bersama. Tanpa pernah menyadari bahwa artinya hidup bersama itu lebih dari sekedar menerima kekurangan satu sama lain. Tetapi juga menanggung kesulitan hidup bersama dengan tanggung jawab baru sebagai pasangan tentunya

Iya walaupun memang aku akui ini sulit. Apalagi aku harus mau belajar rendah hati, mengkoreksi diriku sendiri. Sebelum akhirnya mungkin diberi kesempatan membawa seseorang untuk belajar hal yang sama denganku.

Namun sebelum ini tentunya aku harus belajar memaafkan masalalu agar bisa secara utuh memandang seorang yang akhirnya menjadi jalanku. Benar-benar berada pada posisi yang seharusnya disitu. Karena dia tidak menjadi pelarian dalam hidupku. Tapi memang waktu jualah yang menggariskan dia sebagai pilihanku secara utuh sebagai pendamping hidupku....

Teruntuk dia yang seharusnya aku akui sanggup merubuhkan benteng pertahananku....

Hai... Hai... Pernah ada pada titik ini? Dimana kalian merasa ragu pada perasaan sendiri. Karena yah, perasaan adalah sesuatu yang mudah untuk timbul dan tenggelam. Tetapi apa yang akan nguatkan apapun yang terjadi???? Simak terus dengan bantu vote dan komennya ya.......

Filosofi Pasangan KopiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang