Cuma 1 kata, ganteng, udah itu aja 😍
Jaka POV
Aku mengikuti mobilnya dan bernafas lega ketika tahu Mitha melajukan mobilnya ke arah apartment.
Menyetir dalam keadaan emosi yang sedang terguncang sangatlah berbahaya. Waktu tadi Mitha menolak untuk diantarkan, siapa yang tidak khawatir. Aku langsung mengemudikan mobilku mengikuti mobilnya tanpa berpikir panjang lagi.
Seharusnya tadi aku memaksa Mitha untuk aku antarkan. Tugas utamaku harus menjaga dirinya kan?
Walaupun dalam kasus penyewaan jasaku kali ini, aku bukan bertugas mengawal seorang artis yang meminta pengawalan untuk terbebas dari penggemar yang berpikiran parno kalau pengemar-pengemarnya bisa menyakiti sang artis, tapi kali ini hanya bertugas pengawalan biasa, tapi tetap saja, keamanan klien adalah faktor utama dalam jasaku ini.
Keningku berkerut bingung ketika melihat mobil warna merah maroon nya itu berhenti di depan sebuah toko mart di jejeran ruko-ruko di bawah tower apartment. Mitha keluar dari mobilnya, berjalan menunduk memasuki toko tersebut dengan kacamata hitam bertenger di hidungnya.
Aku memarkirkan mobilku tidak jauh dari mobilnya berada dan menunggu sampai Mitha keluar, tidak sampai hitungan 3 menit lamanya Mitha muncul dari pintu toko tersebut sambil menenteng plastik kecil yang ku amati berisikan kotak berwarna kuning.
Keningku kembali berkerut bingung.
Mitha kembali melajukan mobilnya menuju pelataran parkiran basement.
Dengan kecepatan sedang mobilku melewati mobilnya yang sudah terparkir tidak jauh dari lobby basement.
Mitha keluar tanpa memakai kacamata, kulihat matanya bengkak, dirinya masih sesekali kulihat sesengukan.
Ya ampun, seorang Mitha yang dulu ku tahu adalah anak perempuan yang songong, yang selalu membalas menatapku dengan tatapan tidak takut dan menantang tiap kali aku bertanya apakah sudah mengerti dengan penjelasan ku setiap aku menerangkan pelajaran, dan yang kulihat sekarang, dia tampak terlihat begitu rapuh.
Aku segera keluar dari mobil dan berjalan pelan menuju lobby sambil menurunkan topi yang ku pakai menutupi sebagian wajahku. Kacamata hitam yang ku pakai kurasa sangat membantu untuk menutupi dan menyamarkan wajahku sekarang ini.
Ku lihat Mitha masuk ke dalam lift dengan wajah tertunduk.
Aku berdiri menunggu di luar lobby sampai pintu lift benar-benar tertutup sempurna.
Mendongak ke arah tanda penunjuk angka lantai berwarna merah di atas pintu lift dan melihat angkanya berhenti cukup lama di lantai 5.
Mitha tidak kembali ke unit apartmentnya? Atau ada rombongan penghuni apartment yang sedang naik ke lantai atas? Sehingga membuat lift tertahan lama di lantai tersebut.
Aku buru-buru memencet tombol lift untuk segera mengetahui apakah dirinya benar turun di lantai 5 yang terdapat kolam renang di setiap tower apartment atau tidak.
Ketika pintu lift terbuka di lantai 5, aku melihat sobekan kecil plastik berwarna kuning di atas lantai menyambut ku yang baru melangkah keluar dari lift.
Aku memungut sobekan kecil itu, lalu berjalan ke arah kolam renang berada, melihat lagi sobekan berwarna yang sama, memungutnya kembali dan membuang sobekan-sobekan itu ke tong sampah yang terdapat di depan pintu keluar.
Aku mengedarkan pandanganku ke arah penjuru kolam renang dan mendapati Mitha yang terduduk di salah satu kursi panjang kolam renang dengan wajah masih menunduk.
Posisinya di ujung dari sudut kolam yang berbentuk segi empat untuk kolam orang dewasa. Tiap-tiap tower apartment ini disediakan fasilitas kolam untuk orang dewasa dan kolam renang untuk anak kecil yang berbentuk lingkaran.

KAMU SEDANG MEMBACA
don't tease my bodyguard
HumorBEBERAPA PART SAYA HAPUS UTK KEPENTINGAN PENERBITAN Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/1/18 - 9/2/18