Bulunyaaaa 😍😍 cabutin nihhh 😆😂
Mitha POV
Mobilku memasuki pelataran parkiran sebuah gedung apartment. Aku mencuri pandang ke arah Jaka sambil membuka seat belt.
Sejak aku berkata-kata mengungkit masalah dirinya yang berhenti mengajar ku, kami saling membisu sampai sekarang.
Rasanya tepat aku membuatnya menutup mulut dengan kata-kata ku tadi.
Jaka seperti menikmati menggodaku habis-habisan.
Menyudutkanku dengan kejadian di mana aku yang sedang mabuk. Dirinya boleh saja mengungkit-ungkit kejelekanku di saat mabuk, tapi lebih jelek lagi dirinya yang tidak bertanggung jawab kan?
Huh, aku mendengus kesal.
Jaka memarkirkan mobilku tidak jauh dari pintu lobby utama apartment. Begitu tangannya membuka kunci pintu aku langsung keluar dari mobil.
Jaka mengikuti langkah ku dari belakang.
Sepanjang melangkah menuju pintu lobby apartment, kulihat tatapan perempuan-perempuan yang berjalan berlawanan arah dengan kami melihat ke arah pria di belakangku ini.
Aku melirik sekilas ke belakang, kulihat Jaka fokus berjalan dengan mata menatap ke depan tanpa terusik dengan tatapan lapar para perempuan yang melihat ke arahnya.
Aku melambatkan langkahku dengan sengaja, Jaka menatapku bingung. Aku membuang mukaku.
"Jalannya di samping saya" Kataku tanpa memandang wajahnya.
"Tapi Miss pernah perintahin saya untuk jalan di belakang Miss" Jawabnya sesaat kemudian setelah terdiam beberapa saat.
Aku mengerang.
"Jalan. Di samping. Saya" Ulangku penuh penekanan.
Aku menghentikan langkahku dan mendongak ke arahnya yang ikutan berhenti melangkah tepat di belakangku. Keningnya berkerut bingung.
Tangannya mengusap tengkuknya. Jaka melangkah maju tepat di sampingku walaupun bisa kulihat mulutnya ingin mengucapkan sesuatu.
Aku kembali melangkah. Kami berjalan bersisian, tiap kali ada perempuan yang menatap dirinya, mataku langsung melototi perempuan itu dengan wajah garang.
Tindakanku aman aku lakukan karena tinggi tubuhku hanyalah sedagu Jaka, dirinya harus menunduk untuk melihat wajahku dulu apabila ingin melihat apa yang aku lakukan ke perempuan-perempuan yang menatap dirinya.
"Apartment Papi lantai berapa?" Tanyaku begitu kami berdiri di depan lift.
"7" Jawabnya singkat, tangannya menekan tombol lift ke arah atas.
Aku menoleh ke samping Jaka, mendapati seorang perempuan yang berdiri dan mendongak menatap Jaka sambil tersenyum.
Hanya ada kami bertiga yang berdiri di depan menunggu lift.
Jaka mengangguk pelan ke arahnya, membalas senyumannya.
Barusan perempuan-perempuan pada ngeliatin Jaka, sekarang perempuan satu ini tanpa malu-malu menatap Jaka tidak berkedip.
Ngajakin ribut nih.
Dengan gerakan pelan aku melangkah, daguku terangkat sedikit dan berdiri di antara mereka. Lalu menatap tajam si perempuan.
Bersedekap melihatnya dengan pandangan merendahkan. Perempuan itu kaget melihat aku yang tiba-tiba muncul berdiri di antara Jaka dan dirinya.
Sudut bibir atasku naik berkali-kali, masih dengan pandangan menusuk aku memicingkan mataku ke arahnya.
Wajahnya langsung berubah. Kakinya bergerak mundur.

KAMU SEDANG MEMBACA
don't tease my bodyguard
Hài hướcBEBERAPA PART SAYA HAPUS UTK KEPENTINGAN PENERBITAN Warning for +21 only Penulis hanya menuangkan ide cerita, tidak menganjurkan untuk dipraktekkan, harap bijak dalam membaca Happy reading 6/1/18 - 9/2/18