Hingga suatu hari, aku benar-benar cemas karena tidak dapat tidur selama 4 hari berturut-turut lamanya. Insomnia akut. Aku mendatangi apotik lalu tanpa sengaja melihatmu sedang makan dengan kekasihmu di rumah makan samping apotik. Kau melihatku lalu dengan cepat kau menghampiriku dan berdiri cukup lama di sampingku. Aku tidak mampu melihatmu. Aku hanya melihat tanganmu terulur hendak berjabatan.
***
Aku memberanikan diri melihatmu.
Aku cukup malu karena aku sangat berantakan sementara kau tampil sangat rapi.
''Kau kenapa? Aku ada salah? Bilang saja. Kau sakit? Kau tinggal dimana sekarang?'' Kau bertanya sambil menatap wajahku sangat dalam.
''Sibuk,'' jawabku singkat, sambil mencoba memaksakan senyum setulus mungkin.
''Sekarang tidak kan? Kau sudah makan? Ayo cerita. Aku ke tempatmu. Aku antar dulu Lora. Kau ikut. Aku mau banyak dengar kabarmu. Ada juga yang mau aku ceritakan.'' Kau berbicara sedikit memaksa, wajahmu terlihat tidak tenang. Namun ada sedikit senyum disana.
Aku mengangguk pelan. ''Makan saja dulu, habis beli obat aku langsung menyusul ke dalam.''
''Benar ya?!'' ucapmu sambil memegang bahuku yang segera aku tepis pelan sambil mengangguk. Kau masih diam di tempat. Aku mengangguk pelan, meyakinkan. Kau lalu berjalan pelan sambil tetap menoleh ke arahku sebelum masuk menyusul kekasihnya.
Nafasku sesak lalu aku mulai memesan obat sembarangan dalam jumlah cukup banyak dan pergi pulang dengan menggunakan motor.
Perasaan bersalah itu kembali muncul. Tiba-tiba aku menangis. Tanpa pikir panjang malam itu aku meminum semua obat yang aku beli. 9 strip kemasan dengan jenis obat berbeda. Termasuk semua obat sirup dan obat-obatan kadaluarsa yang ada dalam kotak persediaan obatku. Total 4 botol banyaknya.
Aku hanya berpikir ingin lenyap saat itu. Semua gelap. Tanpa kusadari, keesokan harinya aku sudah berada di rumah sakit. Ibuku datang di sore hari. Lusa aku dibawa pulang ke Bali oleh Ayah setelah disiksa secara fisik seharian.
Pertemuan malam itu adalah pertemuan terakhirku denganmu. Kau belum sempat mendengar ceritaku dan aku belum sempat mendengar ceritamu. Aku tidak menepati janji.
**
Pesawat sudah tiba di Bandara Kuala Namu.
Ibuku akan menikah lagi besok, maka dari itu aku datang mengunjunginya. Ini akan jadi hari bahagianya setelah mengambil keputusan untuk meninggalkan ayah.
Aku pernah berjanji tidak akan pernah menginjakkan kaki ke kota ini lagi. Aku takut semua kegelapan itu kembali. Namun, demi Ibu aku berani untuk mencoba kuat.
Sekali lagi aku mencoba menatap wajahmu berharap ini kali terakhir walaupun aku harus menahan sesak dan rasa sakit di dada yang sulit aku jelaskan dan sudah aku tahan cukup lama semenjak melihatmu lagi.
Mata kita sempat beradu dan sempat membuat keringatku kembali keluar.
Tanganku sempat bergetar menahan cemas.
Kau sempat memperhatikanku cukup lama. Aku langsung mengalihkan pandangan, melepas sabuk pengaman lalu beranjak dari bangku mengambil ransel di bagasi kabin. Aku berharap kau tidak menyadariku dan berharap masker ini cukup mampu menutupi wajahku agar tidak dikenali.
**
Sudah 7 tahun, wajahku juga berubah. Tetapi, perasaanku ternyata tidak. Aku tersiksa dalam rasa bahagia. Kau hanya bisa merasakannya saat menjadi aku.
Aku sudah keluar dari pesawat dan berada di dalam bandara menuju pintu keluar setelah mengambil bagasi. Naluriku masih terhipnotis mencarimu. Namun, aku tidak melihatmu lagi. Ya, memang aku sangat ingin menghindarimu namun hati dan pikiranku memiliki banyak suara saat ini.
Di tengah keresahanku, tiba-tiba kau sudah berada di sampingku setelah berjalan cepat, menyentuh pundakku, menyuruhku berhenti dan memberikan buku milikku yang tertinggal di kursi dan... tiket pesawat.
Tertulis namaku sangat jelas di tiket itu.
Mr. HUGO, IGNASIUS.
Aku cemas namun berpura-pura tenang. Mengucapkan terima kasih lalu pergi seakan tidak ada sesuatu yang aneh sedang terjadi saat itu. Namun nafasku kembali sesak. Aku mencoba bertahan agar tidak terjatuh.
''Apa kabar?'' aku sempat hendak menghentikan langkah berat gemetarku saat kau mengatakan pertanyaan yang sangat ingin aku tanyakan padamu sejak awal melihatmu.
Tanganku ikut bergetar. Aku mengepalkan tangan mencoba untuk bertahan dan kuat. Aku memilih tidak peduli dan pergi pura-pura tidak mendengar. Kau bertanya lagi cukup keras, ''Apa kabar, Hugo?"
Aku tetap diam.
Kau tetap berdiri melihatku menjauh.
Maaf, tapi aku tetap mau hidup.
***
Ibu dan calon ayah tiriku menjemputku di bandara. Mereka terlihat bahagia melihatku dan menanyakan banyak hal. Namun di tengah riuh percakapan mereka, aku masih terdiam mengingatmu. Aku menemukan selembar kertas terselip di buku yang diberikanmu tadi. Tulisanmu tidak berubah dan kali ini kau membuatku benar-benar menangis.
**
Sudah 7 tahun.
Kehilangan sahabat seperti kehilangan semangat hidup.
Padahal aku akan selalu ada disana untuk mendengar.
Aku mencari namun aku kehilangan.
Kau tahu betapa sakitnya bertemu orang yang kau doakan setiap waktu namun tiba-tiba tanpa kamu sadari dia ada di sampingmu dan hanya memilih diam?
7 tahun aku menunggu hanya untuk menanyakan kabar dan mendengar ceritamu.
Terima kasih untuk 4 jam duduk tepat di sampingku.
Tapi seharusnya kau tahu juga apa mimpiku saat aku tidur.
Dalam mimpiku aku menangis. Dan aku sudah bermimpi selama 7 tahun lamanya.
***
[NEXT: The Answer]

KAMU SEDANG MEMBACA
7 Years Crying [COMPLETED]
RomanceDi bandara, aku kembali melihatmu. Namun, kau tidak melihatku. Sudah 7 tahun lamanya. Aku kembali harus belajar cara menghadapimu. Cara untuk tetap bertahan hidup.