26. permintaan sang ayah (2)

11K 1.3K 355
                                    

Jaka POV

Seminggu berlalu, Putra sudah diperbolehkan pulang sejak kemarin, urusan orang tua Mitha masih belum selesai proses perceraiannya.

Selama seminggu kami berpacaran terlihat sedikit perubahan dari Mitha yang tadinya tertutup dan ketus kini berangsur mau membuka diri kepadaku, Mitha kerap bercerita mengenai apa-apa yang menganjal hatinya.

Dirinya sering bercerita dan meminta pendapat ku sambil bersender di lenganku, lucu juga peranku sekarang ini, pengawal yang merangkap kekasih.

"Kalian berpacaran Jaka?"

"Eh?" Aku mendongak begitu mendengar pertanyaan Pak Tanto ketika aku datang menemuinya.

Wah, bagaimana ini, di tanya oleh ayahnya langsung.

Aku mengangguk pelan.

"Saya lega" Kata Pak Tanto.

"Mitha terlihat bahagia, saya senang melihatnya bisa menghadapi permasalahan yang saya hadapi. Kadang kalau di telepon, setelah Mitha bertanya seputar perkembangan proses perceraian saya, dia bercerita tentang kamu"

Aku mengusap tengkukku gugup.

Nyeritain apa nih Mith?

Bukan soal aku yang sering nyiumin kamu sampai bikin kamu tanpa sadar mendesah kan?

Aku meringis lalu mengangguk.

"Bisa saya simpulkan, Mitha banyak berubah, kamu memang bisa menjaganya dan membahagiakan dirinya, saya tidak salah menitipkan Mitha kepadamu" Lanjutnya lagi sambil tersenyum.

Gugup, awalnya aku tidak ingin sampai orang tua Mitha tahu hubungan kami, karena masih seumur jagung.

Yang ku dengar sekarang kenapa malah seperti pemberian restu.

Ck, apa yang Pak Tanto pikirkan menitipkan anak perempuannya kepada seorang pria yang mempunyai pekerjaan sebagai pengawal pribadi?

"Jadi kapan kamu mau menikahi Mitha?"

"Ha?" Pertanyaannya membuatku menelan ludah.

"Um.." Aku mengusap tengkukku gugup.

"Mitha bilang di telepon tempo hari, katanya ingin menikah dalam kondisi orang tuanya masih utuh, jadi sebelum saya resmi bercerai, lebih baik di rencanakan secepatnya" Katanya kemudian.

Ya ampun, segampang itukah?

"Pak..." Kataku.

Pak Tanto menaikkan kedua alisnya, menungguku untuk melanjutkan perkataanku.

"Saya, hubungan kami ini baru seminggu, saya rasa terlalu cepat apabila memutuskan untuk meni..."

"Jaka, saya tahu, menurut kamu mungkin belum cukup waktu untuk kalian saling mengenal, atau mungkin belum ada rasa sampai ingin memilikinya menjadi istri kamu" Katanya memotong perkataanku.

"Saya tahu, menikah itu langkah besar, harus mengetahui sifat-sifat, kekurangan maupun kelebihan pasangan, agar ke depannya tidak ada kata berpisah" Lanjutnya kemudian.

Nah, itu tau, batinku.

Berat, tanggung jawabnya bukan sekedar ngasih makan anak orang doang, tapi apakah kami berdua benar-benar cocok dan saling melengkapi?

Background orang tuaku, bercerai, dan Mitha pun hampir mempunyai background yang sama, aku sih berharap Pak Tanto dan tante Nadya tidak bercerai, tapi siapa yang bisa menjamin?

"Mitha mengagumi kamu sejak kamu mengajar dia les, Mitha sering bercerita tentang kamu setiap kali dia menelpon saya ketika saya dinas ke luar kota. Dan Mitha sering mengirimkan gambar-gambar kamu lewat email, jadi saya langsung tau begitu melihat kamu pertama kali saya menyewa jasamu dulu"

"Goresan tangannya sangat akurat mengambar profile wajah kamu" Lanjut Pak Tanto sambil terkekeh.

"Jadi kalau menurut saya, Mitha sudah menemukan pasangan hidupnya yang tepat"

"Tapi Pak" Potongku.

"Kenapa Jaka?" Tanyanya.

"Saya ini hanya berprofesi pengawal pribadi" Kataku.

Pak Tanto menatap wajahku tajam.

"So?" Tanyanya dengan kedua telapak tangannya terbuka.

Gak ngerti juga nih orang, batinku.

Jelas-jelas Mitha bukan dari keluarga menengah ke bawah, apakah dirinya sanggup apabila hidup sederhana denganku?

"Saya belum terlalu mapan untuk menghidupi anak perempuan orang Pak" Kataku akhirnya setelah memikirkan kata-kata yang tepat.

"Untuk menikah saya memang sudah ada target, tapi belum untuk saat ini, keadaan finansial saya belum cukup, mau di kasih makan apa nanti Mitha Pak?" Lanjutku lagi.

"Ck, gampang, kasih aja Mitha makan nasi sama ikan, jangan daging, Mitha gak suka daging" Jawab Pak Tanto sambil berdecak.

Nasi sama ikan tiap hari? Memangnya anakmu itu kucing Pak? Batinku lagi, sambil menggaruk-garuk rambutku bingung.

Aku menghela nafas panjang.

"Menikah itu harus menafkahi lahir dan bathin Pak" Kataku.

"Memang kamu gak mampu? Saya liat kamu pria dewasa yang sehat, pasti libido kamu tinggi"

"Astaga" Diriku tersedak mendengar perkataannya.

Pak Tanto terkekeh.

"Sudah saya tidak mau mendengar alasan kamu lagi, saya hanya ingin membahagiakan anak perempuan saya, sebelum saya dan istri saya berpisah" Katanya.

Aku menatap pria yang kulihat sangat percaya menitipkan anak perempuannya kepadaku.

"Track record kamu bagus Jaka, saya tidak salah menitipkan Mitha kepadamu" Katanya sekali lagi, dirinya tersenyum lalu berdiri dan berjalan memutari mejanya menghampiriku.

Aku langsung berdiri. Kami berdiri berhadapan.

Dirinya mengulurkan tangannya memintaku untuk berjabat tangan.

"Cepat di rencanakan secepatnya ya" Katanya sambil menepuk pundakku.

Aku hanya mengangguk.

"Baik Pak" Kataku kemudian.

°°°

Sepanjang perjalanan menuju ke kantor Mitha aku memikirkan perbincanganku dengan Pak Tanto.

Mengusap wajahku pelan dan berkali-kali menarik nafas panjang.

Aku melirik jam tanganku, sudah pukul 3 sore dan aku melewatkan jam makan siangku.

Harus buru-buru sampai di kantornya Mitha dan makan di sana.

Mobilku memasuki gerbang gedung perkantoran dan melihat Mitha yang turun dari mobil sedan berlambangkan L di depan lobby, Mitha berjalan menaiki tangga bersisian dengan seorang pria yang menempelkan tangannya di atas bokong Mitha.

Mereka berbicara terlihat akrab.

Aku mengamati mereka sampai mobilku melewati pintu lobby.

Ok, siapa pria itu gerangan?

Putra sakit di saat aku memerlukan bantuannya.

Aku menghembuskan nafas lewat mulut.

Tbc

Ulalaaa siapa gerangan pria itu ya?

Aku ngetik dengan kondisi jari tangan dingin dan berkerut karena abis keujanan brrrrr, mayanlah jadi anget ngetik2 kena layar hp 😂😂

Balasin komennya nanti yaaaa aku mamam dulu 😘💋

NB: cerita ini aku buat tdk berdasarkan pengalaman pribadi hanya melalui riset eyang Google aja, apabila ada keanehan atau kejanggalan, mohon di maklumi, cerita ini murni hanya hiburan semata

Enjoy reading yaaaa 😘💋

don't tease my bodyguardTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang