Akhirnya aku kembali melihatmu, Hugo.
Apa kabarmu, sahabat?
Apakah kau sehat?
Aku Ken. Apa kau masih ingat?
**
Baru saja aku memimpikanmu dan memikirkanmu di dalam pesawat dan kau benar-benar ada di sampingku tanpa aku sadari. Aku tahu bahwa Tuhan sedang menjawab doaku saat ini, namun sepertinya Tuhan ingin aku berdoa lebih kuat lagi. Dia belum mengijinkanku berbicara denganmu.
Aku meluap gembira saat tiketmu tertinggal dan aku tahu itu kamu. Aku sempat gugup karena aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Aku ingin segera mengejarmu tapi aku takut kau tidak mengenaliku lagi. Setelah turun dari pesawat aku bersembunyi sebentar di toilet untuk berlatih bagaimana cara menyapamu. Aku masih Ken yang dulu. Aku masih ragu. Aku bingung mencari kata-kata yang tepat untuk membuka pembicaraan. Aku berharap kau masih Hugo yang dulu aku kenal.
**
Aku menarik nafas dalam-dalam saat ingin mendekatimu.Aku berjalan namun terhenti beberapa kali. Ada spasi di antara kita. Namun, tiba-tiba badanku memaksaku berjalan mendekatimu dengan cepat.
"Apa kabar, Hugo?'' Tanyaku setelah memberikan tiket.
Aku berharap kau tersenyum karena sapaanku yang konyol lalu kita tertawa. Aku sudah berlatih di toilet tadi. Setidaknya kau paham kalau menanyakan itu cukup sulit. Namun, kau hanya diam setelah mengucapkan terimaa kasih.
Aku terpaku, memberanikan diri menatap matamu yang tidak secerah dulu. Apakah kau sakit? Aku tidak mampu mengeluarkan kalimat itu selain mengulang pertanyaan awal tadi.
Dadaku berat. Aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja, namun kau langsung membalikkan badan seakan-akan tidak mengenaliku. Aku tidak bisa mengejarmu. Aku terdiam dengan pertanyaan yang belum terjawab. Mengapa selalu seperti ini, Hugo?
Mengapa kau harus berlari? Mengapa kau harus bersembunyi? Mengapa kau harus seperti ini? Apakah kau benar-benar membenciku? Berikan aku satu alasan saja sehingga aku tidak menduga-duga. Bila kau benar-benar membenciku, maka bilang padaku maka aku akan menghilang dengan tenang.
**
Kau tahu, kau adalah orang yang sangat percaya pada setiap kemampuanku ketika aku tidak percaya dengan diriku sendiri. Kau adalah orang yang dulu selalu ada ketika aku jatuh dan lemah. Kau adalah sosok yang memiliki tempat tersendiri di masa mudaku. Kau adalah sahabatku.
Kau ingat saat orasi pemilihan Ketua BEM Fakultas dulu? Aku bisa berbicara dengan sangat lancar saat itu karena aku percaya kau selalu ada disana dan aku melihatmu di tribun menontonku. Namun sepertinya kau tidak sadar bahwa aku mencoba berkomunikasi denganmu melalui mata. Aku sempat ragu, namun aku takut kau malu karena aku gagal berorasi. Keberadaanmu saat itu yang membuatku kuat.
**
Aku berhasil! Aku ingin berbagi kebahagiaanku bersamamu. Namun kau tidak datang pada acara pelantikanku. Apa kau masih takut dengan gosip tentang kita? Tenang saja, jangan takut. Aku sudah menjelaskan pada banyak orang bahwa aku adalah sahabatmu. Bahkan saat pidato awal jabatanku, aku dengan sangat bangga menceritakan sosokmu sebagai salah satu sosok bayangan yang paling mendukungku. Di situ pula, aku mengklarifikasi soal hubungan kita. Mereka tidak peduli. Mereka orang-orang baik dan menyuruhku mengajakmu menjadi bagian dari kami. Aku menunggumu, namun kau tidak datang.
Dua bulan sudah cukup bagi kita untuk tidak saling menyapa. Aku rindu sahabatku. Jangan takut, aku tidak peduli lagi dengan rumor sampah itu. Aku pun sengaja menjadikan itu sebuah alasan untuk menjaga jarak dengamu agar aku bisa membuktikan padamu bahwa aku mampu berjuang sampai sejauh ini. Aku ingin membuatmu bangga, kawan.
**
Kau kemana?
Nomormu tidak aktif.
Kamarmu kosong.
Teman-teman yang lain juga tidak tahu keberadaanmu.
Saat itu, barulah aku menyadari bahwa teman dekatmu hanyalah aku. Maaf untuk dua bulan terakhir. Pasti kau sangat kesepian. Sekarang, aku merasakan hal yang sama.
**
Kau tiba-tiba saja menghilang. Kau tidak memberi kabar. Kau tidak ada di meja ujian. Kau membuatku khawatir.
Aku berkeliling kota Medan. Namun, nihil. Salahku, aku tidak punya nomor keluargamu bahkan orang tuamu. Aku tahu kau sangat tertutup. Bila aku tidak tahu, orang-orang lain juga tidak tahu. Hingga suatu hari, kepala asrama bilang bahwa kau sedang liburan. Aku sedikit lega mendengarnya, namun mengapa kau harus liburan di saat masa ujian? Semua dosen menanyakan kabarmu padaku, begitu pula teman-teman yang lain. Mereka kehilangan satu sosok teladan dan pintar di kelas, dan mereka semua tahu bahwa aku adalah sahabat terdekatmu. Namun, aku tiba-tiba merasa gagal menjadi seorang sahabat karena aku tidak tahu keberadaanmu.
Kau tahu? Setelah kau menghilang, setiap malam aku berdoa tentangmu dan berharap kau baik-baik saja dimanapun kau berada. Aku berdoa yang terbaik. Aku merasa begitu sedih. Dalam doaku seringkali aku hendak menangis, namun berhasil aku tahan.
**
Aku menyibukkan diri dengan jabatan baruku di kampus agar tidak terlarut bersedih karenamu. Saat itu, banyak sekali wanita yang mendekatiku. Aku ingin berdiskusi denganmu tentang siapa yang harus aku dekati karena pilihanmu bagiku selalu yang terbaik. Namun, kau tidak ada. Akhirnya, aku memilih Lora. Dia baik, pintar dan penyabar. Dia mirip denganmu, Hugo. Setiap kali berjalan dan berdiskusi dengannya, aku seringkali mengingatmu. Setidaknya rinduku sedikit terobati. Seandainya kau ada disini, Hugo. Aku ingin mengenalkan kekasihku ini.
**
Dua bulan kemudian saat semester baru dimulai kau tiba-tiba muncul dari belakang kelas saat dosen memanggilmu untuk maju ke depan. Aku sama sekali tidak menyadari keberadaamu sejak awal kelas dimulai.
Apa kabar, Hugo? Apa kau sehat?
Aku ingin sekali menanyakan itu.
Aku sebentar saja menatap wajahmu yang berdiri di depan kelas. Kau tampak begitu lelah, mata lembutmu sangat sayu dan seperti bersedih. Tanganmu mengepal kuat dan gemetar seperti sedang menahan sesuatu yang berat. Kau tidak seperti Hugo yang selalu tampak tenang dan berkharisma saat harus berdiri di depan kelas dan berbicara. Kini, kau hanya mematung terdiam di depan kelas, tidak mampu menjawab pertanyaan dosen dan tampak seperti kebingungan.
Aku menatapmu dalam. Kau tidak melihatku. Atau kau pura-pura tidak melihatku? Aku senang namun aku juga sedih. Aku tiba-tiba tertunduk. Aku tidak sanggup melihatmu lebih lama lagi. Aku tidak ingin menangis.
**
Kelas usai, aku langsung bergegas ingin mendekatimu yang duduk di pojok belakang kelas namun kau sudah tidak ada disana. Aku langsung berjalan cepat mengejarmu dari pintu belakang namun kau sudah tidak tampak.
Aku mencarimu dan kau tidak ada. Di kelas berikutnya pun kau datang telat dan sudah keluar sebelum kelas usai. Aku tidak sanggup mengejarmu.
Hugo, Apa kabarmu? Kau kenapa?
Malamnya aku sengaja menunggu di depan kamar asramamu. Kau tidak pulang hingga dini hari. Apakah kau tidak tahu bahwa aku tidur di lobi hingga pagi hari menunggu keberadaanmu? Besoknya aku datang lebih awal. Siang hari, setelah makan siang namun kamarmu sudah kosong. Kata teman-teman sebelah kamarmu, kau sudah pindah pagi hari. Tidak ada yang tahu kau pindah kemana.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku menangisimu. Aku berdoa namun dalam kondisi yang kacau. Doaku hanya penuh tanda tanya tanpa jawaban.
Aku meminta Lora datang ke kamarku malam itu untuk menemaniku. Pada malam itu, untuk pertama kalinya aku menciumi Lora dari bibir hingga seluruh tubuhnya. Dalam pasrahnya, aku seakan melihatmu bergairah. Dalam desahnya, aku seakan memelukmu erat. Dalam setiap hembus nafasnya, aku seakan begitu kuat ingin menjagamu. Dalam setiap hentakan tubuhnya, aku merasakan semangat mudamu yang selalu membara. Dalam tatapan matanya, aku melihat kebersamaan hangat kita, kawan.
Aku melihat wajahmu dalam sosok Lora. Malam itu, Lora adalah perantara rinduku padamu.
Aku tidak ingin meragu. Aku ternyata benar-benar menyayangimu.
***
[BASTARDOX: 040218]

KAMU SEDANG MEMBACA
7 Years Crying [COMPLETED]
RomanceDi bandara, aku kembali melihatmu. Namun, kau tidak melihatku. Sudah 7 tahun lamanya. Aku kembali harus belajar cara menghadapimu. Cara untuk tetap bertahan hidup.