Why?

89 5 4
                                    

JUNGKOOK P.O.V

Saat berangkat ke sekolah aku kembali melangkahkan kaki ku di depan rumah itu. Kutatap jendela besar di lantai dua dengan tirai berwarna abu abu, aku coba menerawang apa yang terjadi dibalik jendela besar itu. Semua pertanyaan yang muncul dipikiranku seakan berteriak haus akan jawaban pasti tentang apa yg sebenarnya terjadi hari itu.

"Apa kabarnya saat ini? Semoga ia baik baik saja" ucapku dalam hati, dan kembali melanjutkan perjalananku.

•••••••

"Jeon Jungkook! Ada apa denganmu hari ini?! Fokuslah! Kalau seperti ini bagaimana kau bisa menang?!"

Suara pelatih Choi sangat menggema di ruangan ini. Dari atas podium ia terus saja berkata "Jeon Jungkook, kalau seperti itu air itu akan menelanmu" dan lain sebagainya.

Sebentar lagi pekan olahraga nasional tingkat Sekolah Menengah akan segera dimulai. Dan akulah salah satu murid yang dikirim untuk mewakili sekolah ini di cabang olahraga renang.

Seharusnya aku sudah tidak ikut lagi dan berfokus pada ujian akhirku, tetapi pelatih Choi sangat mengharapkan diriku bisa menyumbangkan sebuah medali emas untuk sekolah. Sebagai kenang kenangan terakhir katanya, sebelum aku lulus.

Aku mengerahkan semua tenagaku untuk memberikan yang terbaik dalam perlombaan kali ini. Seperti tahun sebelumnya aku harap medali emas bukanlah hal yang tabu untuk aku bawa pulang.

"Cukup latihanmu hari ini jungkook-sshi, jagalah kesehatanmu, aku sangat mengandalkanmu."

Itulah yang pelatih Choi katakan seusai latihan. Kalimat sederhana namun cukup membuatku sedikit terbebani. Seperti seakan seorang Panglima Perang memberikan sebuah tanggung jawab kepadaku untuk memimpin sebuah pertempuran, disaat yang aku tau hanyalah baris berbaris bukan mengokang senjata.

Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil membungkuk sebagai wujud dari rasa hormatku padanya. Biar bagaimana pun kerasnya, pelatih Choi adalah orang yang berjasa dalam hidupku.

•••••••••

Seusai latihan aku putuskan untuk pergi kesebuah kedai ramen di dekat rumah. Sebenarnya dulu aku sangat suka kesana, tetapi semenjak aku tahu "gadis dengan tatapan maut" (Lee Soojung) itu ternyata sering kesana juga aku jadi jarang untuk makan disana. Biasanya aku akan membelinya menggunakan jasa pesan antar, ataupun menyuruh adikku untuk membelikannya untukku.

Sudah lama sekali aku tidak duduk dibalik kaca yang dibuat dengan teknik penkristalan ini, Sehingga tidak tembus pandang. jadi aku tidak perlu khawatir orang-orang di luar kedai ini akan melihat tampang ku ketika sedang makan, yang menurtku kurang menarik.

"Aku pesan, Kimchi Ramyeon Spesial 1" kataku kepada seorang pelayan, sambil menunjukan senyuman termanis yang kupunya.

Tetapi senyum itu tidak bertahan lama, karena sedetik kemudian pintu itu terbuka dan aku melihat gadis itu disana.

"Ooh tidak.. Selera makanku kumohon bertahanlah."  Ucapku dalam hati sembari menutup mataku dan mengelus perutku yang lapar.

•••••••

SOOJUNG P.O.V

Berdiam diri di rumah seharian membuatku bosan. Si Manusia Es itupun tidak datang. Kemarin ia hanya muncul untuk berceramah, dan kemudian pergi sambil mengatakan "jangan membuatku khawatir lee soojung."

Persetan dengan semua kata katanya kemarin. Buktinya sekarang ia tidak datang untuk menjenguk atau menghiburku, sama saja dengan si Michara yang menelponku sepanjang jam istirahat sambil bertanya tentang terapisku Kim Seokjin, dan bukannya diriku. Dia terus saja bertanya "apa kau bertemu terapismu? Apakah dia masih sendiri sampai sekarang? Sampaikan salamku padanya Soojung." 

Aku harap si Seokjin itu sudah hilang di didalam hutan aokigahara Jepang. Dia tersesat dan mengikuti suara suara dari para roh penunggu hutan. Aku tidak mengerti mengapa ia banyak menghabiskan waktunya di Jepang. Bahkan ketika dia di Korea, dia seperti orang yang menumpang buang air kecil di toilet umum, tidak lebih dari 10 menit.

Karena memikirkan itu semua aku jadi kesal dan suntuk seharian. Tiba tiba aku berpikir untuk pergi makan ramyeon yang di persimpangan jalan dekat rumahku. "Mungkin moodku bisa jadi lebih baik setelah makan ramyeon." Pikirku polos.

Akupun pergi mengendap ngendap, berharap paman Jang tidak memergoki ku pergi dari rumah. Paman Jang adalah abdi yang sangat setia dengan keluargaku. Bahkan anak dan isterinya pun sudah menganggapku seperti keluarganya sendiri. Kalau ia sampai tau, aku harus siap dibacakan kitab undang undang keluarga Lee. Yang bahkan sampai sekarang aku tidak mengerti, mengapa kakekku bisa sampai kepikiran membuat itu. Ditambah lagi kemarin tiba tiba aku pingsan karna bayangan aneh itu. Bisa berkali kali lipat ocehan yang kudapat.

Aku pun akhirnya berhasil "melarikan diri" dan sampai di kedai ramyeon ini. Aku masuk dan pelayan kedai itu menyapaku dengan ramah, kalau ada pemiliknya, mereka bisa menyiapkan karpet merah bahkan untuk diriku. Hahaha sedikit berlebihan, tapii yaa seperti itulah kurang lebih mereka akan menyambutku.

"Aigoo agasshi, kemana saja selama inii? Sudah satu minggu ini kau tidak mampir." Tanya Ibu pelayan kedai ini. Tidak usah bingung kenapa ia sangatlah ramah kepadaku. Karena hampir setiap 3x dalam seminggu aku pasti mampir di kedai ini.

"Aku sibuk ahjumma, belakangan ini mempersiapkan ujian akhir ku." Jawabku ramah sambil menunjukan eyesmile ku. Tetapi senyum itu berhenti ketika aku melihat sosok laki laki yang sedang merapalkan mantra sambil memegangi perutnya dengan poni yang menutupi dahinya di meja dekat jendela kedai ini..

"Apa yang dilakukan si pesut itu disini." Cerca ku dalam hati.

Kenapa aku harus bertemu dengannya? Tidak bisakah sekali saja aku bertemu dengan Baekhyun ataupun Suho EXO.

"Selera makanku kumohon bertahanlah." Bisikku dalam hati.

The Moon and The StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang