PG 39 # jujur

702 129 53
                                    

Salju mengguyur malam ini, aku menengok jendela mobil, kami menuju perjalanan pulang, setelah beberapa saat aku dan myungsoo berbincang di cafe. Setelah kami masuk ke mobil, dan hujan salju menerpa, entah mengapa aku merasa kami saling menarik diri. Aku mencoba mencari topik, tapi masih buntu, dan myungsoo terlihat sedang sangat konsentrasi dalam menyetirnya.

Ah, asa yang harus aku tanya padanya, kalau tidak bertanya Sekarang, aku akan meledak. "Myungsoo." panggil ku tenang.

"Hmm? " jawabnya tanpa teralihkan.

"Hmm, " bagaimana ini... Hmm... "Myungsoo, bagaimana kalau nanti, ingetan ku kembali, dan, aku...." itu artinya, saat aku kembali. Kekenyataan!

"Memang mengapa? Bukannya kau sudah mengingatnya sedikit-sedikit?"

Bukan itu tepatnya!

"Hanya sedikit, bagaimana kalau sepenuhnya, aku sadar" kataku sangat amat pelan di akhir kalimat. Semoga dia tidak mendengar

"hmm, tidak apa-apa, kau akan tetap kau."

Hmm.. Bagaimana kalau aku jujur saja.

"Myungsoo... "

"Iya? " dia beralih dari jalanan dan menatapku.

"Aku mau... Jujur."

"Jujur? " dia menegang di tempat duduknya, dan menatapku penuh curiga. Membuatku menggigil di buatnya.

"Hmm, soal ingatan. " aku memandang matanya, dan dia terkerjap. "Bisa menepi? "

Aku harus siap, dia harus tahu.

"Baiklah." dia menepikan mobilnya dibahu jalan, untung lah ini jalan sepi, jadi tak akan ada yang menanggap kami karena melanggar aturan.

"Bicaralah" suruhnya dan aku mengangguk

"Kau tahu, di pagi itu, saat aku terbangun, itu dimana pertama kali aku melihatmu. "

Alisnya terangkat sangat tinggi, tapi berubah menjadi kerutan dalam, dan itu tanda dia tidak paham.

Aku narik nafas dalam dan beralih pandang kedepan, tak siap rasanya untuk menatapnya.

"kita sama-sama yakin, bawa aku, waktu itu hilang ingatan, tapi sebenarnya tidak, boleh kau percaya atau tidak, aku seakan melewati dimensi Waktu, seperti teleportasi ke masa depan, sepert-"

Tawa menggelegar berasal dari myungsoo, membuat ku langsung menatapnya, dan dia tengah tertawa, dengan kepala menengadah ke atas dan sebelah tangannya memegang perutnya, yah dia fikir aku sedang melucu atau apa?

Ku tunggu tawanya berhenti, dengan wajah ku biarkan sedatar mungkin. Tapi tawanya tak kunjung berhenti, dan terpaksa aku memukul lengannya, tapi itu tak berhasil.

"Myungsoo, kyaaa!!" aku melipat tangan didada dan menatap kembali jendela dengan salju semakin tebal.

Tiba-tiba tawa myungsoo berhenti, dan membuatku beralih pandang. Terkejut saat ku lihat dia tengah menatap lantai mobil, dengan pandangan menerawang.

"Myungsoo? "

Ku dengar helaan nafas dari bibirnya, dan dia menatapku tak yakin.

"Apa maksudmu? " dia bertanya dengan nada sangat pelan

"Aku... " diam, cari Kata-kata yang tepat, dan jangan buat nanti dirimu menyesal "Myungsoo, itu, saat aku bangun, dimana sehari sebelumnya, aku, dan kakak ku bertengkar, dimana aku meminta bahwa aku ingin dewasa. Dan itu jadi nyata , Konyol memang, tapi itu kenyataannya."

Magic CupcakesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang