"Kalau ku ibaratkan.. Ia bagaikan bintang yang berhamburan di langit luas..
memenuhi langit malam yang sulit kau tebak..
Bintang yang tidak pernah berubah..
Hanya saja disuatu malam ia akan muncul dan di malam berikutnya ia akan hilang..
Lalu.. Baga...
Jungkook terkejut dengan reaksi Soojung yang tiba tiba memegang dahinya juga menyentuh wajahnya dan menepuk pipinya pelan. Dia pikir kini Soojung telah membalikan keadaan. "Apa ia sadar apa yang ia lakukan" gumam Jungkook dalam hati.
Ia masih memandangi punggung Soojung yang berlalu meninggalkannya. Baru ia akan melangkah untuk menyusul gadis itu, sebuah tangan menahan dirinya. Yoojin.. ya.. gadis itu masih disana.
"Apa gadis itu benar benar sudah menggantikan posisiku Kookie-ah?" Tanya Yoojin tiba tiba.
Jungkook menarik pergelangan tangannya dan menatap Yoojin dingin.
"Kalau iya kenapa? Itu bukanlah urusanmu." Jawab Jungkook ketus sebelum ia berbalik untuk menyusul Soojung.
Yoojin menghela nafas dan menarik sedikit ujung bibirnya sebelum ia kembali bersuara..
"Hmm.. benarkah? Tetapi aku sepertinya tidak yakin.." sanggah Yoojin sambil menyunggingkan senyum jahat diwajahnya.
Jungkook yang hendak pergi meninggalkan Yoojin kembali berhenti dan membalikan badannya menghadap gadis itu. Wajahnya masih tenang, walau terlihat sedikit urat di lehernya menegang.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Jungkook tanpa sedikitpun ekspresi manis tergambar di wajahnya.
"Bukan apa apa.." jawab Yoojin singkat.
Jungkook memutar matanya kesal, dan berbalik meninggalkan Yoojin.
"Tenang saja, aku hanya akan mengetest sedikit gadis itu?"
Jungkook menghentikan langkahnya tanpa menoleh, dapat ia lihat bayangan Yoojin dari sudut matanya.
"Jangan kau sentuh dia, apalagi sampai kau libatkan ia dalam masalah ini. Karena aku tidak menjamin bahwa dirimu akan baik baik saja."
"Aahh.. dan satu hal lagi.. namaku Jungkook bukan Kookie."
Jungkook pun pergi meninggalkan Yoojin tanpa sedikitpun menoleh lagi padanya.
••••••••••••••••••
JUNGKOOK P.O.V
Aku pergi meninggalkan Yoojin sendirian, hatiku masih sakit saat melihat wajahnya. Ingin aku berteriak di wajahnya ketika ia menanyakan perihal Soojung yang menggantikan posisinya. Aku masih cukup waras untuk menjadikan Soojung seorang pengganti Yoojin.
Aku masih ingin hidup lebih lama dalam kedamaian dari pada harus berurusan dengan wanita pemarah itu. Lagi pula aku melakukan semua hal manis dihadapannya hanya karna ingin menunjukan pada Yoojin bahwa aku kini baik baik saja tanpanya.
Munafik memang.. aku harus akui, perasaan tulusku kepada Yoojin waktu itu tidaklah main main. Dialah yang pertama yang berhasil menguasai hati dan pikiranku.
Namun aku juga tidak tahu mengapa belakangan ini Si cerewet Soojung itu mulai memenuhi kepalaku. Apakah karena.. ah aku tidak ingin ingat kejadian sore itu.
Sepanjang perjalanan hanya ku habiskan dengan menatap jalanan, dan kelopak bunga cherry blossom yang berserakan karena tertiup angin. Aku sampai di depan rumah sakit di daerah gangnam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.