Bagaimana jika keserakahan membawa petaka? jisoo dan rose terjebak di dalam sebuah game vr simulasi dunia para idol dibuat. dan penciptanya juga ikut dikurung ke dalam game buatan nya, tubuh nya terjebak di dunia nyata sedangkan pikiran berada dalam...
Aku segera kembali ke tempat duduk ku, menyilangkan kedua tangan ku dan hanya menatap kosong ke arah jalan.
.
Normal POV
Kami pun sampai di Sandest setelah beberapa jam di perjalanan. Dan sesampainya disana langit telah berubah menjadi gelap. Melihat jennie yang tertidur di kursi nya dengan sangat lelap. Aku memutuskan memarkirkan van ku di sebuah area kosong di pinggir sungai. Tempat indah disisi kota Sandest dengan hamparan langit yang dipenuhi bintang dapat terlihat dari sini.
"Another Side of Virtual Idols.. tak kusangka langitnya begitu indah." Aku berbaring di atas atap van sambil menatap ribuan bintang di langit kota Sandest.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak lama seseorang menghampiriku dan duduk tepat di sebelahku. Siapa lagi kalau bukan jennie.
Cukup lama ia duduk di sebelah ku tanpa sepatah kata pun. Apa ia marah karna mengalihkan pembicaraan? Aku mulai mendekatkan tanganku dan ingin meraih tangan jennie yang di letakkan di belakang pinggang nya untuk menumpu tubuhnya itu.
Tidak jadi
Kuurungkan niatku dan mencoba memulai pembicaraan.
"jen?" tidak ada jawaban
"Jen? A-apa kau marah kepadaku?" dengan hati hati aku bertanya kepada gadis yang ada di sebelahku itu.
Masih tidak ada jawaban. Kurasa ia benar-benar marah.
Aku bangun dari posisi tidur ku dan kini duduk di sebelahnya. Dengan suasana yang masih hening. Tanpa aba-aba jennie menyandarkan kepalanya di bahu ku.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jen?" aku terus memanggil namanya,dan akhirnya ia menjawab
"diamlah lis,aku sedang menikmati taburan bintang di langit.. sangat indah ya?" jennie tersenyum sambil melihat hamparan bintang di langit. Aku menatap wajah nya yang sangat manis itu tanpa memikirkan apakah ia masih marah atau tidak.
"did u know jen? I love the stars. Coz they can't say anything. I love the stars. Coz they don't judge anyone. Dan kurasa kau tahu kalau bintang bersinar sangat terang dalam kegelapan?"aku terdiam sejenak dan menatap langit
"Bintang terlihat seperti dirimu. Kau selalu ada disaat aku berada di ujung batas ku, disaat aku dalam kegelapan hanya kau yang mampu menuntunku. Terkadang kau seperti adik yang sangat lucu,dan terkadang kau seperti ibu yang sangat memperhatikanku dan memarahiku saat salah. Kau seperti bintang yang sangat cantik yang hanya bisa kulihat dari jauh,setiap aku melihat dirimu. Aku selalu melihat jarak lebar yang sangat sulit kuraih"
Suasanya semakin hening. Jennie ikut buka suara
"Kurasa kau lebih terlihat seperti matahari lis. Dengan senyummu, kau datang kepadaku memberikan ku cahaya sehingga aku dapat bersinar seperti sekarang. Kau tahu? Kau tak perlu melihat ku dari jauh, karna kau akan berada dilangit yang sama denganku. Berada di sampingku, meskipun kau berada di siang dan aku malam. Aku akan selalu disampingmu, mendukungmu dan melengkapi hari mu di saat malam tiba." Kami saling tatap, jennie tersenyum simpul dan kubalas juga dengan senyumanku. Perasaan ini berbeda dengan perasaan ku dengan rose. Perasaan ku kepada jennie begitu lembut, aku merasa ingin selalu berada di dekatnya. Menjaganya, dan selalu menggenggam tangannya.
Tanpa sadar tangan jennie telah berada diatas tanganku. Dan kami menghabiskan malam diatas atap van dengan menatap langit dan berpegangan tangan.
*
*
Kami terbangun dengan posisi berbaring diatas atap van. Jennie berada dalam pelukanku dengan masih tertidur. Kulihat wajah nya saat tidur,dia sangat cantik dan polos. Entah mengapa ia akan sangat berbeda saat sadar. Terkadang ia akan sangat galak,dan terkadang akan sangat manis. Kurasa akan mabuk dengan pesonanya.
"Morning my stars" dengan senyum lembut kutatap matanya yang baru terbuka itu dan dengan posisi ingin melepaskan pelukan kami
"hmm.. morning my sun" ia membalas ku dengan sunyuman nya yang memabukkan
"peluk aku lagi lis,aku menyukainya" dengan nada manja, jennie langsung menarikku ke pelukannya(lagi)
"hei,hei, kau akan tetap memelukku kan walaupun aku menolak? Dasar jendeukki,kenapa kau begitu manja akhir-akhir ini huh?" tanya ku lembut dan membalas pelukannya. Menariknya dalam dekapanku. Jennie membalasnya dengan anggukkan
"aku merindukanmu limariooo, aku merindukan limario ku"
"ohhh..Jadi kau merindukan limario? Bukan aku?" jennie menggeleng pelan
"hmm..hmm, kau limario ku, dan akan tetap begitu. Walaupun kau menjadi begitu cantik sekarang, dan namamu adalah lisa. Kau tetap akan menjadi limario ku"
"Manisnya jendeukki kuuu, tapi mau sampai kapan kau memelukku? Kau lihat matahari itu? Sudah cukup tinggi. Dan ini hari terakhir kita jenn"
"Aku tidak melihat matahari lain selain dirimu lim, kau matahariku"
"hei berhentilah menggodaku, kalau kau terus menggodaku kita tidak akan bisa ikut audisi besok.. karena akan terus berpelukan disini seharian"
"hehehe kau benar" akhirnya kami melepaskan pelukan kami dan aku pun beranjak dari atap van.
"bolehkan kalau aku memanggilmu limario saja? Aku lebih menyukainya"
"for ur pleasure princess" kata ku seraya mempraktekkan gaya ala pengawal kerajaan yang menyambut tuan putri turun dari atas kereta kuda (padahal turun dari van). Sedangkan jennie berusaha turun dari van dengan turut memainkan peran nya sebagai tuan putri dan meraih lengan ku sambil terkekeh.
*
*
TBC
Maap maap baru bisa up lagi, dikarnakan liburan yang udah kelar. Gue jadi banyak tugas,project ilmiah dll. So, for the next chapter gak tau kapan kekekekek maafken buat cerita yang ngalor ngidul dan pairing yang gak jelas ini huhuhu :'3