Kisah Pertamaku : Pedih

10 1 0
                                    

Sesuai dengan umurku, harusnya aku sadar. Ini cinta monyet. Bukanlah asli yang sungguh-sungguh penuh komitmen seperti yang orang tua kita lakukan. Tapi sejak kecil, entah mengapa menurutku komitmen itu penting.

Aku betul-betul mempersiapkan semuanya dengan baik. 

Hari itu adalah hari dimana aku harus memulai pergi keluar selain ke sekolah bersamanya. Hanya untuk menonton pertandingan futsal. Tapi aku yang masih SD kala itu, nekat membawa kamera dslr. Hanya untuk memfoto doi ku. Untung papaku enggak tau alasan ini. 

Begitu senangnya aku mengambil gambar dirinya. Aku lihat pesonanya begitu terpancar jelas. Sampai-sampai aku ingin mencetak fotonya, memberikan padanya, hanya untuk membagi atau sekedar meyakinkan seperti ini, "tuh kamu manis kan". 

Entah mengapa, mungkin karena baru pertama, aku sangat melayang dibuatnya. Entah karena kata-kata atau perlakuannya. Tapi yang pasti aku tidak bisa melupakan dia barang sedetik saja. Padahal, kami tidak pernah berkenalan satu sama lain seperti pada umumnya.

Tapi, kebahagiaanku yang semacam ini tidak berlangsung lama. 

Benar saja, kami bisa pacaran tanpa butuh proses. Lha wong dia memang mudah membaur dengan orang lain dengan cepat.

Benar saja, kami bisa tiba-tiba jadian. Lha wong dia memang punya banyak gebetan. 

Siapa yang tidak heran, dia pdkt dengan teman sekelasku yang sedang menyamar. Aku heran sama dia, kok bisa mau-maunya pdkt dengan dia. Padahal Chacha itu khayalan. Mereka tidak akan pernah bertemu tapi bisa tertarik. Kan aneh?

Sudahlah, yang seperti itu tinggalkan saja. Sudah aneh dari awal.

3 Maret 2018.

Aku mengalaminya lagi. Harusnya aku kini belajar dari kesalahanku saat sd. Aku mengulanginya lagi. Tidak akan kulakukan lagi. Aku akan kembali pada mimpiku, mengejar Ruby.

Cinta yang SalahWhere stories live. Discover now