22. Kecewanya Veranda

1.7K 214 27
                                    

Veranda langsung berlari masuk kedalam rumah mewah milik keluarga Shania setelah memarkirkan asal mobilnya dihalaman.

Raut wajah panik,cemas,kesal bercampur menjadi satu. Banyak pertanyaan mengedor hatinya tentang Shania yang tak pernah bercerita tentang masalah yang dia hadapi seorang diri.

"Shania mana bi ?" tanya Veranda pada asisten rumah tangga keluarga Shania.

Sang ART terlihat gugup menjawab. Dia hanya menundukkan kepala menghindari pertanyaan teman majikannya tersebut.

"a-nu non..."

"SHANIA MANA !"

ART itu sempat kaget mendengar bentakkan dari Veranda. Dengan ragu sang ART hanya menujuk kelantai atas, lebih tepatnya kearah kamar Shania dengan dagunya.

Veranda langsung berlari menuju arah yang dimaksud dengan mudah. Dia bukanlah orang asing yang baru pertama kali mengunjungi rumah yang tak kalah besar dengan rumahnya sendiri, Veranda adalah orang yang sudah dianggap keluarga sendiri dikeluarga ini sehingga dia sudah ingat dimana letak pembelokan menuju kamar mandi, kemana arah menuju dapur, kemana arah yang menuju halaman belakang rumah.

Cklek

Cklek

Veranda memutar berulang-ulang knop pintu kamar Shania yang sepertinya sengaja dikunci dari dalam oleh Shania sendiri.

"Shan buka Shan ! Gue yakin lo didalam, gue mohon buka ! Ini gue Veranda"

Brak

Brak

Brak

"Shania keluar. Gue mau denger dari lo langsung tentang berita yang beredar Shan. Plis Shan buka, ini gue Veranda sahabat lo"

Veranda terus menggedor pintu tersebut berkali-kali sambil sesekali mencoba memutar knop pintu berulang-ulang berharap Shania keluar dari kamarnya dengan wajah tengil yang terkadang membuatnya kesal.

10 menit tak ada pergerakkan dari dalam membuat Veranda semakin panik. Tak ada cara lain selain membuka paksa dari luar.

"Bi ! Panggil satpam !!" seru Veranda yang langsung dituruti pembantu keluarga Shania.

Tak butuh waktu lama, 2 orang berpakaian satpam yang memiliki badan cukup besar sudah datang dan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak paksa pintu.

Brak !

Percobaan pertama tak berhasil.

Brak !

Begitu juga percobaan ke dua.

Brak !

Brak !

Brak !

Hingga percobaan kedelapan belum membuahkan hasil membuat Veranda semakin kalut.

"Bi, kamar Shania gak ada kunci duplikatnya ?"

"cuman kamar non Shania yang gak ada kunci salinannya"

Bahu Veranda merosot mendengar jawaban yang tak ingin dia dengar dari pembantu itu.

"pak, itu coba sekali lagi mana tau udah bisa" pinta Veranda memohon pada 2 satpam yang tampak meringgis kesakitan memegangi bahu yang digunakan untuk mendobrak pintu.

Melihat raut kecemasan diwajah Veranda membuat kedua satpam itu sedikit kasihan. Karena bagaimanapun, yang berada didalam kamar ini adalah anak dari orang yang memberi mereka penghasilan dan sebagai orang yang bertugas melindungi rumah dan keluarga ,sudah seharusnya mereka berusaha sekuat mungkin untuk menolong putri majikan mereka.

Veranda Dan NaomiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang