2 : Anak Baru

149 3 0
                                    

Aletha melangkahkan kakinya memasuki area sekolah barunya. SMA Garuda, salah satu sekolah menengah atas yang terkenal di Jakarta. Selain mendapat akreditasi A, sekolah ini juga menjadi incaran banyak orang karena yang bisa sekolah di sana hanyalah orang - orang yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi saja. Dan Aletha merupakan salah satu diantaranya.

"Hai cantik,"

"Wihhh ada bidadari nyasar nih di sekolah kita,"

"Siapa sih dia, kok gue baru liat ya?"

"Amboi - amboi, cantik nian gadis ini."

Masih banyak lagi pujian dan sapaan yang Aletha terima disepanjang perjalanan menuju ruang guru untuk menemui wali kelasnya yang ia balas dengan seulas senyuman ramah. Amat cantik dan manis, semua orang yang menatapnya terkagum - kagum.

Brukkkk

Aletha terjatuh ke lantai, bagaimanapun juga tubuh mungilnya tak mampun menjaga keseimbangan saat ia bertabrakan dengan sosok laki - laki tegap dan kekar yang tiba - tiba saja muncul dari dalam ruangan yang bertuliskan XII MIPA 1 di atas pintu. Laki - laki itu memandangi Aletha yang sedang terduduk menahan rasa sakit yang ia rasakan.

"Lo kalo jalan tuh mata dipake! Jangan buat tebar pesona mulu lo!" Lontarnya.

Aletha mendongak untuk melihat siapa yang berani - beraninya mengatakan bahwa dirinya sedang tebar pesona kepada siswa laki - laki di sekolah ini.

"Kamu?!"

"Lo?!"

Kata itu terucap bersamaan saat mereka saling bertatap muka. Mata mereka terbelalak lebar - lebar. Mereka sama - sama terdiam mematung. Sepertinya mereka berdua pernah bertemu.

"Sebelumnya aku minta maaf karena aku sudah buat kamu marah, aku memang kurang hati - hati. Dan untuk tuduhan kamu tadi kalau aku tebar pesona, itu salah. Aku sama sekali nggak tebar pesona." Tuturnya sopan kepada laki - laki di hadapannya ini.

"Bodo amat." Ucapnya datar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah ayu Aletha. Lalu ia berjalan meninggalkan gadis itu tanpa menoleh sedikitpun.

Tringngngng...

Bel pertanda pelajaran akan segera dimulai sudah dibunyikan. Aletha segera melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru dengan langkah tergesa - gesa hingga, BRUKKKK! Ia lagi - lagi bertabrakan dengan sesuatu atau seseorang sampai ia terjerembab di lantai.

"Aduh.." erangan itu terdengar jelas di telinga Aletha. Orang itu juga terjatuh.

"Lo kenapa lari - lari?" tanya laki - laki tampan itu seraya bangkit berdiri.

Aletha masih terduduk menundukkan kepalanya, ini kali kedua ia menabrak seseorang. Dalam hatinya ia merasa takut kalau laki - laki yang ia tabrak akan sama seperti laki - laki yang tadi ia temui. Ketus.

"Hei? Kenapa bengong? Lo nggak papa kan?" tanyanya lagi membuat lamunan Aletha membuyar. Dia mengulurkan tangannya pada gadis itu.

Dengan wajah yang serasa terbakar, Aletha menerima uluran tangan itu dan segera ia berdiri, "Ma-maaf aku harus pergi. Permisi."

"Hati - hati lo, jangan sampai nabrak lagi." Pekiknya.

Mendengar itu, Aletha menoleh sejenak ke arah laki - laki tadi. Ia tersenyum malu. Dirinya benar - benar ceroboh. Bagaimana bisa seorang Aletha menabrak dua laki - laki tampan dalam waktu satu jam? Ah sudahlah, lupakan itu. Sekarang yang terpenting adalah ia harus menemui wali kelasnya terlebih dahulu.

***

"Selamat pagi anak - anak."


Ruangan yang tadinya sangat ramai kini sunyi seketika saat Bu Sisi--wali kelas mereka memasuki ruangan diikuti seorang gadis mungil yang berjalan di belakangnya.

ALETHATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang