Alia berdiri di pinggir balkon.
Memandang Brilian yang mengusap peluhnya dan berjalan ke pinggir lapangan.
Alia menghembuskan napas lega tanpa sadar.
Dari kejauhan tampak Pak Gunawan datang dengan ekspresi marah sambil menunjuk-nunjuk kearah Brilian.
Alia mengerutkan dahi.
Dia berlari ke tangga, ingin tahu apa yang terjadi.
Saat ia sampai di bawah, Brilian sudah di tarik dengan kasar oleh Pak Gunawan hingga seragam Brilian robek tersangkut paku, dan lengannya berdarah.
Brilian sempat meringis. Pak Gunawan juga sempat menatapnya. Tapi seolah itu hal biasa, dan beliau tak mau tahu. Pak Gunawan tetap menarik Brilian, dan Brilian pun diam saja.
Alia tidak tahan diam saja. Darah dari lengan Brilian terus keluar, tapi Pak Gunawan malah membawa brilian ke arah Toilet Pria di lantai satu. Sama sekali tak sejalan dengan UKS.
Alia berlari menghalangi langkah mereka. Pak Gunawan sepertinya marah karena di ganggu.
"Kamu mau apa?" Tanya Pak Gunawan.
"Saya mau tolong teman saya pak." Jawab Alia sopan.
"Maksud kamu apa. Sudah jangan ikut campur. Cepat pulang."
"Tangan Brilian berdarah Pak. Perlu di obati." Gumam Alia kembali menghalangi jalan.
Siswa siswi lain hanya memperhatikan, tak berani turut campur.
"Saya bilang jangan ikut campur. Atau kamu juga mau saya hukum?"
"Kenapa saya harus di hukum karena menolong teman saya."
"Tahu apa kamu?"
"Saya tahu Brilian salah. Dan dia sudah di hukum sepanjang hari untuk kesalahannya. Tidak masalah jika dia memang masih harus di hukum. Tapi tidak dengan membiarkannya terluka seperti itu."
"Sudah saya bilang jangan ikut campur!" Pak Gunawan membentak Alia, dan tangannya sudah setengah jalan untuk menampar Alia. Tapi Beliau urungkan sendiri.
Alia yang sempat menutup matanya takut, kini kembali mengumpulkan keberaniaannya.Sekali lagi dia menghalangi langkah Pak Gunawan dan Brilian.
"Tolong dengarkan saya Pak, ini tidak adil untuk Brilian. Bapak sudah membuat dia terluka seperti itu, bukan hanya harus mengizikan dia mengobati lukanya. Bapak juga seharusnya meminta maaf. kenapa bapak masih menarik dia dengan kasar seperti itu?"
"Kamu benar-benar tidak tahu sopan santun ya. Saya bilang minggir!" Bentak Pak Gunawan sambil mendorong tubuh Alia dengan kedua tangannya. Hingga punggung Alia menabrak dinding dengan keras.
Alia meringis kesakitan.
Brilian mendekat kearah Alia, berniat mengecek keadaan Alia. Tapi Pak Gunawan menahannya dengan mencekal lengannya yang terluka.
Brilian membalik kan badannya.
"Hukuman kamu belum selesai" Ujar pak Gunawan sengit.
Brilian tersenyum meremehkan dan menghempaskan tangan Pak Gunawan kasar.
"Berani sekali kamu kurang ajar kepada saya."
"Iya, saya berani. Kenapa saya harus takut kepada orang yang tidak tahu cara menghargai perempuan." Bentak Brilian marah.
"Dasar murid tidak tahu sopan santun." Ujar Pak Gunawan sambil menampar pipi Brilian. Seolah belum puas Pak Gunawan mencengkeram kerah seragam Brilian.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lalaland-nya Brilian
Teen FictionA: Aku Jahat. Ku abaikan hati yang datang dengan jutaan kasih dan ketulusan. B: Biarkan ribuan rahasia tersimpan dalam sebuah diam. C: Cara saya datang dan menetap adalah sebuah hal, yakni ketulusan. Dan bagaimana saya datang, itu karena sebuah tata...