Senin, lagi! Datang kerja lagi, berjubel lagi, macet lagi, panas lagi. Siklus itu terus silih berganti entah berhenti dimana. Sekolah atau kuliah ada masa tenggat waktunya, tapi kalau bekerja mungkin bisa seumur hidup. Yaa, kalau kamu nyaman di tempat kerja. Mau pindah ke kantor lain pun sama, siklus itu tetap ada.
Pagi di musim panas, pasca enam bulan setelah kepergian Bu Nindy, masih biasa-biasa saja. Pemandangan karyawan centil makin banyak, bahkan bukan cuma perempuan saja, laki-laki setengah matang pun ikut centil. Penyebab kencentilan mereka, siapa lagi kalau bukan Gilang.
Setiap pagi di meja Gilang ada kopi, teh, roti, makanan oleh-oleh, pokoknya penuh. Sapaan "selamat pagi" dan senyum saling bersahutan jika Gilang melintas di meja-meja para staff.
Tiba diruanganya, Gilang terkejut mendapati meja dipenuhi makanan, minuman, bahkan bunga. Makin hari, nampaknya Gilang agak risih dengan kelakuan para pencari muka di kantor.
"Riin, rini......!" teriak Gilang dari dalam ruangan.
"Iyah Pak, sebentar" Rini bergegas memakai alas kaki lalu setengah berlari ke ruangan Gilang.
Benar saja, Gilang tidak memperlakukan Dian seperti yang Bu Nindy lakukan. Sekarang kalau ada apa-apa Rini, yaa tidak dipungkiri! Perempuan paling pandai bersolek, berbaju ketat berbadan ramping dan sexy, rambutnya curly panjang sepungung layaknya model. Laki-laki mana yang tidak tertarik melihat penampilanya ?
Senin ini tepat enam bulan Gilang bekerja menggantikan Bu Nindy. Dia masih nampak kebingungan menegerjakan tugasnya. Dia kewalahan menemui client, ditambah Rini asistenya yang sekarang, teledor membuat janji. Setiap hari perkataan Gilang ketus dan sedikit membentak. Tak disangka, wajah ramah dan kharismatik itu bisa juga bersikap garang.
Rini keluar dari ruangan memanggil cleaning service. Dia menyuruh cleaning service membawa kantung plastik besar. Rupanya semua makanan dan aksesoris tidak penting dimasukan kedalam kantung plastik sampah. Tak lupa, gelas-gelas berisi kopi dan teh ikut dibawa keluar.
Usai dibersihkan, suasana kondusif kembali. Rini kembali ke meja dengan raut wajah murung dan bibir manyun sambil bergumam sendiri.
"emangnya aku apa, yang taro semua makanan di meja itu?" gerutu Rini.
"kenapa Rin?" Dian bertanya sambil membaca dokumen.
Rini memundurkan kursi lalu menghadap Dian yang sedang serius bekerja. Kepalanya agak menunduk bersandar di pembatas meja "Pak Gilang, sumpah asli nyebelin! Mukanya doang ganteng, tapi judes" Rini berbisik.
Dian berhenti mengetik, lalu ikut memundurkan kursinya. Kepalanya menunduk "kenapa dia?" suara Dian berbisik.
"Minggu kemarin, dia minta ruanganya jangan dikunci, biar bisa dibersihin. Eh giliran dibuka, udah bersih, untung dikasih makanan, dia malah marah-marah" jelas Rini masih menunduk.
"Loh, kok gitu ya? Pikun kali dia" dahi Dian merenggut.
"Wah, kurang tahu deh! Perlu di test nih kejiwaanya" sahut Rini.
Tluut.... Tluut.... Suara telepon di meja Rini berdering. Nampak dari kejauahan di balik ruangan kaca yang agak blur, Gilang sedang menelpon.
"tuh, pasti dia tuh! Gerutu Rini.
"udah kerja, kerja, nanti dia tanya macam-macam" Dian kembali menggeser kursi ke depan.
Ya, selama enam bulan pemandangan pagi indah hampir musnah. Meski para staff di lantai ini berusaha membuat suasan tentram, kondusif, nyaman, tapi kalau Gilang sudah stay di kantor, tidak ada yang bergerak selain bekerja.
********
Terik matahari memantul menembus celah kaca gedung. Lapisan film di kaca nampak terang, pertanda diluar sana matahari sedang terik-teriknya. Suhu menunjukkan 38'C tepat pukul 12 siang.

KAMU SEDANG MEMBACA
Pura-Pura Menikah (Goes To INNOVEL)
RomanceHubungan Gilang si manajer muda dengan Dian, sekertarisnya terpaksa kandas akibat kontrak investor. Perempuan dari kalangan kelas tiga tidak akan pernah masuk dalam lingkaran konglomerat. Dian bukan pilihan keluarga Gilang karena status sosialnya. J...