File 12 : Noda Hitam di Tangan Si Tahanan

5.9K 597 12
                                    

Beberapa jam, sebelum peringkusan.

Petugas penjaga lapas gemuk yang berjanji menjaga pintu keluar, tengah bersantai. Berpikir inspeksi akan lama, ia terus mengisap batang rokoknya, tak sadar kedua petinggi itu sudah selesai.

"Woy!"

Letnan Andi menegur.

"M-Maaf, komandan!"

Ia langsung mematikan rokok dan memberi hormat. Prajurit gemuk paruh baya itu nampak salah tingkah. Kumisnya yang semrawut naik turun, khawatir diberi hukuman.

"Apa kamu tahu sesuatu tentang peredaran narkoba?" tanya Letnan Andi.

"N-Narkoba?"

Petugas berwajah bulat itu berkeringat dingin, langung memalingkan muka. Letnan Andi yang terus berharap Distrik 16 tidak terlibat, makin khawatir.

"Jawab!"

Ia menarik kerah Si Petugas, tapi Rain menepuk pundaknya. Dia menggeleng, menyadarkan; tindakan itu bukanlah langkah yang tepat.

Sambil menarik tangan Letnan Andi, dia membisik, "kita akan tahu itu nanti!"

Rain merangkul Si Petugas, menariknya sedikit menjauh.

"Dia sedang banyak masalah, makanya emosian," bisiknya, kepada Si Petugas.

"Walaupun begitu, tidak seharusnya seperti ini, izin," keluh Si Petugas.

"Nanti aku nasehati dia, tapi kamu juga tidak seharusnya merokok seperti tadi!" Rain.

"Maaf, komandan!"

"Omong-omong, apa ada kejadian aneh belakangan ini, maksudku soal sel ini?"

"Kejadian aneh seperti apa maksud anda, izin?"

"Apa pun, sesuatu tentang perkakas makan, sendok misalnya?"

"Sendok?"

Petugas gemuk itu mengingat-ingat.

"Lapor, saya rasa tidak, tapi piring sepertinya ada."

"Pecahnya, piring porselen?"

"Ya, dan juga piring plastik yang hancur."

"Penghuni sel itu, yang melakukannya?"

"Dia berulang kali memecahkan piring kaca dan menghancurkan piring plastik," angguk Si Petugas, "jadi, kami memberinya piring besi, supaya hal itu tidak terjadi lagi," imbuhnya.

"Apa beberapa piring itu tidak kembali?" tanya Rain.

"Ya."

"Apa pelaku juga mengalami luka di tangannya?"

"Hari ini, kami juga rencananya akan memberikan nasi bungkus padanya, karena tak ingin kehilangan piring lagi," angguknya lagi, "tapi, bagaimana anda tahu semua itu, izin?" lanjutnya.

Rain melamun, manggut-manggut tak jelas maksud. Tingkahnya membuat Letnan Andi semakin penasaran dengan pembicaraan mereka.

"Ada apa?" tanyanya.

"Lebih baik anda siapkan pistol!"

Rain malah menjawab pertanyaan itu dengan sebuah perintah, dan berkata lagi, "dan kalau ada, sebuah masker."

Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, dia mengajak mereka keluar, dan meminta beberapa data soal tahanan sel 316 itu. Petugas mengangguk, memandu mereka ke ruang pengarsipan.

File 73Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang