Hari masih menunjukkan pukul 05.00. Masih subuh. Dyandra bangun dari tidurnya kala meregangkan tubuhnya.
“Mimpi apa gue sampe-sampe bangun awal gini?” gumam Dyandra dan mengambil handuknya kemudian bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi Dyandra memakai seragam yang ia letakkan di atas tempat tidur sebelum mandi.
Dyandra menyusuri satu persatu anak tangga dengan hati-hati. Melihat sang mama sedang memasak sarapan di dapur, Dyandra langsung menghampiri ibunya.
“Mama masak apa?” tanya Dyandra.
“Eh, udah bangun kamu? Tumben awal?” tanya Indri sambil mematikan api kompor.
“Hehe, bagus dong kalau bangun awal. Gak telat mulu jadinya,” ucap Dyandra.
“Ya udah, kamu makan dulu. Mama udah masak nasi goreng nih, mama mau bangunin papa dulu.” Ujar Indri.
Dyandra tak langsung makan. Ia lebih memilih mengecek ponselnya yang sama sekali tidak ada notifikasi yang masuk.
Indri kembali ke dapur dan duduk di meja makan bersama Dyandra.
“Papa mana, ma?” tanya Dyandra.
“Masih di kamar. Lagi siap-siap,” kata Indri.
“Makan aja dulu.”
Dyandra menyantap sarapannya dengan tenang dan santai. Setelah selesai, Dyandra beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan.
“Hm... Lyra apa kabar ya?” gumam Dyandra.
Gadis itu mengetikkan sesuatu di keyboard ponselnya.
Dyandra Bianca: Hai Ly :) apa kabar?
Tak lama setelah mengirim pesan itu, ponsel Dyandra berdering pelan menandakan ada sebuah pesan yang masuk.
Lyra Arselia: Huaaa! Dyandra gue kangen banget sama lo... gue baik aja di sini.
Gadis itu tersenyum membaca pesan dari temannya itu.
Dyandra Bianca: Hhah, gue juga kangen sama lo.
Bunyi klakson mobil terdengar sampai ke dalam rumah Dyandra.
“Siapa sih? Masih pagi juga,” gerutu Dyandra.
Dyandra membuka pintu rumahnya dan melihat sebuah mobil yang tak asing berada di teras rumahnya.
“ANDRA! NGAPAIN DATENG PAGI-PAGI BUTA? GUE MASIH BELUM SIAP-SIAP NIH!” teriak Dyandra yang padahal jika berbicara pelan saja dapat terdengar oleh Andra.
“Cepetan! Gue tunggu lima menit. Kalau lama, gue tinggalin,” ujar Andra yang masih berada dalam mobil dengan kaca yang terbuka.
Secepat kilat Dyandra berlari ke arah tangga dan menaiki anak tangga dengan cepat.
“Dyandra! Jangan lari-lari! Nanti jatuh,” ucap Aldiano yang sedang duduk di sofa sambil menikmati tehnya.
Setelah mengambil tas dan memakai sepatu sekolahnya Dyandra keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan tergesa-gesa.
Karena tidak hati-hati, gadis malang itu terpeleset dan terjatuh dari tangga.
“Aduhh, pa. Kaki Dyandra sakit nih,” ringis Dyandra.
Aldiano yang melihat anaknya kesakitan langsung menghampiri Dyandra.
“Papa bilang juga apa tadi, tuhkan jadinya. Jatuh,” ucap Aldiano kemudian memapah Dyandra keluar.

KAMU SEDANG MEMBACA
DYANDRA
Teen FictionAndra Guetta Pratama. Seorang lelaki yang dingin terhadap perempuan dan tidak banyak bicara. Ia di pertemukan dengan seorang gadis yang sangat buruk. Bisa di bilang badgirl. Tidak, bukan badgirl. Tetapi gadis yang bawel, nakal, dan tidak bisa dibil...