Another Twist

183 27 24
                                    

"Hoseok?" Panggil Minhyuk saat ia mulai memejamkan matanya. Saat ini keduanya berbaring di tempat tidur lelaki itu, dengan kepala Minhyuk berbantalkan dada Hoseok dan lengan lelaki itu yang melingkari pinggangnya.

"Hmm?" Lengannya semakin erat di pinggang perempuan itu. "Tidurlah, jangan berpikir terlalu keras," ia mendaratkan ciuman ringan pada kepala yang terletak di dadanya.

Minhyuk tak seceria biasanya, ia sadar akan perubahan teman tanpa statusnya itu. Hoseok menduga kalau berubahnya perilaku perempuan itu ada hubungannya dengan lelaki yang dilihatnya saat menjemput tadi. Namun karena tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, Hoseok mengurungkan niatnya untuk mencari tahu. Ia berhasil menahan dirinya, mengingatkan kembali siapa dia untuk perempuan itu, pemuas kebutuhannya.

Hoseok merasa gadis itu membenamkan wajah semakin dalam di dadanya, "terima kasih," ujarnya lirih.

"Tak perlu seperti itu, Minhyukkie." Ya, ia tak perlu berterima kasih. Karena untuk Hoseok, bisa memeluknya dan terbangun dengan Minhyuk di dalam pelukannya, lebih dari dari cukup.

.
.
.

Hoseok menghentikan mobilnya di depan gedung tempat Minhyuk bekerja. Ia menoleh pada sosok di sebelahnya yang duduk sambil memejamkan mata. Satu tangannya terulur untuk menyingkirkan poninya yang menutupi matanya. "Minhyuk-ah, sudah sampai," ucapnya lembut. Ia sebenarnya ingin melarang perempuan itu bekerja hari ini, karena meskipun semalam mereka tak melakukan apapun, tetap saja saat terbangun hari ini Minhyuk tidak bersemangat. 

Minhyuk mengerjapkan matanya sebelum meluruskan posisi duduknya, "ah maaf," ia masih berkedip berulang kali sebelum merapikan rambut dan mengambil barang-barangnya. "Terima kasih, Hoseok-ah," ujarnya setelah memakai kacamatanya, tas di tangan satunya, sementara tangan satunya lagi bersiap untuk membuka pintu.

"Minhyuk-ah," satu tangan Hoseok menahannya, membuatnya berbalik dengan raut wajah bingung. "Apa kau yakin akan bekerja hari ini?" Ia menyuarakan kekhawatirannya.

Minhyuk mengangguk pelan lalu tersenyum, "jangan khawatir." Saat melihat sorot mata lelaki itu yang tetap saja sama, ia mencondongkan tubuhnya, melepaskan handle pintu untuk meraih pipi Hoseok, "percaya padaku," dan memberikan satu kecupan di bibirnya. "Aku akan ke kafe mu sore nanti, aku tak enak merepotkanmu terus-terusan." Ia mencium lelaki itu sekali lagi sebelum membuka pintu, "sampai nanti sore." Ia tersenyum sebelum menutup pintu mobil.

Hoseok tak segera melajukan mobilnya, ia terus menatap punggung Minhyuk yang terus berjalan ke dalam gedung. Entah kenapa senyuman dan kata-kata perempuan itu justru tak bisa membebaskannya dari kejanggalan yang ia rasakan.

.
.
.

Minuman untuk atasannya? Check

Mengecek jadwal atasannya?  Check

Dan sekarang Minhyuk sedang memeriksa laporan yang dibuatnya, Nona Kang sudah membiarkannya untuk pulang lebih dulu, ia tak punya alasan untuk mengulur waktu penyelesaiannya.

Atasannya selalu tiba tepat pukul delapan, namun hari itu, alih-alih pintu terbuka yang menandakan kedatangan atasannya, teleponnya justru berdering.

"Selamat pagi."

"Pagi. Minhyuk, periksa sekali lagi dokumen yang ada di mejaku. Dan oh, apa jadwal jam sepuluhku tidak berubah?"

"Baik, akan saya laksanakan." Ia berhenti sejenak, "jadwal jam sepuluh tidak berubah, mereka hanya menghubungi untuk memastikan, tak ada perubahan atau apapun."

"Baiklah, aku akan langsung menuju tempat pertemuan. Bisa kau bawa semua bahannya dan kita bertemu disana? Hyunwoo akan menjemputmu."

"Baik, Nona."

Friends with Total BenefitsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang