"Masih lama gebukinnya?" tiba-tiba, dari belakang Bu Age, terdengar suara yang sangat ku kenali. Yang biasanya memukulku setiap hari, berdiri disana, seperti biasanya pede tingkat tinggi dan anti ragunya keliatan.
"La..ma.. ba..nget.." aku sebenarnya sudah tak mampu berkata-kata. Tapi senang juga sih, Rai ternyata malah datang ke sini jauh-jauh. Ku kira dia hanya akan menyalurkan informasi ini ke Pak Nani.
"Kalau kau tidak mau aku datang juga tak apa. Lagian petunjukmu itu juga nggak karuan, Sak!" ternyata dia sudah membebaskan Bu Age duluan. Bu Age langsung menuju ke belakang Rai yang sudah dalam posisi melindungi diri.
"Oh, ternyata benar itu kamu... Lama tak jumpa!" pria itu berbalik dan tertawa, kemudian langsung maju dan menyerang Rai. Dimulailah pertarungan seru, satu lawan satu antara Rai dan Pria tersebut. Kalau saja tidak terluka, aku mau jadi
komentator ala komentator sepak bola
_***_
Pria itu sudah berkali-kali melontarkan pukulan ke Rai, tapi Rai berhasil menghindarinya. Hingga..
Kretak
Salah satu pukulannya meleset dan membuat kacamata Rai terlepas agak jauh. Tangan yang meleset itu lalu dipegang oleh Rai yang sekarang menunduk. Dengan aura yang.. aduh, ngeri.. kenapa juga lu rusakin kacamatanya, Tong?! Tau gak sih main-main sama kacamata Rai itu sama aja kaya' melepas segel kekuatan Rai.
"Sudah main-mainnya?" yak, Rai mode sangar : ON
Saat itu juga, Rai langsung melancarkan serangannya. Pukulan, tendangan, tangkisan.. tunggu, kok jadi mapel pencak silat? Pokoknya gitu deh.
Braaakk!
Pria itu 'dilempar' oleh Rai dan menghantam alat-alat pabrik di seberang. Sambil mendekatinya yang berusaha untuk bangun, Rai tertawa, "Hei, tolong kasih tahu aku, dong." Rai dalam mode berantem bahkan lebih mengerikan ketimbang cewek PMS.
"Kemana kekuatanmu yang buat mukulin 'samsak' barusan?" samsak? Maksudnya dia ngejek Saka ya?
"Heiii, katakan padaku.." Rai mendekati pria misterius dan mencekik lehernya.
"Kalau kau tidak mau mengaku, aku bisa membuat kedua tangan dan kakimu bengkok seperti yang kau lakukan ke Saka, lho. Kau sebenarnya utusan siapa?"
"Dagh..sar..bede..bah!"
"Apa? Itu bukan jawaban yang ku mau." cekikannya semakin erat
"Kau.. pengh.. khi..anat!"
"Aaaahhh, masih bukan jawaban, nih." namun sebelum Rai melanjutkan siksaannya, dari pintu masuk polisi-polisi yang sudah mengepung gedung ini.
"YOU'RE UNDER A REST!"
"Wah, sepertinya Tuhan masih sayang padamu, ya?" Rai melepaskan cekikannya
"Uhuk uhuk! Awas saja kau.., A..MARAI WAR..DANA! Kau pengkhi..anat! Pengkhianat yang licik!"
Singkat saja, pria tersebut langsung ditangkap oleh polisi yang bertugas. Rai hanya berdiri menyaksikan, kemudian mengambil kacamatanya yang terjatuh. Dia terlihat memperhatikan kacamatanya sebentar, kemudian dia menghela napas, sepertinya ada yang rusak. Tim medis pun akhirnya datang dan membantu mengamankan Bu Age dan Saka. Bu Age masih dalam keadaan shock dan harus beristirahat di dalam ambulan, sementara Saka duduk di luar ambulan sambil dirawat oleh beberapa orang.
Rai yang selesai mengobservasi TKP, keluar untuk menemui Saka.
===
Sungguh, keadaan anak itu ngenes sekali. Tangan kirinya sepertinya mengalami patah tulang. Hidungnya yang terakhir kali kujedorkan ke pintu akhirnya mendapat hansaplas lagi. Luka goresan karena tembakan beruntun itu akhirnya terbuka juga. Memang bener-bener bukan manusia deh kaya'nya itu anak.

KAMU SEDANG MEMBACA
HUJAN DI MUSIM PANAS
Rastgele"Mengapa si Sempurna mau bersama dengan si Terbelakang?" Ya, kisah tentang seseorang yang gila secara harfiah, dengan temannya yang super sempurna, dia berhasil membangun kehidupan yang baik. Namun, semua itu perlahan menggelap lagi ketika ada orang...