Genre : Drama, Tragedy, Family, Romance
Disclaimer : 2Moons - Chiffon Cake
Rated : T - Semi M
Character : Forth, Beam, Phana, Wayo, and Others
WARNING : YAOI (MALE X MALE), EYD AND TYPO.
Cerita ini hanya fiksi belaka. Tidak suka? Silahkan beri kritik.-----------
Hat yai, 2013
5 Tahun SilamAt the night.
Forth sedang melaksanakan tugas patroli di kota Hat Yai. Sudah sejak enam bulan lalu, ia ditugaskan di sini sejak kelulusannya dari akademi polisi. Pola hidupnya kini berubah karena hanya sedikit polisi yang bertugas di daerah ini. Kadang ia mesti bekerja selama 24 jam penuh, hingga terpaksa tidur di kantor polisi. Tapi, meski begitu, Forth suka di sini, jauh dari hiruk-pikuk bisingnya pusat kota, meskipun letaknya di perbatasan dua negara, malaysia dan thailand.
Forth berhenti sesaat, lalu menengadahkan kepala menatap langit. Ia meresapi keheningan malam. Semilir angin yang menusuk tubuh seakan menemaninya berkeliling. Dilajukannya kembali motor patroli itu, sambil berharap tidak ada tindak kejahatan yang terjadi.
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Warga kota sudah kembali kerumah masing-masing, menghabiskan hari mereka di tempat yang nyaman dan aman. Forth kadang menyapa beberapa orang yang masih terlihat berkeliaran, "Selamat malam. Hati-hati ya," pesannya kepada mereka. Bukan tanpa maksud, Forth tau, meskipun kota ini cukup aman tapi bukan berarti tidak ada kriminalitas yang terjadi.
Forth sudah berkendara hampir setengah kota.Lampu merah di perempatan jalan raya yang sepi, membuatnya menghentikan laju motor. Begitu lampu berubah hijau, terdengar samar-samar suara ribut. Pria itu menajamkan telinganya, dan suara itu terdengar semakin jelas dari salah satu gang yang berada di dekatnya. Forth tau, ada sesuatu yang tidak beres. Motor itu berbelok menuju sumber suara, sebuah gang sempit dekat halte bus.
"HOY!!" teriak Forth.
Tepat seperti dugaannya. Empat orang preman tampak mengelilingi seseorang yang sudah babak belur. Kelompok preman itu terkejut melihat kedatangan Forth. Tak mau cari masalah, mereka kabur setelah merampas seluruh barang berharga milik orang yang sudah terkapar itu. Forth mau mengejar, tapi suara parau itu menghentikan langkahnya.
"S-sakit..." lirih sosok yang sedang meringkuk kesakitan.
Forth mendekatkan dirinya pada sosok yang ternyata seorang pria. Baju pria itu sudah kotor, ada beberapa jejak darah dan tanah di sana. Mata pria itu terpejam karena terlalu lelah menahan sakit dari luka di pelipis dan sudut bibirnya. Forth menepuk pipi pria itu, berusaha menyadarkannya.
"Oy, bangun..." nihil tidak ada jawaban.
Pria itu pingsan. Forth merogoh saku celananya, menekan tiga digit angkat. "Halo, tolong bawa ambulans ke gang dekat clock tower,"
Pertemuan pertama mereka.
Pertemuan yang mengikat.------------
In the morning.
Besoknya, Forth datang kembali ke rumah sakit sambil membawa beberapa bungkus roti. Akibat kejadian semalam, ia membawa korban dari pengeroyokan itu kerumah sakit terdekat.Beruntung hari ini ada yang menggantikannya berjaga, mungkin ia akan ke pos polisi sore hari nanti, lalu kembali lagi saat malam. Forth berharap orang itu sudah sadar, karena ia mesti mengajukan beberapa pertanyaan padanya.
Bau obat antiseptik begitu menyengat, khas bau rumah sakit. Forth berhenti di depan sebuah pintu bernomor A345 yang tertutup rapat. Didorongnya perlahan pintu itu agar terbuka. Sesosok pria beralis lebat tampak duduk di atas ranjang. Pria itu menoleh ke arah Forth dan tersenyum sehangat mentari pagi. Cahaya sinar mentari yang masuk dari celah jendela, mengenai kulit putihnya yang seolah bersinar. Polisi muda itu tertegun sesaat melihat pahat Tuhan yang begitu sempurna, begitu indah. Forth hampir saja jatuh ke dalam khayalannya, jika ia tidak ingat tujuannya kemari. Lagipula, apa-apaan pikirannya tadi. Ia itu pria normal.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Forgotten Memory
RomansaWayo adalah seorang penulis novel. Hidupnya berubah ketika seseorang menemuinya dan memintanya agar menuliskan sebuah kisah. Siapa sangka, kisah itu membuka kenangan yang seharusnya telah dilupakan. Sanggupkah Wayo menuliskan kisah itu? lantas, kena...