Yah, padahal aku sudah hampir berhasil mengalahkan semuanya. Aku tidak menyadari pukulan keras di bagian tengkuk dan tonjokkan. Aduduh, tonjokkan mulu, bonyok semua ini.
Sebelum aku pingsan, aku merasa diseret oleh seorang dari mereka. Yah semoga saja ini berhasil membawaku bertemu dengan teman-temanku. Cuma ini, sih, rencanaku. Malah mungkin lebih terasa seperti 'menyerahkan diri' daripada rencana. Haha, maklumlah namanya juga waktu terbatas. Rencana itu bikinnya pake waktu, kalo langsungan gini jadinya refleks kan, ya? Iya, kan?
===
Sebelumnya
"Ternyata, jawaban dia..." penjaga itu menghentikan kalimatnya
"SALAAHH! Maaf sekali, anda tidak bisa membawa pulang 2 juta rupiah! Tetap ikuti terus acara kami, ya?" aku dan Pak Kepsek hanya melongo
"Ini, nggak anggota yang masih aktif, nggak yang mau keluar, KENAPA SEDENG SEMUA?!"
"Ya bossnya sendiri juga sedeng, kita bisa apa?" aku hanya tertawa tertahan
"Ehem, ehem. Sudah, sudah. Sesuai dengan perjanjian kita tadi, ya, Rai? Kau harus ikut penjaga di belakang itu."
"Jangan libatkan mereka, ya?!"
"Hehe, tidak janji!"
"APA?!" sejenak aku merasakan bekapan dengan kain dari belakang. Nyesel gue percaya gitu aja.
Sepertinya aku dibawa ke ruangan lain, tidak, mungkin gedung lain.
===
Sekarang
Aku terbangun karena mendengar suara. Ah, aku baru sadar kalau aku duduk disebuah kursi dan diikatkan kekursi itu. Hm? Orang berantem? Dari arah TV di seberang sana, dan ITU SAKA?
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DENGAN SAKA?!"
"Cukup melumpuhkannya saja, dan dia sudah tumbang. Dan sepertinya pukulan anak buahku beberapa waktu yang lalu ngefek juga ke dia." di belakangku, muncul Pak Kepsek dengan senyum sinisnya
"Tadi katanya janji mau lepas Saka? Kenapa malah dikeroyok?!"
"Lagian, kamu pinter-pinter jawabnya salah."
"Ah, terserah, sih, ya. Karena bagaimanapun juga, salah atau benar, hasilnya pasti sama jeleknya. Tapi aku nggak heran kalo salah, sih."
"Kenapa emang?"
"Kan tadi saya asal tunjuk. Nggak lihat, gimana ngawurnya saya nunjuk tadi? Anda gimana, sih? Jadi boss kok nggak tahu?"
"Ini anak, udah salah, nyalahin lagi. Minta mati lu?!"
"Ya udah, sih, ya. Emang sekarang kalo aku udah di sini mau diapain?"
"Saya tinggal bentar, ya? Mau mikir dulu, dan karena ada panggilan alam." Pak Kepsek setengah berlari ke sebuah pintu. Aku baru sadar kalau keadaan disekitarku merupakan ruangan remang-remang yang bagian sudut-sudutnya sangat gelap. Hanya bagianku saja yang memiliki pencahayaan sedikit, jadi berasa tokoh utama yang lagi teraniaya. Nah, kalo begini, enaknya kabur aja. Aku sedikit berontak untuk membebaskan diri dari kursi.
"Rai?" aku yang hampir lepas dari ikatan di kursi ini, melihat ke sekelilingku dan menangkap bayangan yang kukenali sebagai Nadya dan Lussi.
"Kalian juga ditangkap?"
"Yah, ganjaran anak mafia. Kek gini, sih, udah biasa, asal jangan mati aja." Lussi hanya mengangkat bahu–Ya sebenarnya pertanyaanku juga yang aneh, jelas mereka juga ditangkaplah! Tidak mungkin, kan, mereka ketuk pintu baik-baik tempat yang entah sebenarnya ada pintunya gak ini, lalu datang duduk manis dan minta di ikat, gimana sih aku ini?–Tunggu, anak mafia?!

KAMU SEDANG MEMBACA
HUJAN DI MUSIM PANAS
Random"Mengapa si Sempurna mau bersama dengan si Terbelakang?" Ya, kisah tentang seseorang yang gila secara harfiah, dengan temannya yang super sempurna, dia berhasil membangun kehidupan yang baik. Namun, semua itu perlahan menggelap lagi ketika ada orang...