Ku Ingin Sebelum Dan Sesudah Tidur Mereka

15 1 0
                                    

🍒🍒

Siang hari duduk bertiga dengan adik bungsu, dan putri sulung ku yang waktu itu baru berusia 3 tahun dan sedang tertidur pulas.

Duduk di antara deretan kursi-kursi yang disediakan untuk para pengunjung di sebuah gerai kerudung di daerah dipatiukur. Selain untuk jalan-jalan, memang menyegajakan ke sana untuk membeli kerudung dan ikut menikmati kemeriahan Final festival nasyid. Jadilah kami ikut menjadi penonton --- heheh serasa teringat masa muda, ikutan acara-acara Tabligh pasti ada nasyid nya --          

Acara di mulai..

Berbagai aneka alat dan jenis musik di gelar, di kombinasikan dengan berbagai kreativitas dan aksi para pemuda/i muslim, mereka mempersembahkan penampilan terbaiknya.

Alat musik yang paling banyak di gunakan adalah gamelan, gitar, aneka benda yang mengeluarkan suara khas, Acapella dan kreativitas lainnya. Yang sama dari penampilan mereka adalah lagu dan liriknya harus bermuatan tentang mencintai Allah dan RasulNya.
Wah acaranya sangat semarak..

Setelah tampil saling bergantian, di puncak acara ada penampilan khusus angklung yang di persembahkan oleh saung angklung udjo ngalagena.

Angklung yang saat ini sudah di kenal selain di dalam negeri juga di mancanegara, penampilan yang keren, cool dan great pokoknya. Dan lagu yang di"angklung"kan adalah lagu ayat-ayat cinta, Ost sebuah film yang populer dinyanyikan salah satu penyanyi Indonesia yang sedang naik daun saat itu.

Saat persembahan angklung masih berjalan itulah Zahra  terbangun, masih Antara bangun dan tertidur. kalau orang sunda mengatakan..'masih ngumpulkeun lelembutan', kalau di artikan kurang lebih artinya masih mengumpulkan kesadaran.

Zahra menikmati alunan lagu yang di bawakan dengan sangat apik, serasi dan enak di nikmati dengan kepiawaian para angklung-er. Tubuh, telinga dan mata kecilnya tidak berkedip sampai akhir lagu. Dalam hati bergumam sendiri --- wah ternyata putri kecilku sudah bisa ikut menikmati karya yang indah--

Hari-hari setelah itu, tak di sangka Zahra selalu minta di putarkan lagu yang sama, bahkan dalam waktu hanya beberapa minggu saja sudah hafal, wow anak seusia 3 tahun hafal lagu itu....Dan Zahra request lagu itu setiap ada kesempatan berlangsung hampir setahun setelah itu.

Msih belum ngeuh, namun karena Zahra sangat favorit lagu itu, jadi menyisakan pertanyaan besar

'ko jadi kebiasaan yah?'      
'Ko kenapa jadi favorite?'

🍒🍒

Mencoba memikirkan ..
Setelah coba di ingat, sebenarnya ada satu kebiasan yang hampir mirip dan jadi sebuah kebiasaan yang tak pernah lepas juga dalam kesehariannya, yakni memperdengarkan ayat-ayat cintaNya ---mendengarkan Al-lquran--- saat menjelang tidur. Dan jauh dari sebelumnya ini di biasakan semenjak Zahra masih dalam kandungan ,dan saat sesudah lahir hal ini terus berlanjut.

Selain itu sebelum Zahar tidur, hal ini  adalah hal yang tak pernah absen saya lakukan. Dan lama-lama seolah menjadi sebuah kebutuhan menjelang tidur Zahra, walau sudah dibacakan cerita, sudah di usap, sudah di peluk bahkan sudah dicium, tetap Zahra meminta kalau bunda/ayahnya tak  membaca qur'an berarti harus mendengarkan murattal qur'an. Dan Qori Favoritnya adalah syeikh sad al-ghomidi alasananya sebenarnya karena bundanya favorit pisan dengan murattal beliau. Dan alhamdulillah saat mengenalkan surat-surtat pendek sepertinya sudah tak asing bagi zahra, walau belom hafal semua. 😇🤗      

Dari dua hal itu, akhirnya ku coba menarik garis merah. Sesuatu yang di dengar sebelum bangun ternyata sangat membekas, menempel dan terngiang bahkan di ingat terus dalam waktu yang lama. Sama halnya saat ayat-ayat atau cerita atau apapun itu di perdengarkan sebelum terlelap biasanya akan sangat diingat apalagi oleh jiwa-jiwa polos itu, ya jiwa buah hati kita.               

🍒🍒

Semenjak saat itu diri bertekad untuk terus membiasakan sebelum mata-mata bening itu terlelap, apalagi saat ini Allah telah menitipkan 2 amanah cantik lagi. Sehingga sebelum ke tiga pasang binar mata bening itu terlelap tidur, ku ingin hanya ayat-ayat cintaNya yang mereka dengar.

Dan saat pertama telinga-telinga  mungil mereka mendengar ketika bangunpun,  ku ingin ayat-ayat cintaNya pula yg mereka dengar.

Jalan ini memang tidak lantas otomatis menjadikan mereka menjadi para penghafal Alquran, ini PR besar untuk ayah bundanya. Namun ku yakini jika ini menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan dalam keseharian mereka, InsyaAllah mereka mnjadi familiar dengan ayat-ayat Alqur'an.

Saat mereka sudah 'kenal dan akrab' maka langkah menjadi penghafal Qur'an bukan lagi hanya sekedar cita-cita. Semoga suatu hari impian itu terwujud yakni menjadi bagian anggota dari "keluarga Allah", para hafidz/hafidzah.                           

Teringat suatu pagi terakhir di masjidil haram, ku gendong Aisyah yang waktu itu masih usia 8 bulan dan Zahra ku tuntun menuju pulang.

Tiba-tiba seorang ibu berusia 40-an menghampiriku, sang ibu dengan kefasihan bahasa arabnya mendo'akan putri putri kecilku menjadi para hafidzah... MasyaAllah.
Do'a itu, di masjidil haram pula, ku aamiinkan tiada henti.   

🍒🍒

Rabbana, betapa ku tahu langkah menuju cita-cita itu masih sangat jauh.
Namun catat langkah ini ya Rabb, sebagai langkah kami untuk meraihnya..                   
Rabbana, ku susun kalimat-kalimat ini ,untuk mengajak sebanyak-banyaknya saudara dan sahabat terkasih untuk bersama-sama memulai langkah ini,
jadikan kami anggota"keluargaMu"
jadikan kami para hafidz/hafidzah kesukaanMu ya Rabb...

🍒🍒

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 05, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

4 BidadariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang