Dinding kamar seperti tidak lagi
bisa memuntahkan kata-kata
yang tenang
yang selamat
yang menemani di kala malam menghimpit dunia.
Sepi sekali
bagai gurun pasir menyendiri lagi.
Masakan angin, pasir juga tidak mahu mendekati
apatah lagi sang hering kelaparan
terbang jauh tanpa menghiraukan dia
Dinding kamar tidak mahu lagi bicara
mual terus melihat dia sebegini saja
mengintip masa menanti mati.
Menanti tiba dinding memuntahkan kata
sekali lagi.

YOU ARE READING
Sejarah Dari Mata Pengalah
PoetryKumpulan puisi dan prosa tulisan M. Firdaus Kamaluddin.