Pemakaman malam itu berakhir sudah. Aku tanpa izin Ibu berhasil meloloskan diri dari rumah sakit untuk turut serta memakamkan sosok yang menyelamatkanku itu. Berhasil pula meyakinkan Kalista bahwa aku baik-baik saja dan aku ingin sekali ikut dalam pemakaman.
Namanya Miran. Ibunya sangat baik dan dialah yang memelukku begitu tau aku selamat padahal putranya tewas. Aku pikir wanita itu akan membenciku. Aku pikir dunia akan memusuhiku setelah dahan itu merengut sosok yang sangat berarti bagi sekitarnya itu. Ibunya yang sangat berhati besar itu berkali-kali menghampiriku, seolah memastikan wajah wanita yang membuat putranya tewas itu tidak kabur. Aku diberi tempat yang nyaman selama menunggu proses pemakaman selesai.
Miran, aku langsung tau bahwa ia adalah kakak kelasku. Setelah berada di rumahnha aku baru menyadari bahwa ia yang menyelamatkanku adalah orang yang namanya seringkali disebut-sebut oleh teman sekelasku. Ia rupanya si bintang sekolah. Teringat lagi bahwa ia merupakan orang yang sering maju setiap ada acara apresiasi prestasi, ia juga seringkali memberi sambutan disetiap acara OSIS. Pantas guru-guru lebih memprioritaskan menjenguknya daripada menjengukku yang notabene merupakan pembuat onar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau sampai dunia tau bahwa kematian orang sebaik dan segemilang Miran adalah karena menyelamatkanku. Aku hanya tidak bisa menerima permusuhan yang lain.
Rumah bercat biru ini banyak sekali didatangi pelayat. Banyak diantara mereka merupakan anak sekolahku. Dan beberapa diantara yang datang aku dapat mengenalinya. Beberapa pasang mata memandangku dengan tatapan tidak percaya. Tatapan-tatapan yang menohokku, dan membuatku merasa terkucilkan. Mereka tampak sangat terpukul. Aku jadi merasa semakin bersalah.
Aku semakin tidak bisa melihat wajah tuan rumah, seorang nyonya yang sedari tadi berada disampingku selain Kalista. Wajahnya yang teduh itu berkali-kali menangis setiap seseorang mendekatinya dan memberinya sebuah rengkuh. Bahkan aku yang tidak mengenali Miran merasa bahwa perlahan, bukan hanya sekedar rasa bersalah yang bergelayut di hatiku, tapi juga sebuah kesedihan yang mulai menjalari bagian lain membuat luka. Dan luka itu membuatku merasakan airmata sekarang.
Kalista masih disisiku. Sejak tadi dia membujukku kembali ke rumah sakit. Tapi aku masih saja berdiri memandangi satu-persatu foto yang dipajang diruang tengah rumah ini. Berusaha mengenali betul rupa dari orang baik itu.
"Aku penasaran dengan apa yang sebetulnya terjadi. Kenapa kamu sebegitu sedih seolah kamu mengenalnya dekat?" Bisik Kalista disebelahku.
"Orang baik selalu memberikan tangisan hebat di mata orang sekitarnya diujung waktunya, Lis. Dia baik dan aku hanya sedih dunia kehilangan orang sebaik dia," kataku pelan tanpa memalingkan pandangan dari pemandangan yang membuatku menangis itu.
"Aku percaya itu. Tapi sepertinya kamu harus segera kembali ke rumah sakit. Wajahmu mulai pucat. Ayo," katanya sambil menyeretku beranjak dari tempat.
Aku dengan berat hati pamit. Tanpa bisa berkata-kata apalagi, aku cuma melayangkan kata maaf. Dan sebuah kebolehan apabila Ibu Miran merasa membenciku. Sambil mengucapkannya pun, dadaku terasa sesak. Aku tidak pernah tau ada kepergian yang begitu membuatku jatuh dan terpukul—bahkan ketika aku tidak mengenalinya. Ibu Miran menggeleng cepat, lalu merengkuhku sambil mengatakan bahwa ini sudah takdir. Beliau juga senang bisa bertemu denganku yang sering didengarnya dari bibir Miran.
Rengkuhan sekali lagi diberikan tuan rumah sebelum aku naik ke mobil Kalista. Entah berapa jam sudah aku berada di rumah Miran seolah aku mengenalnya dengan baik. Dengan pakaian rumah sakit yang sudah sangat lusuh ini, aku pasti terlihat aneh diantara pelayat.
"Kamu, sungguh tidak ada yang ingin kamu ceritakan Mir? Kamu sangat terpukul dengan kepergiannya." Kalista sambil mengendarai mobilnya, memecah keheningan diantara kami.
Ada Lis. Sungguh. Tapi aku tidak bisa menceritkannya padamu, "aku hanya bersyukur bisa bertemu dengannya."
"Kata-katamu seolah kamulah orang yang paling mencintainya. Ah sudahlah. Tidak baik membicarakannya terus," katanya.
Aku diam dan begitupun Kalista. Keheningan kembali menyeruak diantara kami. Aku sibuk dengan tanda tanya tentang Miran. Tentang mengapa ia sampai harus menyelamatkanku di momen yang begitu pas, seolah-olah dia tau bahwa pada saat itu dahan akan jatuh menimpaku. Apa Miran mengenalku? Tapi kenapa aku tidak mengenal Miran?
Miran mungkin mengenalku. Bukankah aku adalah anak pembuat onar yang cukup bernama di sekolah? Tentu saja Miran tau. Berpikir sekali lagi tentang bagaimana kehebohan yang masalah yang sering aku perbuat dan hukuman yang sering kudapat. Miran tentunya mengenalku. Seharusnya aku tak perlu merasa heran.
Hening yang panjang sampai mobil Kalista masuk kepekarangan parkir rumah sakit yang malam itu tampak sepi. Setelah memarkir mobil merahnya ini, Kalista membantuku turun dan memapahku lembut. Begitu sampai di rumah sakit barulah terasa rasa nyeri di sekujur tubuhku. Kemana perginya rasa sakit itu saat aku sedang melayat?
"Ibumu apa sudah datang kira-kira?"
Aku menggeleng, tidak tahu dan tidak peduli.
Tapi rupanya kamarku tidak kosong. Seorang suster yang sedang berdiri di samping kasurku itu menoleh dan langsung terkesiap begitu melihat kedatanganku. Ia buru-buru menghampiri dan membantu memapahku menuju kasur, "dari mana saja, Mbak? Dokter tadi sampai meminta perawat jaga untuk mencarimu," kata suster itu sambil menempelkan beberapa jenis alat periksa ke tubuhku, seolah dengan kepergianku barusan akan membuatku segera menyusul Miran. Walaupun aku sempat berharap begitu beberapa saat yang lalu.
"Dari pergi. Ibuku apa sudah datang?"
"Tidak. Asistennyalah yang sudah datang sejak maghrib tadi tapi menghilang lagi entah kemana. Dia menugaskan beberapa orang untuk mencarimu."
Kalista yang masih berdiri disebelah suster itu menggeleng pelan, "selalu begitu. Baiklah. Aku harus segera pulang, Mir. Kalau besok aku bisa pulang lebih cepat dari bimbel aku akan datang menjenguk," katanya. Setelah menerima anggukanku, sosoknya melangkah pergi.
Suster itu membantuku membersihkan diri dan mengganti pakaian serta memasangkan lagi infus ditanganku. Tubuhku lemas sekali. Namun mendadak, aku teringat sesuatu, "Sus boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Miran. Apa passien itu sempat sadar?"
"Miran yang hari ini dibawa pulang oleh keluarganya?"
Aku mengangguk.
Suster itu diam sejenak, seolah berusaha mengingat kejadian yang telah lama sekali terjadi, "Aku tidak tahu. Tapi siswa yang datang sibuk menyebut sebuah nama selain namanya. Aku tidak ingat betul,"
"Menyebutkan nama?"
Suster itu mengangguk, "anak SMA itu seringkali menggosip dengan suara terlalu keras. Aku tidak terlalu mendengarkan pembicaraan seperti itu tapi mereka terlalu ramai. Entahlah. Mereka juga menyebut bahwa insiden ini seperti suatu kebodohan karena dilakukan karena perasaan," suster itu tersenyum seolah ceritanya lucu, "Seumuran mereka terlalu percaya dengan hal semacam itu," kata suster itu lagi sebelum akhirnya mengakhiri tugasnya, "istirahatlah," katanya sebelum beranjak.
Cinta? Apa ini? Aku tidak mengerti maksudnya.
***
Ruanganku remang-remang. Di sofa, tampak samar kulihat Sofi, asisten Ibu tertidur pulas disana. Ibu belum datang. Dan aku yakin tidak akan datang hari ini......Dan seseorang lagi berdiri dengan baju kaus biru dan celana. Seorang pria dengan pakaian yang warnanya sama seperti pakaian yang sedang kukenakan. Rambutnya cepak dan menghadap jendela yang tirainya sedang tersibak.
"Siapa?"
"Samira, aku senang kamu selamat."
Aku terbelalak. Tidak percaya. Sosok dihadapanku itu melempar senyum hangat meski aku tau itu tampak sangat menyeramkan, "Miran?"
________________

KAMU SEDANG MEMBACA
Samira dan Ujung Waktu Miran
Genç KurguSamira tau bahwa Miran mencintainya sedemikian rupa. Samira juga tau bahwa Miran dengan segala upayanya berusaha membuatnya untuk jatuh cinta juga. Tapi Samira tidak tau, waktunya tidak banyak.