Abnus

17 7 0
                                    

Happy reading!

🌸

Jogjakarta, 2014.

Kami tak berkendara, tetapi berjalan kaki di malam hari tak membuatku terengah sedikitpun. Sesekali jemarinya mengait pada jemariku, tanda perlindungan ketika beberapa orang memandangku. Ah, Dimas memang selalu seperti itu.

Ini belum tengah malam, tetapi angkringan mulai menyiapkan bahan-bahan dan barang yang akan diperjualkan. Aku tak mengantuk, begitu pun dirinya. Ibuku hanya berpesan untuk berhati-hati dan kembali dengan selamat. Ibu Dimas, entahlah, aku tidak bertanya pesan apa yang diberikan untuknya.

Kopi dengan batu arang, kopi jos, khas angkringan Jogja. Dimas menarikku untuk ke salah satu dari sekian banyak angkringan yang kami lewati. Aku hanya berjalan menurutinya tanpa bertanya. Aku menyukai kopi, jadi tidak ada masalah sama sekali.

"Dua ya, mas." Suara yang terkadang bernyanyi di acara kampus itu terdengar merdu walaupun hanya memesan kopi.

Budak cinta? Oh tidak. Itu hanya pujian.

"Ibuku mau pindah, yu." Ayu. Dari panjangnya namaku, Ayu merupakan nama tengah dan hanya Dimas yang memanggilku begitu sejak aku mengenalnya.

"Kemana?" Aku menjawabnya sesekali mengetikkan beberapa kalimat untuk membalas chat yang masuk.

"Solo." Aku hanya menganggukan kepalaku ketika mendengar jawabannya. Tetapi, ketikan jemariku berhenti ketika suaranya mulai terdengar kembali. "Aku ikut, gimana?" Dimas mengatakannya dengan santai.

"Kok kamu ikut?" Aku mencoba melanjutkan ketikanku padahal hatiku mulai berkecamuk.

Kenapa?

Apa yang aku lakukan hingga Dimas memilih pergi?

Bagaimana kuliahnya?

"Simpen hp-nya dulu, yu." Tepat ketika Dimas berbicara seperti itu, kopi kami datang. Aku menyimpan ponselku di hadapannya dan menaikkan kedua alisku, menunggu perkataannya.

"Tau kan, aku sayang kamu?" Dimas mengucapkan seolah memiliki beban yang berat dan aku hanya mengernyitkan dahi. Ada apa ini?

"Ada apa?" Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya. Siapapun, tolong, aku tidak tenang.

"Tau ngga nih?"  Dimas terkekeh dan menurutku hal ini sama sekali tidak lucu. Dan aku hanya mengangguk lalu menunggu perkataan selanjutnya.

"Kalau kamu tau, sekarang balikin cincin yang ada di jari kamu." Aku lagi-lagi mengernyitkan dahi dan menggeleng sebelum melanjutkan, "Aku ngga mau."

"Aku udah izin sama Ibu, sama Bapak juga." Aku menatap mata beningnya. Dimas tidak terlalu tampan, tapi manis. Aku menatap cincin dan dirinya bergantian, memiliki izin dari Ibu bahkan Bapakku?

Tetapi lagi-lagi aku menggeleng.

"Aku udah izin, lho." Netranya menangkapku ketika dengan gelagapan aku mencari kebenaran dari matanya.

Aku mulai melepaskan cincin yang sudah tersemat di jari manisku selama beberapa bulan terakhir. Cincin lamaran seorang Dimas. Tanpa acara yang mewah, Dimas hanya membawa orangtua, kakak perempuannya, kakak ipar dan keponakannya yang menggemaskan.

Ketika sekelebat kenangan tiba-tiba datang, aku selesai melepaskan cincin itu. "Untuk apa?" Aku mulai bersuara ketika Dimas memegang erat cincin itu.

Dimas melihat dengan lekat cincin yang ada di genggamannya sebelum melemparkan cincin tersebut ke jalan raya di belakang sana.

Aku terkejut tanpa suara.

Oh tidak, jantungku berkali-kali lipat berdetak lebih cepat.

"Pergi dari hidup aku, Prima Ayu Ningtyas." Dimas mengucapkan dengan lantang, dengan tegas, dengan satu tarikan napas. Ah benar, dan seperti tanpa perasaan.

Aku hanya diam menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Aku hanya menatapnya tanpa suara, tanpa kata. Aku menghembuskan beberapa napas sebelum bertanya, "Kenapa?" suaraku sedikit tercekat.

"Awal kita disini, maka akhir kita disini." Dimas menatapku tajam. Ah benar, angkringan ini awal dari 'kami'. Aku kembali termenung, berpikir apa yang salah dengan diriku.

"Dimas? Ada apa?" Suaraku kembali tenang tetapi jantungku masih berdebar dengan keras.

Angkringan yang kurasa ramai seakan tak peduli apa yang terjadi denganku ataupun dengan Dimas. Oh tentu saja, siapa aku di dunia ini hingga orang sekitar memperhatikan?

"Kamu boleh benci, ngga akan kularang. Kita berakhir, Ayu." Dimas kembali dengan kata-katanya yang pedas. Tak dapat kubendung, satu tetes air mata lolos dari ketegaranku.

Tuhan, apa yang salah disini?

🌸

Jogjakarta, sebuah kota dengan berjuta cerita. Aku tak mengerti mengapa segelintir orang berpendapat Jogjakarta begitu istimewa, begitu mempesona. Yang kurasakan beberapa tahun lalu, Jogjakarta perumpamaan dari pahitnya kopi tak seberapa dengan pahitnya sakit hati.








































Tangisan.

Kemarahan.

Perpisahan.

🌸

Best Regards,
la.

Untitled | Indonesian CastTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang