Night thoughts

20 1 0
                                    

Sudah kurang lebih 5 hari sejak kabar Jungkook di rawat dirumah sakit sampai di telinga Soojung. Namun bukannya mengambil keputusan untuk menjenguk laki laki itu, Soojung justru sibuk mempersiapkan ujiannya.

"Lee Soojung.. temanmu yang waktu itu dirawat di rumah sakit ya?" ucap Seokjin ditengah tengah makan malam yang cukup hening. Hampir hampir Soojung tersedak kuah sup dimulutnya.

"Eh?! Teman yang mana??" sahut Soojung yang langsung memasukan sesuap nasi kedalam mulutnya.

"Temanmu.. yang sering mengantarmu pulang. Yang waktu itu pernah pingsan.. yang membuatmu khawatir sekali waktu ituu.."

"Tidak tahu, tidak ingat.." jawab Soojung asal, lalu menyuap sepotong kimchi lobak.

"Eiiii, jangan pura pura lupa, kau bahkan hampir menangis ketika dia tidak sadarkan diri."

"OPPA!"

"Waeee?! Apa aku berkata sesuatu hal yang salah?"

"Hhh.. lupakan.. aku tidak ingin membicarakan hal ini.."

"Apa kalian sudah putus?"

"YHAK!"

"Kenapa kau suka sekali berteriak.. aku hanya bertanya, kau bahkan tidak menjawab satupun pertanyaanku dengan benar Lee Soojung!"

"Aahh molla.. aku sudah kenyang.. terima kasih makan malamnya oppa, ini sangat enak." Lalu Soojung bergegas pergi ke kamarnya dan meninggalkan Seokjin sendirian.

Sebenarnya ada perasaan bersalah yang Soojung rasakan saat membentak Seokjin dan tidak menghabiskan makanannya. Biar bagaimanapun pria itu sudah berbuat banyak untuknya.

Hanya saja, topik tentang Jungkook terlalu sensitive di telinga Soojung. Entahlah.. mungkin ini berlebihan tapi, Soojung tau, perlahan bayangan Jungkook mulai menguasai dirinya..

••••••••

Jungkook menatap keluar jendela ruang perawatannya. Musim semi hampir berakhir. Dokter mengatakan bahwa 2 hari lagi ia bisa keluar dari tempat itu.

Tiba tiba ponselnya berdenting. Ia hampir saja mengabaikan sebuah pesan yang masuk itu, saat ia lihat sebuah nama tertera disana.

"Jangan berpikiran macam macam, aku hanya bertanya karena banyak yang menanyakan keadaanmu padaku, apa kau sudah merasa baikan? -Soojung"

Entah ada energi apa, tiba tiba saja Jungkook tersenyum saat membaca pesan itu. Tubuhnya mendadak terasa lebih segar. Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang ia rasakan.

"Yaa.. bisa dibilang begitu." Balas Jungkook singkat.

Cukup lama tidak ada balasan dari Soojung.. sementara Jungkook mulai gundah menunggu balasannya.

Tiba tiba saja handphonenya kembali berbunyi.

"Oh.. baguslah kalau begitu."

Jungkook diam sebentar saat membaca pesan itu.. ia berharap Soojung akan mengirimkan pesan lain. Tapi nihil, ia terlalu berharap.

"Hanya itu saja?" Pikirnya dalam hati, tanpa pikir panjang Jungkook langsung mengetik pesan balasan.

"Kenapa kau belum tidur?"

Setelah ia kirim, ia agak sedikit menyesalinya, namun segera ia hilangkan pikiran itu semua saat membaca balasan dari Soojung.

"Apa kau sudah gila?! Tidak sadarkan diri dihadapanku, keesokan harinya tiba tiba kau muncul menjadi superhero, keesokan harinya lagi kau masuk rumah sakit. Aku rasa ada yang salah dengan isi kepalamu itu!"

Ia hanya terkekeh saat membacanya, ia membayangkan wajah menggemaskan Soojung saat sedang marah. Iya.. menggemaskan, ia harus akui itu. Baginya gadis itu terlihat menggemaskan ketika sedang meletup letup.

Lalu ia merubah lagi ekspresinya dan membalas pesan itu.

"Tulisanmu memberikan kesan kau sedang marah.. tapi bukan itu jawaban dari pertanyaanku Lee.Soo.Jung.. aah.. aku tahu.. apakah kau sedang memikirkanku? Atau kau mengkhawatirkanku selama 5 hari belakangan ini?"

Balasan Soojung cukup cepat kali ini, Jungkook tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pesan balasan yang.. yaa itulah Soojung.

"Ah, bukankah ini sudah malam? Selamat malam Kook-ah!"

Jungkook kembali tersenyum melihat jawaban dari Soojung, setidaknya membayangkan gadis itu sudah membuat energinya kembali. Ia bertanya tanya, apakah gadis itu tidak ada niatan untuk mengunjunginya?

Sejak kejadian malam itu, ketika Soojung merawatnya saat ia tak sadarkan diri, Jungkook mulai menyerah, menyerah untuk terus mengelak dari kenyataan bahwa, ia telah jatuh pada pesona Lee Soojung.

••••••••

Seokjin masih berkutat dengan lamunannya ketika ia menyesap wine dari gelasnya. Ia khawatir, akan kondisi sepupunya. Ia berfikir, apakah ini lebih buruk dari perkiraannya?

Malam itu ia mendengar Soojung seperti sedang berbicara pada seseorang. Bukan hanya berbicara biasa, ia bahkan bercerita pada orang itu.

Ia masuk ke kamar Soojung dan berniat mengecheck siapa yang sedang ia ajak bicara di balkon kamarnya malam itu. Ketika ia menemukan sesuatu yang di luar ekspektasinya. Ia hanya memandang dari ambang pintu, berusaha menelaah akan apa yang ia lihat malam itu.

Seokjin terlalu sayang pada adik sepupunya itu, sampai ia melupakan satu hal. Bahwa mungkin trauma yang Soojung alami begitu besar.

Ia menghela nafas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya. Tidak, bukan hal ini yang Seokjin inginkan. Ia hanya memutar mutar gelas winenya, sebelum menenggaknya sampai habis.

"Tidak, jangan seperti ini Lee Soojung.. kau tidak boleh seperti itu. Mungkin hipotesaku salah. Tidak mungkin kau seperti itu."

Ia lalu berdiri dan masuk ke kamarnya.













Mungkin kau akan sulit memahaminya Lee Soojung, tetapi.. aku sudah tahu. Ini semua hanya akan membuatmu bahagia pada akhirnya.. percayalah..

The Moon and The StarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang