Teka-teki Tersulit

45 0 0
                                    

Aku membuka mataku dan bertanya-tanya pada diriku sendiri.

"Aku dimana? Kenapa ini hampa sekali? Kursi? Punya siapa?" Ucapku kebingungan melihat sekitar.

"Yah.. Baiklah anak muda, selamat datang di akhirat. Sayang sekali jasadmu dalam keadaan koma sekarang." Suara langkah yang mendekat dari belakang kursiku dan duduk dikursi yang mirip singgasana tepat berada didepanku.

"Uh..? Maksudnya koma? Aku masih bisa hidup lagi?"

"Masih tapi hanya kemungkinan 25% kamu bisa bertahan." Ucapnya dengan meyakinkan kematianku.

"Kenapa? Aku hanya tersambar petir!"

"Oh.. Kamu bilang itu hanya? Biasanya arwah yang tersambar petir biasanya langsung dikirim kesurga, bisa bangkit dengan perubahan yang sangat drastis dan selama ini hanya kamu saja yang koma."

"Kenapa kamu tau segalanya?! Memang kamu siapa!"

"Aku Dewi Afrodit, yang membimbing remaja ke alam selanjutnya atau kembali ke kehidupannya jika bisa."

Tubuhku langsung tersentak mendengar namanya.

"Bagaimana? Sepertinya manusia menilaiku sebagai Dewi PSK? Sayang sekali itu salah besar hahaha...! Akulah Dewi seksualitas hahaha...!"

Melihat kelakuannya aku hanya menatapnya seperti menatap orang bodoh.

"Ini ngaku Dewi tapi sengklek otaknya." Ucapku dengan bergumam.

"Yo Dewi Seksi, satu hal yang perlu kutanyakan sebelum kamu membangkitkanku."

"Apa itu?" terduduk sambil memamerkan kemolekan tubuhnya.

"Apa aku bangkit tetap jadi manusia?"

"Tentu saja, gimana? Mau hidup lagi atau lanjut ke alam berikutnya?"

"Ya aku mau hidup lagilah, ada urusan yang harus kuselesaikan!"

"Oke." Melentikkan jarinya.

Sebuah portal muncul dibawah kakiku dan menerbangkanku keatas dan memaksa mataku untuk terpejam.

Suara burung yang sedang hinggap dan berkicau dipagi hari membuatku tersadar. Dengan perlahan aku bangun menatap sekitar.

"Aku dimana? Apa yang terja-" Aku menyadari ada yang aneh dengan suaraku.

"Tunggu dulu, apa yang?" Aku melihat kebawah dan menyadari bahwa aku punya payudara.

"Ingatlah satu hal wahai anak muda, siapapun yang melupakanmu sekarang ini walau hanya sedetik saja, maka musnahlah kamu dari pikiran mereka." Suara bisikan yang terdengar jelas ditelingaku mengisyaratkanku sebuah tanda.

"Hoi... **sel**... kamu baik-baik saja?" suara yang tak asing bagiku datang dari arah belakang.

"Siapa?" Berbalik menyambut datangnya suara itu.

"Kamu siapa? Kenapa kamu pake baju ini?"

Aku memikirkan namaku yang sudah tak kuingat lagi. Nama yang kudengar hanyalah "Sel"

"Aku Gisele Amanda. Aku pake baju ini dari aku sadar tadi."

"Gisele? Oh iya kamu Gisele ya? Lupa saya."

"Kamu Hisyam kan?" Ucapku sambil berdiri.

"Iyalah, memang siapa lagi? Ayo kerumah saya obatin."

Setelah sampai dirumahnya teman-teman pendakian udah nunggu kami kembali.

"Gisele..!" Valentin datang dan memelukku.

"Kenapa? Aku gapapa kok cuma lecet aja beberapa."

"Saya tinggal kedalem ya? Mau ngambil obat."

Semua IN : Expectations of RealityTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang