"Es juga pasti akan mencair bukan? Apalagi jika sudah dikenalkan dengan hangat."
Naeun's POV
"Annyeong oppa! Aku akan benar benar merindukanmu!" ucapku sambil memeluk kakak laki-lakiku. Posturnya yang tinggi membuatku sulit untuk mengalungkan tanganku di bahunya, aku tertawa kecil lalu memilih untuk memeluk pinggangnya.
"Aku akan mengunjungimu bulan depan, kau jaga dirimu disitu. Jangan aneh-aneh!" Jawabnya sambil membalas pelukanku dan mengusap-usap punggungku.
Aku melepas pelukan lalu melihat arloji yang melingkar manis di pergelangan tanganku—sudah jam 8—menandakan inilah saat yang baik untuk masuk kedalam terminal lalu menunggu pesawatnya yang akan berangkat pukul 8.10 pagi.
Aku memperhatikan kakakku yang menatapku sedih—secuil ketidakrelaan terlukis diwajahnya. Aku mendesah pendek lalu menangkup pipinya dan menekannya sedikit, "tidak perlu mengkhawatirkanku, lagi pula disana aku hanya akan bangun-pergi kuliah-pulang-makan-tidur."
Sebuah pengumuman yang berasal dari speaker bahwa pesawatku akan berangkat sebentar lagi membuatku melepaskan tanganku dari pipinya, melambaikan tanganku dan berjalan masuk.
Australia, aku akan merindukanmu, Seoul aku datang!
3rd party's POV
Incheon airport, Seoul, Korea.
18.00 pmSetelah sekian jam Naeun menempuh perjalanan melewati jalur udara, akhirnya dia bisa menarik nafas udara Korea.
Naeun tersenyum bahagia, mengingat ia tidak perlu tinggal dengan kakak laki-lakinya itu yang super protektif dan amat sangat gemar memberikan wejangan dan anjuran.
Mengambil handphone dari saku celananya, lalu mencari kontak penyewa apartemen di daerah Seoul, yang kebetulan ia temukan di internet tempo hari. Ah ketemu! Naeun lalu memencet tombol telepon dan menempelkan benda persegi itu ke telinganya.
"Halo, selamat siang! Ini aku Jung Naeun yang kemarin menelepon," Sapa Naeun yang berusaha untuk terdengar bersahabat.
Sungguh, Naeun bukanlah orang yang jutek atau cuek, namun dengan sifatnya yang introvert Naeun lebih memilih disapa daripada menyapa.
Sebuah suara terdengar dari benda persegi tersebut, "Ah iya! Yang memesan apartemen dengan teman sekamar bebas ya?"
Naeun tersenyum kecil, lega karena orang itu mengetahuinya—menandakan Naeun tidak perlu susah-susah menjelaskan apa yang ia inginkan kepada sang penyewa apartemen itu.
"Iya betul, boleh aku meminta alamatnya, dan kuncinya barang kali? Atau apakah kita perlu bertemu?"
"Tidak perlu! Alamatnya di 38 Ori-ro 22na-gil, Guro-gu lantai 3 kamar nomor 36. Sangat dekat dengan SOPA. Dan untuk kuncinya, kau hanya perlu mengetuk, karena teman sekamarmu sudah lama tinggal disana. Aku juga sudah mengabarinya kalau kau akan segera datang, jadi tidak perlu khawatir."
"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas bantuannya!" Ia lantas segera menutup panggilan lalu mengetikan alamatnya di aplikasi notes.
38 Ori-ro 22na-gil, guro-gu lantai 3 kamar nomor 36.
Kebetuntungan sedang berpihak kepada Naeun karena sebuah taksi tiba-tiba muncul didepannya. Naeun segera melambaikan tangan memanggil taksi tersebut lalu menaikinya, tidak lupa memberi alamat.
Jika Naeun ditanya apakah ia penasaran dengan rupa teman sekamarnya maka jawabannya pasti iya, malah jantung Naeun berdegup sangat cepat—penasaran apakah teman sekamarnya akan menyukainya atau tidak, apakah teman sekamarnya fashionable atau tidak, apakah teman sekamarnya cantik atau jelek.

KAMU SEDANG MEMBACA
Arrogant idol
Fanfiction[M] Kilat iris penuh goresan itu tidak akan terlihat jika kau berdiri dengan jarak 2 meter darinya, jika kau hanya memperhatikannya didalam sebuah foto yang diambil oleh kamera dengan lensa teropong ataupun rekaman fancam 1080p. Mendekatlah, rasakan...