Author's POV
"Hey, Taylor!" sapa Niall seperti biasa, lewat jendela rumah Tay.
Tay hanya berpura-pura tidak mendengar dan malah asyik memainkan laptopnya. Niall yang pantang menyerah pun langsung mencoba mendekati Tay. Niall menaiki jendela itu dan...
BRUUUK!
Niall tergeletak di lantai, ia terjatuh saat ingin turun dari jendela. Tay yang mendengar bunyi jatuh yang keras itu langsung membalikkan badannya.
"Astaga! Niall!" Tay yang tadinya terkesan tak acuh pada Niall, langsung berubah menjadi khawatir dengan Niall.
"Niall, sadarlah..." Tay mengguncang-guncangkan Niall yang masih tergeletak di lantai.
Niall tidak menunjukkan tanda-tanda kesadarannya sama sekali. Tay langsung menekan lutut Niall cukup keras.
"Aaaak! Kau gila ya? Sakit tahu!" Niall langsung bangun dari 'kepura-puraan pingsannya', karena sakit saat lututnya ditekan.
"Ugh! Aku pikir kau sudah mengalami geger otak..." gumam Tay menekan lutut Niall dengan telunjuknya.
"Kau pikir otakku ada disini?" tanya Niall menutupi lututnya agar tidak disentuh atau bahkan ditekan oleh Tay lagi.
"Hahahaha, bisa jadi. Eh? Aku kan sedang kesal denganmu, kenapa malah bercanda?" Tay langsung bersedekap dan mengerucutkan bibirnya.
"Kesal kenapa? Pantas saja kau tidak mau mendengarku..." tanya Niall tidak sadar dengan kesalahan yang dirinya perbuat.
"Kemarin, kau malah asyik kencan... Aku berjualan sendiri. Lalu badanku jadi pegal-pegal tahu!" keluh Tay memainkan rambut lurusnya yang dikepang.
"Oh, yaampun! Aku lupa! Habisnya kan jarang sekali Bella mau aku ajak jalan-jalan..."
"Lalu?" Tay memberi kode agar Niall meminta maaf.
"Baiklah, maafkan aku Tay... Aku berjanji jika ingin kemanapun, aku akan menghubungimu..." mohon dan janji Niall membuat Tay tersenyum.
"Ya, aku memaafkanmu. Tapi jangan ingkari janjimu ya," Tay memupuk pundak Niall.
"Oke!" Niall mengangkat jempolnya sambil tersenyum riang.
"Niall, jangan buat aku marah denganmu lagi yaa... Karena aku tidak bisa marah denganmu..." ucap Tay lembut.
"Iya, sayang..." balas Niall dengan nada bercanda, tidak serius.
"Kau janji yaa, babe?" Tay juga malah ikut-ikutan memanggil dengan sebutan kasih sayang sambil mencubit pipi Niall.
Tanpa disadari, Bibi Courtney lewat di depan ruangan Tay ketika Tay mencubit pipi Niall sekaligus memanggil dengan sebutan 'Babe'. Bibi Courtney pun langsung berdiam di depan pintu kamar Tay yang dibuka blak-blakan.
"Ehmm..." bibi Courtney berdeham dengan sengaja. Tay pun langsung panik karena kehadiran bibinya, lalu segera melepaskan cubitan dari pipi Niall. Taylor tidak mau Bibi Courtney mengira bahwa dirinya dan Niall sudah menjalin hubungan yang lebih dari hunbungan pertemanan.
"Kenapa tidak bilang kalau sudah berpacaran?" tanya Bibi Courtney membuat pipi Niall dan Tay mendadak memerah.
"Sudahlah jangan melongo seperti itu. Sudah yaa, bibi tinggal dulu..." sambung Bibi Courtney, padahal diantara Tay dan Niall belum ada yang mengeluarkan jawaban sama sekali.
***
Setelah Bibi Courtney meninggalkan mereka berdua, keadaan menjadi semakin aneh. Mereka berdua tidak mengucap sepatah kata pun. Sepertinya mereka berdua merasa canggung, hal ini belum pernah dialami mereka berdua selama 7 tahun. Baru kali ini.
"Aduh, tolong maafkan ucapan bibiku, ya..." Taylor memulai pembicaraan pada akhirnya.
"Tidak apa, Tay. Oh ya! Sebagai gantinya atas kesalahanku kemarin, aku harus apa?"
"Hmm... Bagaimana kalau kau berjualan froyo sendirian, kan itu adil... Bagaimana?" usul Tay kali ini sudah tidak menunjukkan wajah canggungnya.
"Baiklah. I'll do that. By the way, tapi kau ikut aku atau tidak?" tanya Niall mulai bangkit dari lantai.
"Tidak, aku masih pegal-pegal nih..." jawab Tay memijat-mijat kakinya.
"Oke, aku berjualan dulu yaa... Lebih baik kau istirahat, aku tidak ingin kau sakit..." Niall mulai naik ke atas jendela lalu memberikan senyum manisnya untuk Tay.
Baru kali ini juga, Tay terpana melihat senyuman sahabatnya itu. Dia merasakan hal yang sama seperti saat ia melihat senyuman Harry.
"Iya, aku akan istirahat..." Tay juga ikut memberi senyuman lalu beranjak berdiri ke dekat jendela untuk sekedar melihat Niall aman sampai ke stan Frozen Yogurt.
***
Sedari tadi aktivitas Tay bukanlah istirahat, melainkan melihat Niall yang sedang melayani pelanggan Frozen Yogurt. Ia hanya tersenyum melihat stan froyo sangat ramai hari ini. Dan bukan hanya karena itu, Tay tersenyum karena peristiwa tadi saat bibi Courtney datang. Itu peristiwa lucu plus menegangkan untuknya.
To be Continued ☺
______________________________________________________
(W/N) : Ayo jangan lupa vote + comment... Karena vomment kalian itu bener-bener berharga. :D
Oh ya itu multimedia, itu pas bagian Tay ngeliat Niall dari jendela yaa... :)
Maaf yaa Chapternya pendek, aku baru ngetik... kemarin sibuk abis MOPD... hahahaha

KAMU SEDANG MEMBACA
Frozen Yogurt (Taylor Swift and Niall Horan)
Fanfiction[CHECK THE TRAILER] Taylor Swift, 19 tahun, seorang mahasiswi yatim piatu yang selalu bermimpi menjadi pengusaha sukses di usaha muda, walaupun peluang Swift sangatlah kecil. Why? banyak alasan untuk pernyataan tadi. Pertama, Swift adalah anak yatim...