2

189 28 3
                                    


Tidak ada yang mustahil di dunia ini.
Siheon juga tidak bisa menyalahkan keadaan jika ban sepeda barunya kempes karena paku payung. Padahal parkiran bersih bebas dari paku-pakuan dan benda tajam lainnya. Seperti yang diungkapkan pada kalimat pertama, pasti ada seseorang yang sengaja menebar paku payung hanya di sekitar ban sepedanya.

Siheon pergi ke depan mencari tumpangan. Salahnya sendiri kenapa gak bawa motor atau mobil, keasikan dari dulu naik sepeda, fasilitas mewah gak pernah dipake.


"Chenle.. Chenle!"

Siheon mukul kap mobil mahal punya Chenle. Sebuah kepala menyembul dari kaca, bukan Chenle melainkan Guanlin yang nyetir.


"Coba ngomong 'Guanlin oppa, nebeng juseyo'"

Belum ngomong, udah tau aja.


"Guanlin oppa, nebeng juseyo."

Siheon tersenyum paksa, harga dirinya sebagai tetua jatuh sudah.

"Gue juga dong, 'Chenle gege, nebeng juseyo'"

"Chenle gege, nebeng juseyo."

Keduanya tersenyum, kaca mobil tertutup. Saat Siheon menarik pembuka pintu mobil (?), mobil tersebut malah lari. Di situlah Siheon menyesali kebodohannya. Mereka bertiga baru aja kenalan pas ospek, Siheon tidak tau kalau kedua WNA laknat itu masih kekanak-kanakkan.

Siheon menendang pantat mobil Chenle. Kemudian, klakson mengejutkan sekaligus nyaris menabrak gadis itu.

"Keluar lo!" Siheon berani membentak karena tau siapa pemilik mobil itu.

"Hyunjin oppa, nebeng juseyo," ucap Hyunjin tiba-tiba. Kenapa tiga cowok yang ia temui selalu minta permohonan?

"Gue gak ada niat nebeng ama lo!"

"Ooh, gak niat."

"Iya!"

"Btw, ini jam berapa ya?"

"Setengah tujuh."

"Dah malem dong ya."

Siheon menatap Hyunjin sinis. Ia makin curiga kalo Hyunjin yang ngempesin ban sepedanya.

"Lo tau kan komplek perumahan kita punya mitos jam tujuh malam."

"Gue gak takut tuh."

"Yakin? Kan lo tinggal sendiri."

Siheon kembali mengingat hari pertamanya di rumah baru. Malam hari tepat jam tujuh ada yang mengetuk pintu, namun setelah dicek tidak ada orang sama sekali. Terjadi empat hari berturut-turut.

"Mobil lo gak ada bom nya kan?" tanya Siheon.

"Ya udah kalo gak mau."

Hyunjin menutup kaca mobilnya. Siheon menggedor dan mengiyakan ajakan Hyunjin. Lantas Hyunjin melempar kunci mobilnya ke arah Siheon agar gadis itu menyetir sedangkan dia tiduran di jok belakang.

"Gue nabrak ga tau, ya."

"Lo kira gue mau gitu ngasih mobil ke orang yang gak bisa bawa hah?"

Siheon pusing berdebat, langsung saja ia melajukan mobil pulang ke rumah. Benar saja, perumahan sangat sepi. Untung rasa gengsi Siheon bisa terkendali, mana mau dia nuntun sepeda sendirian sampai ke rumah. Kalo ada penculik gimana?

"Dah sampe oi!" Siheon memukul kaki Hyunjin yang menjulur menyentuh tip mobilnya sendiri.

"Ntar dulu mah, nanggung lima jam lagi deh ya.."

Time To Have You | Hwang Hyunjin ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang