Setelah tiba dirumah sakit, aku mendadak jadi pusat perhatian banyak orang.
"Eh, itu cewek cantik banget ya?"
"Bodynya bagus, apa dia kesini mau perawatan?"
"Itu cewek cantiknya... Eh lu niat nembak gak?"
"Apa dia mau lamar kerja disini?"
"Aduhai banget sih cewek itu, tapi kenapa dia pake motor kopling tua? Tomboy ya?"
Kurang lebih itulah yang aku dengar selama berjalan menuju meja informasi.
"Permisi.. Dokter piket laboratorium ada Kak?" Menghampiri meja informasi yang gak ada pengunjungnya.
"Sebentar mbak, saya cek dulu." Mengetik sesuatu di komputernya.
"Iya kak.." Mengetuk meja dengan jari telunjuk.
"Ada yang piket mbak tapi bukan dokter tapi analis, ada perlu apa mbak?"
"Mau cek kromosom DNA, Makasih ya kak." Bergegas pergi.
Posisi ruang lab ternyata sangat dekat sekali, bersebelahan dengan ruang IGD. Ketika aku masuk, ada seorang yang sangat tampan duduk dan mempersilakanku untuk duduk dan menjelaskan tujuanku untuk mengecek kromosom. Aku bingung, aku ini cowok tapi bisa tertarik sama cowok lain itu gimana?
"Mbak, ditensi dulu ya sebelum dicek." Mengambil alat tensi digital dari laci mejanya.
"Iya pak." Ucapku dengan menundukkan kepala dengan wajah yang mulai memerah.
"Santai aja mbak. Kok mukanya merah banget? Lagi demam?" Memasangkan tensinya.
"E-nggak kok enggak." Mengalihkan pandangan ke sudut rungan.
Setelah pengecekan tensi darah, aku diminta berbaring dan mengambil darah.
"Mbak, inget sama saya gak?" Pertanyaan yang langsung membuatku terkejut.
"Nggak, aku gak inget." Menatapnya dengan pandangan membingungkan.
"Saya minta maaf walaupun saya lupa nama mbak, saya pernah jadi pacar mbak tapi karna kesalahpahaman akhirnya mbak hilang selama seminggu lebih." Ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Defak! Ini orang serius aku ini pacarnya? Ntahlah aku hanya bisa mengiyakannya aja." Gumamku dengan melirik kearah tangannya dan memegang tangannya.
"Pak, aku gak tau yang bapak bicarakan, tapi aku gak bisa balikin waktu untuk mengingat semuanya. Karna aku adalah orang yang berbeda. Aku sudah melupakan semua yang berlalu, oke? Sekarang, inilah hidupmu pak dan nikmati aja. Ngomong-ngomong itu yakin darah yang keambil gak kebanyakan?" Memberikan pengertian sekaligus memecah suasana haru yang dibuat oleh analis itu.
"Eh, iya. Abis ini mbak tunggu diluar sebentar. Saya mau melakukan pengecekan secara menyeluruh."
"Oke.." Beranjak pergi dan menunggu di bangku tunggu di depan lab.
Beberapa orang yang lalu lalang memperhatikanku yang hanya duduk manis dengan headset terpasang ditelinga. Suasana memang terbilang ramai namun hanya ada suara hentakan sepatu berjalan tanpa ada suara orang bicara sama sekali. Tiga lagu sudah habis kudengar, Analis tadi memanggilku untuk masuk dan melihat hasil pengecekannya.
"Jadi begini, ini atas nama mbak.."
"Gisele pak." Ucapku memotong pembicaraan.
"Iya, mbak Gisele. Jadi di hasil pengamatan kromosom yang ada, mbak memiliki gen warna kulit cerah, tinggi badan yang lumayan dan-"
"Aku gak tanya soal itu pak, ini hal yang mungkin bisa membuat bapak bingung." Menatapnya dengan penuh keseriusan.
"Memang yang mau mbak tanya apa?" Menyangga dagunya dengan kedua tangannya.
