📍9

2.1K 284 8
                                    


Kelas resmi usai beberapa menit lalu. Dosen menutup pertemuan hari ini dengan selamat siang. Diikuti mahasiswa berhambur keluar kelas. Mengecap kembali kebebasan masa muda.

Menyisakan Jungkook dan Yuju. Berkutat dengan setumpuk kertas. Hasil jerih payah kawan sekelas. Untuk penuhi tugas tentu saja. Usaha agar tak perlu ulang kelas di tahun berikut.

Keduanya, Jungkook dan Yuju, diminta menyortir tugas. Kemudian membawanya ke meja sang dosen.

“Makasih, Kook. Sudah sedia bantu.” Ujar Yuju. Tangan masih sibuk bekerja urutkan tugas sesuai abjad.

Tugas seharusnya Yuju seorang yang emban. Selaku penanggungjawab kelas. Sudah biasa memang.

Inisiatif Jungkook pribadi untuk ulurkan tangan. Melihat Yuju sendiri tidak tega hatinya. Apalagi harus bawa setumpuk kertas seorang diri.

Well, meskipun posisi bawah, Jungkook laki-laki juga kalau lupa. Otot di badan bukan pajangan semata.

“Santai saja. Lagipula Kak Tae belum datang.”

“Kim Taehyung maksudnya?”

Jungkook anggukkan kepala.

Yuju mangut-mangut. “Setiap hari antar jemput, pacar atau ojek?”

Jungkook terkekeh manis. “Ojek memang.”

Eeyy, pacar sendiri dikata ojek. Marah aku tidak tanggung jawab ya.”

“Lho, memang bukan pacar kok.”

Tangan Yuju berhenti bekerja sejenak. Tatap Jungkook penuh selidik. “Oh, bukan?”

“Iya, Yuju.”

Yuju coba temukan jejak-jejak dusta. Nihil.
Memang belum sandang status pacar, bukan?

“Lalu apa?”

“Ojek tadi dikata.”

Ih, Jungkookie serius.” Yuju mencebik. Kesal sendiri. Apa daya tak mampu marah pada si buntalan kelinci. Lemah hati oleh entitas menggemaskan. Jungkook salah satunya. “Lalu apa?”

Tiba-tiba ditanya begitu, Jungkook bungkam. Bingung sendiri. Antara Kim Taehyung dan Jeon Jungkook ada pertalian apa?

“Yakin, kau pasti simpan rasa pada Kak Taehyung.” Celetuk Yuju asal.

“Sepertinya.”

Lho?

Giliran Yuju bungkam.

Niat goda tapi Jungkook akui secara sukarela. Tak kesampingkan wajahnya yang total merah tentu saja. Kasat mata sekali Jungkook menahan malu setengah mati.

Padahal hanya ucap sepatah kata. Namun efeknya luar biasa. Pikul makna dalam sangat pula.

Ya. Jungkook bingung uraikan definisi dari hubungannya dengan Kim Taehyung.

Tapi tentang perasaan Jungkook tau kok.
Tidak bodoh hingga gagal artikan rona merah dan debaran janggal di dada.

Entah itu dua tahun lalu. Entah itu sekarang.

Definisinya tak berubah oleh waktu.

Jeon Jungkook memang simpan rasa pada Kim Taehyung.

Dan ketika angin sampaikan vokal berat ke kupingnya, Jungkook percaya ia tak salah. Definisi debaran impulsif di dada benar sudah.

“Dek, belum selesai? Perlu dibantu?”

Pemuda Kim berjalan mendekat. Tak sadar telah jadi subjek perbincangan dua orang di hadapannya.

Jungkook sunggingkan senyum lebar. “Sudah, Kak. Sisa kumpulkan ke meja dosen saja.”

“Biar aku kumpulkan. Pulang saja, Kook.” Kata Yuju.

Jungkook jelas menolaknya. “Enggak. Ini berat lho. Tangan kurus begitu memang kuat?”

Ingin Yuju geplak kepala Jungkook. Untung sayang. Untuk tak cukup nekat layangkan pukulan di depan Taehyung.

“Biar Jungkook saja. Gendut dia. Pasti kuat.” Taehyung menyahut.

Ih, Kakak! Enggak gendut lho aku.” Jungkook mencebik lucu.

Buat Taehyung dan Yuju total gemas.

Enggak gendut. Gembul iya.

“Yuju pulang aja. Toh hanya tinggal kumpulkan.”

Sepakat akhirnya.

Sisakan Jungkook dan Taehyung. Berjalan berdampingan menuju ruang dosen. Dengan Taehyung bawa sebagian besar tumpukan kertas. Keduanya hanya letakkan setumpuk tugas di meja dosen pengampu saja. Diminta begitu memang.

“Dek, makan ayo.” Taehyung membuka pembicaraan.

Sepeninggalan Yuju keduanya bungkam. Jungkook mogok bicara. Masih kesal dikata gendut tadi.

“Nggak mau. Nanti gendut.” Bibir Jungkook mencebik.

Aduh, gemas.

Taehyung mana tahan untuk tidak cubit pipinya yang kembung lucu.

“Biar gendut, masih sayang kok.”

“Aduh, Kak. Ini pipi sakit.” Jungkook singkirkan tangan Taehyung di pipi. Sekaligus sembunyikan rona merah di pipi.

“Makan ya? Sakit lagi siapa yang susah?”

“Aku.”

“Lho bukan aku?
Harus suapin, temani tidur semalaman pula. Nggak sadar siapa yang genggam tangan sambil tidur. Manja.”

Rona merah yang merayap di wajah Jungkook tak lagi mampu disembunyikan.

Ini kenapa Taehyung ungkit kejadian lampau pula.

Gemas sendiri. Taehyung usak surai gelap Jungkook.

“Makan di kantin saja ya?”

“Tumben. Kenapa, Kak?”

Taehyung pasang cengiran kotak. “Masih ada kelas. Takut nggak keburu.”

“Kewajiban masih ada, kenapa berlagak jemput segala.” Jungkook mendelik.

Aura intimidasinya nol. Lucu jatuhnya.

“Jemput kamu juga kewajiban lho.”

“Aku bisa pulang sendiri, Kak. Jangan cari alasan bolos. Nggak suka.”

Ah, Taehyung suka. Omelan Jungkook bisa adiktif juga. Heran Taehyung. Orang jengkel bisa terlihat manis juga ya?

Tarik gemas kedua pipi Jungkook. “Iya, manis. Nggak lagi.”

“Janji kelingking.”

Jungkook ulurkan jari kelingkingnya. Dibalas langsung oleh Taehyung. Kaitkan kelingkingnya pada jari si manis.

“Janji nggak bolos lagi. Kalau nggak kepepet.
Toh, untuk masa depan kita juga. Modal tampang jelas tak bisa hidupi kamu dan anak kita kelak.”

Jungkook total merah setelahnya. Entah untuk yang keberapa.

“Ngelantur. Anak siapa tadi dikata?” Guman Jungkook kesal kontras dengan merah di pipi gembilnya.

“Lapar. Ayo makan. Buruan, Kak.”

Jungkook melenggang pergi. Melarikan diri.

Tinggalkan Taehyung beserta segaris senyum kotak penuh afeksi.

Oh, juga seikat rasa untuk memiliki.









|
Aloha?
Update karena lagi sedih
💜

Love, JK  [ TaeKook ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang