"Putu-ku(cucuku) cah wadon ayu."
"Ada apa Eyang?" sahut gadis kecil berusia sepuluh warsa. Bibirnya tersenyum tipis ditujukan pada seseorang yang disapanya Eyang. Sepasang mata jeli dan bening bagaikan bola mutiara. Alis hitam melengkung menghias dahinya. Pipinya halus putih. Dan sinom (anak rambut) tampak mengukir di pelipis, menjadi pembatas antara rambut dan wajah. Gadis kecil itu menghampiri seseorang yang duduk di atas amben.
Orang tua itu berusia tujuh puluh enam warsa. Wajar jika semua rambut di kepalanya telah memutih. Sorot mata sayu memancarkan kekecewaan batin yang hanya bisa dipendamnya. Wajahnya dipenuhi keriput, menutup bekas ketampanan dan kegagahannya. Bibirnya yang tipis itu mencoba untuk selalu tersenyum. Pria tua itu tengah menggerak-gerakkan sebuah wayang kulit.
"Beri saya satu pertunjukan wayang, Eyang!"
Pria tua itu tersenyum dan menyerahkan wayang yang sejak tadi dimainkannya.
"Kenapa tidak Puspa saja yang coba mendalang?"
Gadis kecil itu kegirangan dan mengambil benda dari kulit berwujud seorang ksatria tangguh dalam pewayangan.
"Akulah Bisma Dewabrata! Benteng Hastinapura!" Gadis kecil itu sangat bersemangat sekali. Sesekali tangan mungilnya menggerakkan wayang Bisma.
"Begitu kan, Eyang?" Pria tua itu kembali tersenyum. "Kenapa Eyang begitu menyukai Raden Bisma? Seluruh kamar Eyang pun dipenuhi oleh wayang Raden Bisma?"
Pria tua tersenyum tipis. "Dengar wejanganku, Putu-ku. Raden Bisma adalah seorang ksatria tangguh Hastinapura. Dia bersumpah untuk tidak menikah seumur hidup disebabkan karena baktinya kepada romo dan negaranya. Bahkan sewaktu Perang Bharatayuda terjadi ia memihak negeri kelahirannya, meskipun hatinya diberikan kepada para Pandawa. Orang yang berbakti pada negara akan mendapatkan nirwana setelah ia gugur."
"Maksud bakti kepada negara itu apa Eyang?"
"Mengabdikan seluruh hidup kita pada negara, melakukan segala hal yang berguna bagi rakyat dan mengutamakan kepentingan negara dibanding kepentingan dirimu sendiri."
"Bisakah kita sebagai rakyat biasa berbakti pada negara?"
"Jika ada kesempatan untuk berbakti pada negara, maka laksanakan baktimu. Karena jika kau mengabaikannya, nanti akan menyesal, seperti Eyang." Wajah pria yang tak lain adalah Badra Genjik itu menunduk dan penyesalan tampak jelas di matanya.
"Mengapa menyesal? Apa yang Eyang lakukan sehingga Eyang menyesal?" tanya Puspa Resmi lagi.
"Kau memang anak yang selalu ingin tahu, Eyang senang akan hal itu. Tapi ingat keadaan serta tempatnya. Dan untuk pertanyaanmu ini, Eyang tidak bisa menjelaskan. Nanti setelah kau dewasa mungkin kau akan mengerti, Putu-ku."
Gadis kecil itu terus menunggu agar Badra Genjik mau menjawab pertanyaannya. Namun sayang beberapa sasi setelah itu, eyangnya telah dijemput oleh Batara Yamadipati meninggalkan keluarga kecilnya termasuk pertanyaan Puspa Resmi waktu itu.
Dan kini umur gadis itu sudah dewasa. Ia telah tahu penyesalan yang dimaksud Badra Genjik. Eyangnya menyesal sebab telah mengabaikan tanggung jawab sebagai putra seorang tumenggung. Badra Genjik telah gagal melaksanakan baktinya pada negara. Sekarang Puspa Resmi menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya. Ia sering mendengar kebijaksanaan sang adipati Anjukladang itu. Bahkan saat bertemu langsung dengannya waktu itu, Puspa Resmi dapat menangkap keramahan dan keagungan dalam diri Adipati Anggabaya.
Sementara jika ia memilih hidup bersama Umbara, sama saja dengan kebahagiaan semu. Sebab seluruh rakyat Anjukladang akan bersedih. Alangkah durjananya seseorang yang mampu hidup seperti itu. Hal itu dapat disamakan dengan penguasa lalim yang menindas rakyat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Renjana Berdarah
Historical Fiction...Tak lama terdengar suara seraknya menyanyikan tembang macapat Pangkur. Mangkono ilmu kang nyata... Sanyatane mung we reseping ati... Bungah ingaran cubluk... Sukeng tyas yen den ina... Nora kaya si punggung amung gumunggung... Ugungan sadina dina...