Rahim ibu pernah sekali menjadi teduhan buatku;
aku tidak tahu tentang apa yang bakal terjadi kelak.
Tangisan kebebasan bergema di ruang nafas ibu;
tangisan keliru tanda kemenangan si kecil itu.
Titian hidup ini perlahan-lahanku amati;
hidup mengajarku tentang betapa
indahnya sepi
dan manisnya mati.
Kudrat terus membawaku;
masa mengiringi jiwa ini
penuh sabar dan adil
menuju alamat abadi.
Pesan ibu cuma satu;
bekalkan dirimu dengan ilmu
selamatkan bangsamu.
Ku janji kan terus menjadi teduhanmu;
di dunia fana
juga di seberang sana.

YOU ARE READING
Sejarah Dari Mata Pengalah
PoetryKumpulan puisi dan prosa tulisan M. Firdaus Kamaluddin.