(7) - Tujuh

695 57 3
                                    

"Sampai sini dulu latihannya, kita lanjut minggu depan," seru Pak Dion, pelatih ekskul sepakbola di SMA Bakti Mulia. "Raka, kemari sebentar."

Dengar bercucuran keringat dan rasa haus, Raka yang hendak menuju ke pinggir lapangan bersama teman-temannya, bergegas menghampiri Pak Dion. "Ada apa, Pak?" tanyanya.

"Minggu depan saya tidak bisa hadir, jadi sementara tolong kamu gantikan saya."

Raka mengangguk. "Baik, Pak." lalu setelahnya kembali menuju ke pinggir lapangan. Di sana, sudah ada ada Deri yang langsung memberikan sebotol air mineral untuknya.

Suasana di sekolah sore ini sudah mulai lengah, hanya terdapat beberapa siswa yang kebetulan mendapat jadwal ekskul seperti Raka dan teman-temannya.

"Rak," sahut Deri, yang hanya dibahas gumaman oleh Raka yang sedang mengganti sepatu bolanya dengan sepatu biasa. Sebelum melontarkan pertanyaannya, Deri berpikir sejenak, masih ragu apakah ia harus menanyakan hal yang ingin ditanyakannya pada Raka atau tidak. Namun, ia memantapkan keputusannya. "Menurut lo Alena gimana, sih, sekarang?"

Raka sontak menghentikan aktivitasnya, ditatapnya Deri dengan kesal yang membuat cowok itu menelan ludah dalam-dalam. Namun, sebisa mungkin Raka kembali mengontrol ekspresinya. "Biasa aja," jawabnya datar.

"Maksud gue, apa lo gak merasa ada yang berubah dari dia gitu? Secara lo berdua kan du-"

"Der, gue nginep di rumah lo, ya, besok kan libur." Andre dengan cepat memotong ucapan Deri sambil merangkul bahunya akrab. Ia tahu kemana arah pertanyaan yang akan dilontarkan temannya itu. "Kita main game sampe pagi, oke?" ajaknya, sambil menaik-turunkan kedua alis.

"Ajak gue dong!" sahut Putra dengan semangat begitu kata 'game' terdengar di telinganya.

"Apaan sih lo berdua!" Deri menyentakkan tangan Andre dari bahunya. "Tapi boleh deh, kebetulan di rumah gue lagi gak ada orang, iseng juga sendirian."

"Alah, bilang aja takut!" Putra mengoreksi ucapan Deri. "Badan doang gede," sambungnya yang hanya dibalas cengiran oleh Deri.

"Lo ikut, kan, Rak?" Sekarang semuanya dengan kompak menatap Raka dan menunggu jawaban dari pertanyaan Andre.

"Ngga, gue mau tidur." Raka mengambil seragam sekolahnya dan masuk ke dalam toilet yang kebetulan berada di tidak jauh dari tempatnya. Sesaat kemudian, kembali lagi dengan seragam yang sudah melekat di tubuhnya.

"Lo serius gak mau ikut, Rak?" Andre kembali mengulang pertanyaannya.

"Engga." Raka bersikukuh dengan jawabannya. "Gak lihat nih kantung mata gue udah segede apa gara-gara kurang tidur?"

"Hm, iya juga, sih." Andre manggut-manggut kepala dan langsung mengarahkan pandangannya untuk Deri. "Kalau gitu, gue gak jadi nginep di rumah lo deh, Der. Kantung mata gue juga gede banget nih, nanti gak ada cewek yang mau sama gue lagi."

"Kalau Andre gak jadi ikut, gue juga gak jadi, deh." Putra mengikuti jejak Andre.

"Loh, loh, loh? Mana bisa!" Deri merasa keberatan dan tidak terima. "Sekali jadi tetep jadi!" ujarnya lagi.

"Yok, cabut." ajak Andre, yang tidak menghiraukan ceracauan Deri di belakang sana.

Raka bersama teman-temannya akhirnya berpisah di pelataran parkiran dan mulai meninggalkan sekolah satu persatu. Sebelum keluar dari gerbang, Raka menyempatkan untuk memencet klakson mobilnya untuk menyapa satpam yang sedang berjaga.

Namun, Alena yang sedang berdiri di pos satpam seorang diri menyita perhatiannya. Cewek itu belum pulang dan seakan tidak sadar kalau mobil Raka melewatinya.

Raka melirik jam tangannya. Pukul lima sore.

Tumben gak bareng Arka.

Sambil perlahan-lahan melajukan mobilnya, Raka menyempatkan diri untuk kembali melihat Alena melalui kaca spionnya. Cewek itu terlihat gusar, tapi Raka tidak peduli, kali ini ia benar-benar melajukan mobilnya.

Ah, sial!

Raka menghentikan mobilnya, berputar, dan kembali ke arah sekolah.

Untuk hari ini saja. Ya, untuk hari ini saja Raka akan mengesampingkan egonya.

"Buruan masuk!" seru Raka begitu kaca jendela mobilnya ia buka lebar-lebar. Hal itu tentu saja membuat Alena bingung setengah mati.

"Raka?" Alena menatap Raka tidak yakin.

"Ayo masuk!"

"Hah?"

"Lo mau pilih pulang bareng gue atau nungguin Arka jemput sampe tengah malem?"

Alena diam dan berpikir sejenak. Entah lupa atau tidak, tapi Arka memang tidak membaca ataupun menjawab pesannya sejak ia selesai kerja kelompok setengah jam yang lalu.

"Gue gak akan kasih tawaran kedua."

"O-oke."

Alena lantas masuk ke dalam mobil Raka dan memasang sabuk pengaman. Raka pun tidak ingin buang-buang waktu, ia langsung menancapkan gasnya meninggalkan sekolah.

•••

Sepanjang jalan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Raka dan Alena. Ditambah dinginnya ac di dalam mobil seakan menambah kesan dingin di antara mereka. Selain tidak ada topik untuk dibicarakan, keduanya memang enggan untuk saling berbicara.

"Gue lupa gang rumah lo yang mana, jadi tolong kasih tau kalau udah deket." Raka akhirnya membuka suara terlebih dahulu sambil melambatkan laju mobilnya begitu sampai di daerah perumahan Alena.

"Gang ketiga dari jalan ini kita belok kanan." sahut Alena sambil menunjuk gang ketiga yang dimaksudnya dengan jari telunjuk.

"Yang itu?" Alena bergumam mengiyakan. Raka pun mengikuti dengan memutar setir mobilnya ke arah gang yang Alena maksud.

"SALAH!"

Raka menginjak rem mobilnya dalam-dalam. Tubuhnya dan tubuh Alena terdorong ke arah depan dengan kencang. Untung saja masih ada sabuk pengaman yang menahan.

"Ada apa, sih?!"

"Lo salah belok!"

"Salah gimana?!"

"Ini gang kedua, bukan gang ketiga!"

"Mana gue tau!"

"Kan udah gue kasih tau!" Alena sewot, jelas-jelas ia sudah memberitahu Raka sekitar dua menit yang lalu.

"Yaudah ini mundur!" Begitu Raka berniat memundurkan mobilnya, mobil dari arah belakang mengklakson beberapa kali. "Sial!" umpatnya, mau tidak mau ia harus mengikuti jalan sampai ketemu dengan jalan lain.

"Elo sih!"

"Udahlah, di depan pasti ada jalan lain," sahut Raka dengan intonasi yang lebih santai.

Dan memang benar, di ujung gang memang ada jalan lain yang terhubung dengan gang yang dimaksud Alena pertama kali.

"Eh-eh, stop di sini aja!"

Raka lagi-lagi harus rem mendadak karena Alena. "Apalagi, sih?!" tanyanya kesal.

"Gue turun di sini aja." Alena melepas sabuk pengaman dari tubuhnya.

"Kenapa? Rumah lo kan udah keliatan!" Raka melihat ke arah rumah Alena dan mendapati mobil serta motor yang biasa dipakai Arka ke sekolah terparkir di sana.

"Udah tau kan jawabannya?"

"Gue gak peduli, niat gue ba-"

Belum selesai dengan ucapannya, Alena sudah terlebih dahulu menginterupsi. "Gue tau lo gak butuh ucapan terima kasih gue, tapi terserah, pokoknya makasih udah nganterin gue pulang."

Bersamaan dengan itu, Alena keluar dari mobil Raka.

Dan Raka, ia baru akan pergi setelah memastikan Alena sudah benar-benar masuk ke dalam rumahnya.

••••••

Ada yang masih nunggu cerita ini?(:

wherever you may be | on goingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang