Seperti daun di ranting pohon. sehijau apapun, pada akhirnya akan mengering dan menguning, lalu JATUH dan RAPUH.
Kalimat itu azela kutip dari novel yang ia baca sekarang. Di sela jam istirahatnya setelah berkeringat dan berjemur di lapangan, ya hari ini azela dan grace mendapat dispensasi dari sekolah. Tak hanya mereka berdua seluruh anggota tim paskibra pun sedang sibuk dan sangat fokus untuk menghadapi lomba yang akan datang tiga hari lagi.
Dan seperti kutipan novel tersebut mungkin seperti itulah penggambaran perasaan azela pada samudra kini, setelah kejadian kak Haidar latihan meminta azela untuk jadi kekasihnya. Sekarang pun mereka jadi semakin akrab, bahkan hampir setiap bel istirahat Kak Haidar selalu mengajak azela untuk makan bersama.
Sama seperti sekarang, azela dan Kak Haidar sudah duduk manis dengan dua mangkuk bakso, es teh manis dan satu buku novel yang azela bawa di jam istirahat kedua ini.
Jam istirahat memang mempunyai dua sesi, sesi pertama pukul 10 pagi dan sesi kedua pukul 12 siang.
Azela tidak duduk berdua saja, ia meminta grace dan ketiga sahabat yang lain nya untuk ikut bergabung. Dia tidak ingin kejadian di kelas waktu itu terulang, apalagi kali ini azela benar-benar tidak ingin ada yang mengusik nya.
Bisa-bisa habis di tangan azela.
"Makan dulu, bacanya nanti" ucap kak Haidar merebut novel yang sedang azela makan.
Keempat sahabatnya yang ikut bergabung memilih memakan ringan dan satu cup pop ice dingin saja.
Lidya, gaiska dan namira sudah banyak makan. Sedangkan grace dia bilang dia ingin diet, dia merasa berat ketika melakukan gerakan langkah tegap maju.
Konyol memang, tapi azela tak pernah menanggapinya dengan serius. Ia tahu grace sedang menabung untuk membeli album oppa nya yang akan rilis sebentar lagi.
Gila memang, semoga saja azela tidak tertular grace.
"Tau ih bentar lagi kelar nih jam istirahatnya, buruan makan." timpal grace dengan terus mengunyah ciki taro nya.
Azela hanya bisa berdecak dan mulai mengaduk bakso nya yang sudah ia beri saus dan sambal.
Entah memang perasaan azela saja atau memang yang ia rasakan, sedari tadi kak haidar terus memperhatikannya sambil memakan bakso nya. Atau azela terlalu percaya diri?
Tapi nyatanya azela bisa melihat itu meski matanya masih terfokus pada mie kuning dan bakso di depannya kini.
Ini tak sehat untuk jantung azela, ia pun mendongakkan kepalanya dan tersenyum ke arah cowok bermata sipit itu.
"Kak haidar mau azela colok ya matanya?" ujar azela lembut akan tetapi cukup tajam.
Grace dan gaiska pun tertawa, mereka sudah terbiasa melihat interaksi dua manusia kaum hawa dan adam ini.
Bahkan namira pernah dengan mudahnya mengatakan bahwa kak haidar menyukai azela, dan itu membuat orang-orang yang mendengarnya terkejut. Ya, meski Kak Haidar sangkal tetap saja namira curiga melihat gerak-gerik kakak kelas cowoknya ini.
"Mata-mata gue, mangkannya kalau makan jangan cantik. Mata gue tuh punya radar nemu cewek cantik." balas kak haidar kemudian menyuapkan bakso kedalam mulutnya.
"Gue mesti bilang makasih atau hujat lo ya kak?"
"Azela kemaren kemaren sopan pendiem banget depan kak haidar, sekarang kenapa jadi songong gini ya. Lo apain kak?" tanya namira curiga.
Faktanya memang setelah kak haidar latihan meminta azela untuk jadi kekasihnya, azela menganggap kak haidar itu teman dikala ia sedang mengingat samudra.

KAMU SEDANG MEMBACA
HEIMLICH
Ficção AdolescenteDiam-diam mengagumi seseorang ternyata cukup sulit, banyak sekali tantangannya. di masa sekolah menengah atasku ini, bunda bilang itu adalah bumbu pemanis di masa sekolah. manis sih memang, manis jika ia tahu bahwa aku mengagumi seorang Samudra Raf...