8

9K 1.3K 135
                                    

Quot of the day

Dont judge the book by cover

Setelah mengantarkan kunci, Lisna buru - buru pamit pulang. Soalnya gadis itu merasa tidak enak hati sudah mengganggu 'me time' bu boz dan anak asuhnya.

Sambil masih menahan geli, Lisna meninggalkan rumah bu boznya.

Windy masuk kembali ke dalam rumah. Kebetulan susu dalam dot milik Paino sudah habis.

Paino bersendawa keras.
"Anak mami udah kenyang ya? Sekarang ino bobok ya."

Windy menurunkan tubuh Paino ke lantai kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Windy kembali masuk ke kamar untuk melihat keadaan Wiku.

Tubuh bocah laki - laki itu masih terasa panas meskipun sudah diberi kompres oleh Windy, bahkan anak itu tampak menggigil kedinginan.

Seketika hati Windy dibuat trenyuh melihat keadaan Wiku. Karena Windy belum pernah menjadi ibu, sudah bisa dibayangkan betapa paniknya Windy menghadapi seorang anak yang sedang demam.

Pertama, Windy tidak prepare obat - obatan. Hanya sedia koyo cabe dan balsem super panas yang tidak cocok diperuntukkan untuk anak dibawah umur.

Kedua,Windy tidak tega meninggalkan Wiku sekedar untuk membeli obat penurun demam di apotek. Windy langsung membodoh - bodohkan dirinya sendiri, kenapa tadi ia tidak meminta tolong Lisna untuk membelikan obat sekalian? Efek panik membuat otak Windy jadi kurang tanggap darurat.

Yang terpikir di otak Windy saat ini hanyalah naluri ibu saat melihat anak mereka sakit.

Windy berbaring di samping Wiku dan memeluk bocah itu. Setahu Windy, pelukan hangat seorang ibu saat anaknya sedang sakit itu cukup ampuh untuk menenangkan anak. Meskipun Windy bukan ibu kandung dan belum menjadi seorang ibu, setidaknya boleh lah ya Windy sedikit halu dengan menganggap Wiku adalah anaknya. Sekali dayung dua pulau terlewati. Wiku merasa tenang dan Windy bisa mencicip memeluk malaikat kecil yang belum sempat ia miliki selama tiga tahun masa pernikahannya.

Dibelainya Wiku dengan penuh kasih sayang.
"Demamnya Wiku menyingkirlah. Wahai rasa sakit pergilah. Jin sakit peri demam musnahlah."

Windy menggumamkan kata - kata yang asal ia ucapkan. Hingga akhirnya Windy ikut merasa mengantuk dan jatuh tertidur sambil masih memeluk Wiku.

കകകകക

Wiku tersadar dari pingsannya. Ia meringis menahan sakit kepala yang menderanya. Yang pertama ia sadari adalah, ia tidur bukan di kamar miliknya sendiri.

"Aku dimana?"

Suara Wiku membuat Windy terbangun. Refleks Windy segera melepas pelukannya dan bangkit. Bahaya kalau Wiku nanti mengadu pada papanya jika Windy sudah main peluk - peluk. Kalau sampai ketahuan warga satu kompleks, bisa - bisa Windy dituduh pedofil dan diusir dari rumah mami Anggela. Atau mungkin yang terparah, dirinya akan diarak keliling kampung dengan berkalung rafia dan kertas karton bertuliskan 'Aku seorang pedofil' yang ditulis dengan huruf kapital dan spidol dengan tulisan sebesar gajah di alun - alun. Huu... tatut.

"Wiku sudah sadar. Apa yang sakit nak?"
Windy melepas kompres Wiku dan kembali mengecek suhu tubuh bocah itu dengan cara yang biasa dilakukan oleh ibunya dulu.

"Wiku pusing tante. Terus tenggorokkan Wiku juga sakit. Seperti ada kodoknya."

Bocah laki - laki itu merengek dengan manja. Uluh... uluh... bikin melting hatinya Windy.

"Tante antar pulang ya, tadi tante menemukan kamu pingsan di teras. Karena tante nggak tahu kunci rumah kamu dan tante harus memberi Ino susu, jadi kamu tante bawa kemari. Yuk tante gendong."

Windi memasang tas ransel Wiku di depan, dan bersiap nenggendong Wiku dibelakang. Wiku yang masih merasa lemas hanya menurut ketika tubuhnya digendong oleh tante Windy.

Wiku menyandarkan kepalanya di punggung Windy. Tanpa sadar, bocah lelaki itu menggumamkan sesuatu dengan suara seraknya.

"Mama..... Wiku kangennn....."

Langkah Windy terhenti. Rasanya begitu ngilu saat mendengar rintih kerinduan Wiku pada mamanya. Dimana - mana kok rengekkan anak - anak itu selalu membuat hati terasa ngilu ya?padahal bukan anaknya sendiri juga. Setelah menghela nafas panjang, Windy pun mulai melangkah dan membuka pintu kamar.

Paino yang merasa ingin tahu ikut berjalan di belakang tubuh maminya. Sesekali ia mendengking lirih seolah bertanya tentang apa yang sedang terjadi.

"Mas Wiku sakit, dek. Jadi nggak bisa main sama dedek Ino."

Jawaban mami Windy membuat Ino kembali mendengking seolah merasa sedih.

"Mami nganter mas Wiku dulu ya. Dedek jaga rumah. Oke!"

Sayangnya anjing kecil itu tidak menggubris perintah maminya. Ia mengikuti Windy hingga ke teras rumah.

കകകകക

Wisnu yang sedang mengikuti rapat merasakan kegelisahan. Mungkin naluri seorang ayah. Begitu rapat usai, Wisnu segera pamit untuk pulang.

Kegelisahan Wisnu semakin menjadi saat ia mendapati pintu pagar rumahnya dalam keadaan tidak terkunci. Buru - buru Wisnu mengecek pintu rumahnya dan merasa lega pintu rumahnya masih terkunci.

Dengan kunci cadangan, Wisnu membuka pintu rumahnya. Tapi ia tidak mendapati putera semata wayangnya berada di rumah.

"Mulai bandel nih anak main nggak pamitan."
Wisnu menggerutu sambil menahan marah. Salahnya juga sih, tidak membekali sang anak sebuah ponsel. Tapi kalau ia membelikan hape, Wisnu khawatir anaknya lebih suka main game daripada belajar. Benar - benar dilema orang tua jaman now.

Wisnu bisa menebak. Paling - paling Wiku pergi ke rumah tetangga sebelah untuk bermain - main dengan anjing kecil yang dipercayakan pemilik rumah pada asistennya. Wisnu jadi merasa tidak enak karena anak lelakinya bergaul dengan ART. Jadi sepertinya Wisnu harus memberi teguran keras pada Wiku.

Dengan langkah tergesa - gesa, Wisnu berjalan menuju ke rumah sebelah. Ia tiba di pintu gerbang bersamaan dengan Windy yang tampak kepayahan menggendong Wiku dan berusaha membuka pintu gerbang.

"Wiku kenapa?"
Wisnu membantu membuka pintu gerbang. Rasa marahnya berubah menjadi kepanikan saat melihat Wiku terkulai dalam gendongan Windy.

"Tadi saya menemukan Wiku pingsan di teras rumah bapak. Karena saya tidak tahu kunci rumah bapak, jadi saya bawa Puteranya bapak ke tempat saya. Sepertinya bapak harus segera membawanya ke dokter, karena selain demam, kepala putera bapak lebam seperti baru terbentur sesuatu."
Windy menjelaskan alasan kenapa ia sampai membawa Wiku ke rumah mami Anggela sambil memindahkan gendongannya pada Wisnu.

Wisnu menggendong Wiku, sedangkan Windy membantu membukakan pintu dan menahan tubuh Paino agar tidak ikut nyelonong keluar dari pintu gerbang.

Windy pun berbaik hati membawakan tas milik Wiku dan berjalan mengekor di belakang Wisnu. Aksi tersebut tak lepas dari perhatian tetangga depan rumah yang diam - diam mengintip Wisnu dan Windy dari balik korden rumahnya.

"Wah.... bakalan ada gosip seru di acara arisan pkk nih."

Tbc

Sinopsis bisa langsung tengok di lapak ya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sinopsis bisa langsung tengok di lapak ya.
Yang berminat bisa Wa ke : 0812 5207 0525
Terima kasih.

An Annoying Windy Diary's (End) 🌷Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang