2. bagian dua

1.7K 46 0
                                    


Arya Wirayuda tampak tekun mendengarkan cerita yang disampaikan oeh kakeknya, Mpu Triguna, seorang petapa sakti yang tinggal di lereng Gunung Pawitra (nama kuno untuk Gunung Penanggungan). Pada masa mudanya, Mpu Triguna adalah seorang Senopati yang menjadi salah satu andalan kerajaan Wilwatikta, yang pada masa mudanya bernama Arya Atyanta.

"Lalu apakah yang akan terjadi jika pada akhirnya kedua belah pihak tidak mampu mendinginkan situasi yang semakin memanas antara kedaton kulon dan kedaton wetan eyang? " tanya Arya Wirayuda.

"Kalau itu yang terjadi, maka sejarah masa lalu akan terulang lagi, seperti eyang pernah cerita tentang perang saudara antar keturunan Tarumanegara di tlatah Sunda ratusan warsa yang lalu antara Sudhawarman dan Rakeyan Sancang, perang antar saudara di Galuh antara Bratesenawa dan Purbasora, juga perang antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra di jaman Medang, terus sampai perang antara Jenggala dan Panjalu," jawab Mpu Triguna.

"Sejarah Jawadwipa ini memang sejarah yang bergelimang dengan perang saudara, dari jaman Taruma sampai jaman Tumapel, menyedihkan, alangkah sedihnya jika Wilwatikta juga akan berakhir dengan perang saudara seperti itu" ujar Arya Wirayuda.

"Kita hanya bisa berdoa Dewata Agung semoga Wilwatikta tidak akan mengalami nasib sebagaimana kerajaan-kerajaan di masa lalu yang akhirnya hancur karena perang antar saudara hanya karena memperturutkan hawa nafsunya" kata Mpu Triguna.

Sementara itu di pusat pemerintahan, baik di kedaton kulon dan kedaton wetan, kasak kusuk di lingkungan kraton semakin mengemuka. Kedaton kulon curiga jika kedaton wetan akan enyerang kedaton wetan dan begitu juga sebaliknya, kedaton kulon curiga bahwa kedaton kulon akan menyerang kedaton wetan.

Sungguh sangat disayangkan, dua kedaton yang masih satu keluarga besar itu ternyata telah ditumbuhi rasa curiga satu sama lain. Dan hal itu terbaca hingga ke kedaton-kedaton yang menjadi wilayah Wilwatikta dan Wirabhumi yaitu Wengker, Pajang, Mataram, Tumapel, Kahuripan, Daha, Lasem, Kabalan, Matahun, Paguhan dan Pawanuhan. Para penguasa kerajaan kerajaan mandala itu saling kasak kusuk untuk menentukan sikap menghadapi situasi yang semakin panas antara Wilwatikta dan Wirabhumi.

Yang jelas, memang sulit bagi para penguasa kerajaan manda itu untuk menentukan sikapnya, karena yang menjadi penguasa di kerajaan-kerajaan itu adalah kerabat dekat dengan kedua penguasa baik di Wilwatikta maupun di Wirabhumi.

Wengker, Lasem, Daha, Matahun cenderung mendukung sikap Wirabhumi, hal ini karena Bhre Wirabhumi I Wijayarajasa awalnya adalah Bhre Wengker, yang beristrikan Bhre Daha Rajasadewi bibi dari Rajasanegara yang merupakan ayah dari Bhre Wirabhumi II Aji Rajanatha, yang beristrikan Bhre Lasem II Nagawardhani, anak dari Bhre Lasem I Indudewi yang merupakan anak dari Bhre Wirabhumi I Wijayarajasa dan Bhre Daha Rajadewi. Sementara Bhre Lasem I Indudewi bersuamikan Bhre matahun Dyah Larang/Rajasawardhana.

Sementara Pajang, Mataram, Kahuripan, Paguhan, Kabalan cenderung mendukung Wilwatikta, hal ini karena Wikramawardhana sebelum menjadi suami Kusumawardhani adalah Bhre Kahuripan, dan sebelumnya menjabat juga sebagai Bhre Mataram. sementara ibu dari wikramawardhana, Dyah Nrtaja, adik dari rajasanegara adalah Bhre Pajang yang bersuamikan Bhre Paguhan Dyah Sumana/Singawardhana. Sementara itu, Kusumawardhani, istri Wikrawardhana adalah Bhre Kabalan.

Demikianlah, maka boleh dikatakan kekuatan kedua kedaton cukup berimbang, sehingga jika pada akhirnya perang saudara terjadi, maka tidak mudah bagi masing-masing pihak untuk mememangkan peperangan.

Sementara rakyat di kota-kota kerajaan, baik di kedaton pusat maupun di kota-kota kerajaan mandala tampak cemas jika akhirnya perang akan terjadi, bagaimanapun perang hanya akan membuat rakyat yang menderita. Bagi yang memiliki keluarga prajurit, bisa dipastikan akan ditinggal keluarganya untuk ikut berperang tanpa tahu bagaimana akhir dari nasibnya, akankah bisa kembali pulang dengan selamat atau justru kembali tinggal nama karena gugur dalam perang. yang menjadi pedagang pasti cemas karena perdagangan pasti akan hancur karena perang.

Paregreg, Senjakala WilwatiktaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang