5. bagian lima

673 22 0
                                    

Demikianlah, hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun demi tahun pun berlalu pasca penobatan Bhre Mataram Wikramawardhana sebagai Raja di Wilwatikta. Dan situasi antara kedaton kulon Wilwatikta dengan kedaton wetan Wirabhumi semakin tegang, para pejabat yang punya ambisi pribadi baik di kedaton kulon maupun kedaton wetan saling bermanuver untuk memanaskan situasi.

Keributan dan bentrok antara prajurit dari kedaton kulon dan kedaton wetan kadang terjadi di daerah daerah batas wilayah, dan kedua belah pihak saling menuding pihak lain yang bersalah.

Namun untungnya sejauh itu masih bisa diredam oleh para pejabat yang masih berfikir jernih sehingga bentrok antar prajurit belum membesar menjadi pertempuran besar.

Namun demikian, karena kejadian bentrok menjadi sering terjadi membuat masyarakat yang tinggal di wilayah wilayah perbatasan menjadi resah dan ketakutan.

Bayangan akan timbulnya perang besar antara kedaton kulon dan wetan membuat para orang-orang tua di dusun dusun teringat dengan cerita yang dikisahkan oleh orang-orang tua atau kakek mereka bahwa dulu Wilwatikta juga beberapa kali dilanda perang saudara karena berbagai pemberontakan.

"Yang paling awal adalah pemberontakan Ranggalawe, panglima perang kebanggaan Dyah Wijaya, yang sebenarnya juga masih kerabat sendiri, sesama keturunan darah Singhasari yang tidak puas karena jabatan mahapatih jatuh ke tangan Mpu Nambi, yang juga masih kerabatnya sendiri" ujar Ki Dukilo seorang warga di sebuah dusun di perbatasan Wilwatikta dan Wirabhumi kepada cucunya Sancoko

"Lalu bagaimana akhirnya nasih Ranggalawe kek?" tanya sang cucu, Sancoko

"Pada awalnya tentu Wilwatikta kesulitan menghadapi pemberontakan Ranggalawe, yanf juga penguasa Bhumi Tuban, karena Ranggalawe adalah panglima yang sakti mandraguna dan ahli strategi perang cucuku" ujar Ki Dukilo

"Tapi khan Wilwatikta juga banyak panglima yang sakti kek" kata Sancoko

"He he he, benar cucuku, karena itulah, akhirnya pemberontakan Ranggalawe dapat dipadamkan meski tentu telah membuat Wilwatikta kehilangan ratusan prajuritnya, serta semakin runcing permasalahan karena setelah Ranggalawe, silih berganti pemberontakan terjadi pada masa pemerintahan Dyah Wijaya" kata Ki Dukilo

"Berarti pada awal dulu, Wilwatikta ini sering terjadi peperangan saudara ya Kek?" tanya Sancoko

"Benar cucuku, Wilwatikta ini baru bisa lepas dari peperangan saudara pada masa mendiang Gusti Prabhu Rajasanegara, karenanya kemudian bisa menjadi jaya dan makmur karena tidak disibukkan dengan perang saudara" ujar Ki Dukilo

"Tapi sepertinya saat ini situasi semakin memanas kembali ya Kek, kalau di pasar sering para pedagang itu bercerita tentang situasi yang penuh kecemasan di sana sini" ujar Sancoko

"Ini karena ulah para pejabat keblinger yang ada di dalam kraton, mereka memang suka mengadu domba, membuat situasi memanas karena saling curiga satu sama lain, itulah mengapa kakek lebih suka mengundurkan diri sebagai prajurit dan pulang ke dusun ini" ujar Ki Dukilo

Begitulah kakek dan cucu itu asyik berbincang di bawah pohon sawo kecik di depan rumah mereka setelah beberapa lama mereka berlatih kanuragan.

Sebagai mantan pendekar yang pernah menjadi seorang perwira prajurit bhayangkara, Ki Dukilo sejak beberapa waktu meyakini cepat atau lambat perang saudara antara Wilwatikta dan Wirabhumi pasti akan terjadi, karenanya sejak masih tinggal di keraton dia sudah wanti wanti agar cucunya berlatih kanuragan kepada ayahnya yang menjadi seorang Buyut di desanya.

Dan setelah dia mengundurkan diri lalu kembali ke desanya, maka Ki Dukilo yang melatih Sancoko kanuragan bersama anak-anak muda lainnya.

Dia meyakini, bahwa kemampuan kanuragan akan diperlukan oleh anak anak muda itu saat perang telah pecah dan situasi menjadi tidak aman karena prajurit disibukkan dengan peperangan sehingga tidak bisa menjalankan tugas menjaga keamanan wilayah dengan baik.

Pada situasi seperti itu, maka dipastikan kejahatan akan meningkat, sehingga hanya desa desa yang kuat, yang memiliki pengawal pengawal terdiri dari anak anak muda yang punya kemampuan kanuragan yang akan mampu menjaga keamanan desanya dari ancaman para perampok atau pencuri.

Paregreg, Senjakala WilwatiktaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang