6. bagian enam

599 17 0
                                    

Seorang cantrik tampak bergegas mendekat kepada Mpu Triguna yang sedang mencangkul tanah di pategalan di belakang padepokan. Tampak juga Arya Wirayuda di dekat kakeknya ikut mencangkul pategalan untuk persiapan menanam jagung. Meski seorang pemimpin padepokan, yang juga bekas petinggi kerajaan, bangsawan keturunan trah darah biru, Mpu Triguna memang seorang yang rendah hati dan tidak menonjolkan kebangsawannya, maka langsung memberi contoh bagaimana hidup sederhana berbaur bersama dengan masyarakat sudah menjadi ciri dari keluarganya. tak heran bahkan sejak masih menjadi seorang senopati di Wilwatikta, maka Mpu Triguna sudah dekat dengan para prajurit bawahannya dan juga dengan rakyat kecil yang sering dibantunya saat menumpas kawanan perampok yang kadangkala datang mengganggu desa desa yang jauh dari pusat kerajaan.

itulah mengapa setelah mengundurkan diri dari keprajuritan dan memilih menepi ke Gunung Pawitra serta mendirikan padepokan kecil yang mengajarkan kanuragan dan ilmu keagamaan, Mpu triguna tak canggung untuk mencangkul di pategalan, atau berbaur dengan warga kampung di kaki gunung saat gugur gunung (kerja bakti).

'Ada apa Gupi, tampaknya ada yang ingin kau sampaikan sehingga kau harus berlari lari seperti itu?" tanya Mpu triguna

"maaf Guru, ada dua orang prajurit dari Pamotan datang, utusan dari Gusti Arya Jaladara yang ingin menghadap pada Guru" ujar cantrik yang bernama Gupita

"utusan dari ayahku kakang Gupita?" Arya Wirayuda yang membalas duluan

"benar adhi, utusan dari ayahandamu, katanya ada pesan penting untuk Guru" ujar Gupita

" Ya sudah, ayo kita temui mereka" ujar Mpu Triguna

Maka bertiga mereka kemudian meninggalkan pategalan di belakang padepokan untuk menemui utusan dari ayah Arya Wirayuda, Arya Jaladara, yang juga adalah anak laki-laki dari Mpu triguna yang merupakan seorang senopati di Pamotan, karena sejak kecil memang merupakan teman bermain dari Aji Rajanata Bhre Wirabhumi.

Setelah membersihkan diri sebentar di pancuran dekat padepokan, maka Mpu Triguna dan Arya Wirayuda kemudian bergegas menuju pendopo untuk menemui dua orang prajurit utusan dari Pamotan.

"Selamat datang di padepokan kisanak berdua, maaf harus menunggu agak lama" ujar Mpu Triguna menyapa kedua prajurit.

"Tidak Gusti sepuh, kami juga baru sampai, dan malah oleh para cantrik langsung disuguhi ketela rebus dan wedang jahe yang segar" ujar seorang prajurit

"ya memang di gunung yang jauh dari kota adanya ya cuma ketela sama jagung kalau lagi musim, semoga perut kalian tidak kaget, he he" canda Mpu Triguna

"wah, ini sudah sangat nikmat Gusti Sepuh, kalau sedang di hutan mengejar kawanan rampok, kadang kami hanya makan daun-daunan atau ubi-ubian yang bisa diketemukan" ujar prajurit dengan tersenyum

" baiklah, lalu ada apa kalian jauh-jauh dari Pamotan berkunjung kemari, pasti tidak sekedar berkunjung untuk "ngaruhke" kabar orang tua yang sudah loyo ini khan? " tanya Mpu Triguna

"Ampun Gusti sepuh, sebenarnyalah memang kami berdua karena diutus oleh Gusti Senopati untuk menyampaikan pesan kepada Gusti Sepuh agar seandainya Arya Wirayuda sudah cukup menimba ilmu di padepokan agar bisa segera kembali Pamotan" ujar prajurit

'bagaimana Arya, kamu sudah mendengar sendiri, ayahmua memintamu segera pulang ke Pamotan" ujar Mpu Triguna

"tapi eyang, ilmu yang kupelajari sejauh ini masih sangat sedikit, kalau kemudian harus pulang ke Pamotan, tentu masih sangat jauh dari cukup" ujar Arya Wirayuda

"Ah, kamu ini selalu saja merendah adi, di padepokan ini, hanya Guru saja yang ilmunya bisa mengalahkanmu" ujar Gupita yang ikut menemui di pendopo

Paregreg, Senjakala WilwatiktaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang