Quot of the day
Kejujuran itu menyakitkan bagi yang mendengar, tapi melegakan bagi yang mengucapkan
Windy tidak menyangka jika pengakuannya barusan ternyata tidak hanya didengar oleh Joni tetapi juga didengar oleh Wisnu. Sejak kapan pak Wisnu datang ke rumahnya?
Aduh mamake.... kenapa kamu sebar - sebarin aibmu Windy.
Si setan dan si malaikat di otak Windy mulai ribut menyuarakan isi kepala.
"Jadi kamu sudah...," tanya pak Wisnu yang tidak melanjutkan kalimatnya demi menghormati privacy seorang wanita single fighter seperti Windy.
Windy tersenyum kecut saat pak Wisnu menanyakan tentang statusnya. Mendadak ia merasa sebentar lagi akan kehilangan keberuntungannya.
Dan sekarang dengan duduk beralaskan tikar, Windy sedang disidang oleh pak Wisnu dan Joni. Sedangkan Wiku justru asyik bermain bersama Ino.
"Ya begitulah saudara - saudara...."
Windy tertawa garing plus rasa malu dan segan. Barusan ia curhat dengan orang - orang yang bukan sahabat. Tetapi dari merekalah Windy berharap akan mendapat perlindungan agar tidak mendapat perundungan dari barisan ibu - ibu militan."Jadi kalian berdua buruan pulang deh sebelum....."
Windy belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi sudah lebih dulu dipotong oleh istrinya Joni yang tiba - tiba nyelonong masuk.
"Duh... bagus ya papa. Pulang dari berlayar bukannya nyenengin istri malah nyatroni pere lain."
Hati Windy mencelos. Akhirnya apa yang ia khawatirkan terjadi juga.
Sebagai saksi jika Joni datang hanya untuk reuni, Wisnu berinisiatif menenangkan istrinya pak Joni yang sudah mirip banteng ngamuk di acara rodeo matador.
"Kami kemari karena kebetulan kita bertiga itu satu almamater saat di SMA dulu."
Ucapan pak Wisnu membuat istrinya pak Joni menatap Windy dengan tatapan menyelidik.
"Benar, jenengan dulu satu SMA dengan suami saya."
Windy hanya menjawan dengan sebuah anggukan. Sedangkan Joni merangkul Tania istrinya agar menjadi lebih tenang.
"Dia itu teman sekelas Papa waktu SMA, Ma. Makanya tadi waktu menyiram tanaman, aku merasa familiar dengan Windy."
Joni yang tidak ingin suasana menjadi keruh akhirnya memilih untuk segera pamit meninggalkan Windy dan Wisnu.
Sepeninggal Joni, Wisnu menatap Windy. Pandangan mata senior yang dulu diam - diam ia idolakan itu membuatnya jadi salah tingkah.
"Jadi sebenarnya Mbak Windy itu bukan ART ya." Kali ini gantian Wisnu yang menginterogasi tetangga cantik yang telah membuatnya jatuh dari pohon dan mengalami keseleo.
"Ya begitulah Pak. Saya nyari aman saja. Kalau saya bilang hanya ART nya bu Anggela, saya kan nggak bakalan jadi pergunjingan."

KAMU SEDANG MEMBACA
An Annoying Windy Diary's (End) 🌷
Short StoryCover by Samutrisam Menjadi janda adalah sebuah pilihan, tapi tak urung status single bersertifikat itu membuat Windy dirundung rasa takut dan cemas. Demi keamanan, Windy pun mengadopsi Paino. Ternyata anjing tidak hanya setia dan membuat hidup Wind...