Quot of the day
Jangan biarkan akal kita memikirkan hal yang sia - sia.
Windy merasa kikuk saat dua orang laki - laki dewasa tampak serius memperhatikan dirinya yang sedang menyuapi Wiku.
"Mbak, udah pantes lho. Tidak ingin punya sendiri, nih." Fajar memulai wawancara terselubungnya, sementara itu Wahyu menyimak. Karena baru bertemu beberapa kali saja, jadi adiknya pak Camat itu belum berani ikut menjadi komentator.
"Kalau punya sendiri, duet bikinnya sama siapa." Windy menjawab dengan cuek. Laki - laki itu, ternyata semuanya sama. Kalau sudah berkumpul kemudian melihat ada cewek single, hobynya langsung memanas - manasi.
"Di sebelah ada yang menganggur, Mbak. Siapa tahu mau diajak kongsi." Kali ini Wahyu memberanikan diri ikut mengompori. Sebagai seorang adik yang memiliki kakak yang telah lama menduda, rasanya kasihan sekali sih melihat abangnya kesepian. Apalagi keponakannya itu juga membutuhkan sosok seorang ibu yang bisa menyayanginya. Lalu Fajar dan Wahyu saling pandang sambil nyengir.
Wajah Windy langsung merona merah karena ia dikeroyok sendirian. "Dee.... bantuin aku doooong....."
"Tante kenapa? Aku bantuin ya." Wiku yang tidak paham obrolan orang dewasa dengan polosnya menawarkan diri.
Wahyu, Deena dan Fajar tertawa geli. Kemudian si om meraih keponakannya untuk ia pangku. "Wiku ingin mempunyai adik tidak," rayu Wahyu pada keponakannya.
"Mau dong, Om. Supaya Wiku nggak kesepian," curhat Wiku sambil mengangguk - angguk dengan polosnya.
"Kalau begitu, sana minta sama papa."
"Oke, Om. Nanti Wiku minta sama papa." Jawaban bocah lelaki yang lucu itu membuat ketiga orang dewasa yang berada di dekatnya tertawa.
Mereka tidak sadar jika obrolan tersebut sempat di dengar oleh Wisnu. Pria itu baru saja mandi setelah selesai mencuci kendaraannya. Kemudian mendatangi rumah bu Anggela untuk menjemput putera semata wayangnya mencari lauk makan siang. Namun obrolan yang dilakukan oleh adik dan puteranya itu membuatnya urung mengucapkan salam dan justru berdiri mematung di depan pintu.
Wisnu menghela dan menghembuskan nafas sebelum menegur adiknya. "Jangan suka membujuk anak kecil dengan hal yang nggak bener Yu."
Teguran pak Camat yang tampan itu berhasil membuat Wahyu, Fajar, dan Deena menghentikan tawa mereka.
കകകകകകക
Windy merasa lega saat Wisnu pamit untuk membawa pulang puteranya. Wahyu yang sebelumnya bertukar nomer ponsel dengan Fajar akhirnya ikut pamit pulang. Rumah tempatnya tinggal pun, kini kembali tenang.
Deena segera mendekati Windy dan mengingatkan sepupunya. "Sepertinya sebelum Wiku datang tadi mbak Windy mau cerita tentang sesuatu deh."
Windy nyengir. Keresahan di hatinya kembali muncul seperti saat Deena dan Fajar belum datang. Ia menarik dan menghembuskan nafas sebelum menumpahkan uneg - uneg di hatinya.
"Ternyata tetangga sebelah rumah itu teman sekolahku Dee. Semalam dia main ke sini." Windy menjeda kalimatnya.
"Aku sudah menyuruhnya supaya segera pulang, jadi terpaksa deh mengaku kalau aku seorang janda. Soalnya nggak enak sama ibu - ibu di kompleks, takut nanti jadi salah paham. Dan semalam waktu datang kemari, istrinya tiba - tiba muncul. Untung ada mas Wisnu."
Fajar menjentikkan jarinya. "Nah, kenapa Mbak Windy tidak menikah dengan mas Wisnu saja."
Windy melotot sambil mengerucutkan bibirnya ke arah Fajar. "Kamu enak benget sih ngomongnya? Memangnya bisa asal nikah gitu? Kamu saja menikahi Deena harus melalui proses panjang. Menikah dengan perempuan lain dulu, menjadi duda, mau bunuh diri, lamaran ditolak Deena, baru akhirnya bisa menjadi seperti sekarang. Masa aku sim salabim langsung menikah dengan pak Wisnu," protes Windy.
"Tapi jangan nyebarin aib aku dong, Mbak." Fajar merasa malu saat perjalan cintanya diungkap oleh Windy.
Semenjak bercerai dengan mantan suaminya, Windy jadi bersikap apatis dengan yang namanya pernikahan. Ia akan langsung sewot saat topik itu dibahas didepannya.
"Ingat ya, aku tinggal disini karena ingin menenangkan diri bukan untuk mencari masalah." Windy mengingatkan Fajar.
Deena mencubit pinggang suaminya. Gara - gara Fajar menyentil sisi rapuh mbak sepupunya, sekarang Windy jadi uring - uringan lagi kan? Si ibu hamil itu jadi merasa tidak enak hati. Ia segera mengajak Fajar pulang ke rumah dengan alasan sudah kecapaian dan ingin beristirahat.
Sepeninggal Deena dan Fajar, Windy segera mengunci pintu gerbang dan pintu rumahnya. Ia terduduk lesu di lantai ditemani Paino yang ikut merasa gelisah melihat kegalauan maminya.
Ino mendengking sambil menyentuh tangan maminya dengan kaki depannya. Windy yang sedang galau jadi tersenyum melihat anjing lucu tersebut. Tangannya pun terulur untuk menggendong dan menguyel - uyel paino.
"Waktunya dedek mik cucu ya. Ayo Mami buatkan cucunya."
Windy segera beranjak ke dapur untuk menyiapkan susu formula khusus puppy di botol dot. Kemudian dengan khusu memangku Paino sambil membantu anjing kecil itu menyedot susu dari botol yang ia dipegangi.
"Dek, andai saja semua lelaki itu bisa setia dan bertanggung jawab seperti anjing ya. Tapi anehnya justru pria kurang ajarlah yang dikatai anjing." Windy mengoceh sambil terkekeh.
Ino melepas botol susunya sejenak kemudian mendengking seolah menjawab ucapan Windy.
"Uh.. uh..uh...."
Windy tertawa melihat tingkah Ino. "Dek, kamu mau menemani Mami sampai seterusnya kan."
കകകകകകകകക
Wisnu menyetir mobilnya sambil menceramahi Wahyu. "Jangan suka menggoda Mbak Windy, Yu. Dia bukan perempuan yang pantas dijadikan bulan - bulanan. Lalu jangan suka ngajari Wiku hal - hal nggak bener."
Wahyu menunduk dan merasa tidak enak hati.
"Aku kan justru ingin membantu Mas Wisnu dan Mbak Windy supaya bisa dekat. Siapa tahu wanita itu adalah jodohnya Mas Wisnu. Lagipula Wiku juga sudah akrab sama Mbak Windy. Jadi kupikir ia pantas menjadi mamanya Wiku."Rupanya Wiku menyimak obrolan papa dan om nya. Ia segera berdiri mendekati papanya yang sedang menyetir.
"Tante Windy mau jadi mamaku ya pa? Aku mau dong punya mama tante Windy."
Tbc
Omo...omo... Kacau banget inih tulisanku. Banyak yang mesti kurevisi. Keingat setahun kemarin saat menjalani terapi. 😂😂😂

KAMU SEDANG MEMBACA
An Annoying Windy Diary's (End) 🌷
Short StoryCover by Samutrisam Menjadi janda adalah sebuah pilihan, tapi tak urung status single bersertifikat itu membuat Windy dirundung rasa takut dan cemas. Demi keamanan, Windy pun mengadopsi Paino. Ternyata anjing tidak hanya setia dan membuat hidup Wind...