HE'S MY FRIEND

86 14 0
                                    

Devian membuka pintu utama kamar mandi, dia mendengar ada suara. Devian mencari sumber suara itu dan dia menemukannya.

"Gila beraninya keroyokan, emang dasar cewek lo semua." Brian menghentikan kegiatannya, ya benar. Memukuli Steven.

"Ternyata pahlawan kita telah datang, siap-siap aja kalian berdua bakal gue jadiin samsak gue." Brian menyunggingkan senyumnya.

"Lo itu Cuma banyak ngomong doang." Devian mumukul pipi Brian dan sampai mengelurkan darah. "Lo inget kata-kata gue, Nggak usah ganggu Steven. He's my friend." Devian menarik Steven yang wajahnya sudah dipenuhi lebam.

Devian membawa Steven ke UKS dan meyerahkan kepada Bu Intan agar diobati.

"Kalian ini sudah besar yaa? Pasti kalian berantem karena cewek ya?"

Devian dan Steven sama-sama menggelengkan kepala.

"Bu Intan mah sok tau ih," ujar Devian. Bu Intan tersenyum sedangkan Steven hanya tersenyum sambil menahan sakit di wajahnya.

"Lalu jika bukan karena perempuan? Karena apa?" tanya Bu Intan untuk mencairkan suasana.

"Hehe, biasalah bu anak laki. Masa iya nggak boleh berantem." Bu Intan tersenyum entah untuk yang keberapa kalinya.

"Nah sudah selesai, bekasnya ini mungkin tiga sampai satu minggu akan hilang. Ini obat buat meredakan rasa sakitnya." Steven menerima obat itu dan mengucapkan terima kasih.

Mereka berdua kembali kekelas berharap saja guru yang mengajar mereka hari ini telat masuk atau bahkan tidak masuk. Ternyata permintaan mereka dikabulkan, saat mereka masuk kelas teman mereka sedang asik dengan urusan mereka sendiri. Dan jangan lupa tulisan di papan tulis yang berbunyi.

"KERJAKAN TUGAS BAHASA INDONESIA HALAMAN 10-20, PULANG SEKOLAH DIKUMPULKAN!!"

Devian tidak memperdulikan tulisan itu dia langsung duduk dibangkunya dan diikuti Steven.

"Vian, thank's ya. Lo udah nolongin gue." Devian menepuk pundak Steven.

"Santai aja Ven, dalam persahabatan nggak ada kata maaf dan terima kasih." Steven tersenyum lepas, dia mengambil bukunya untuk mengerjakan tugas yang ada di papan tulis.

"Lo mau kemana?" tanya Steven saat Devian beranjak dari tempat duduknya.

"Gue mau ke perpustakaan. Lo nggak usah takut si rombongan cowek tadi nggak bakal ganggu lagi kok," ujar Devian lalu menghilang dari pandangan Steven.

"Lo orang pertama, dan satu-satunya yang mau temenan sama gue tanpa pertanyaan dan tanpa alasan apapun."

.

Devian masuk kedalam perpustakaan dan mencari buku yang dia perlukan. Untuk menunjang pengetahuannya. Sebenarnya dia tidak terlalu menyukai pelajaran Kimia yang akan dia ikuti ini. Tapi tawaran Pak Usman tidak bisa dia abaikan. Devian terus membaca berbagai buku Kimia yang ada di perpustakaan ini.

Sampai dia tidak tahu jika ada seseorang yang memperhatikannya dalam diam. Sandra sengaja menunggu Devian, karena dia yakin Devian akan datang. Ternyata dugaannya benar. Tapi karena terlalu serius dengan apa yang dia baca, Devian tidak melihat bahwa di belakangnya ada seseorang.

Cukup lama Devian berada di perpustakaan, dia sudah tidak perduli dengan pelajarannya di kelas nanti. Karena bagi Devian prioritasnya saat ini adalah Lomba Fisika minggu depan yang akan menjadi penyelamat dirinya selama setahun di sini. Devian menyadari dia sudah cukup lama disini, dia melihat jam yang ada di dinding sudah menunjukan pukul 12.30.

Devian keluar dari perpustakaan dan hanya melewati Sandra tanpa melihatnya sedikitpun.

"Hey, udah kelar urusannya." Devian duduk di sebelah Steven.

Hooligans Vs UltrasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang