31

9.3K 1.7K 125
                                    

Quot of the day

🎤🎤🎤🎤

Aku......... jangan dulu berpisah.
Kenanglah saat cinta merekah.
Pintaku..... jangan dulu menyerah.
sebelum sesal nanti terlambat sudah.
Bisik nurani

🎤🎤🎤🎤

Windy boleh saja melarikan diri dari carut marut kisah cinta sesion ke sekian kalinya yang lagi - lagi tidak seindah ekspektasi. Ia bisa dengan tenang dan santai melenggang meninggalkan rumah yang dipinjamkan oleh mami Anggela dan mengembalikan Paino pada si pemilik aslinya. Meskipun Windy sendiri tidak tahu harus kemana yang berakhir harus puas tidur bergelung di sofa ruang tunggu atau di ranjang facial salonnya.

Sayangnya Windy melupakan perasaan Wiku dan Paino. Meskipun Paino hanya seekor anjing, tapi ikatan hatinya sudah bertaut dengan si mami yang ketika sedang menyusuinya, selalu mengoceh entah mengobrolkan apa. Belum lagi ikrar janji setia yang diucapkan Windy membuat Paino bersedih ketika harus kembali tinggal di rumah mami Anggela.

Dan jangan abaikan juga perasaan Wiku. Jika seekor anjing pun merasa sedih berpisah dengan maminya, maka bocah kecil itulah yang paling merasa kehilangan Windy. Angan - angannya memiliki seorang ibu yang baik harus kandas sebelum terealisasi.

Hampir setiap hari Wiku mendatangi rumah milik mami Anggela. Dan bocah itu akan berdiri di depan gerbang kemudian mendesah kecewa saat melihat pintu gerbangnya terkunci.

Wiku tidak pernah absen mengecek apakah mama Windy sudah pulang. Sesekali ia juga memastikan keberadaan wanita yang ia sayangi itu dengan memanjat pohon jambu kristal di samping rumahnya.

Sehari.... dua hari... hingga seminggu, Wiku baru sadar jika mama Windy sudah tidak lagi tinggal di rumah sebelah, begitu pula dengan Paino.

"Kenapa mama Windy pergi ninggalin Wiku..."
Wiku menatap nanar ke arah rumah sebelah sambil nangkring dari atas pohon jambu kristal.

Kesedihan Wiku kian nyata ketika dirumahnya bertambah satu anggota lagi yang senantiasa cerewet dan mengomeli papanya. Siapa lagi kalau bukan eyang Dekar. Sejak kejadian seminggu yang lalu, eyang Dekar memutuskan untuk tinggal bersama mereka. Sedangkan Dedekan datang setiap sore dan kembali kerumah saat malam menjelang. Dua perempuan berwajah mirip mama kandung Wiku, tapi keberadaannya justru membuat Wiku merana.

"Wiku, ayo turun. Nanti kalau kamu jatuh dari pohon, sakit lho!"

Tuh kan, eyang Dekar mulai mencereweti cucunya yang akhir - akhir ini gemar sekali memanjat pohon jambu.

Meskipun bibir Wiku mengerucut, tapi dengan patuh ia pun turun dari pohon dengan menyimpan sejuta kekecewaan.

Sekarang hari - hari Wiku terasa suram karena eyangnya yang produk jaman feodal sangat suka mengatur dan melarang Wiku melakukan hal - hal yang ia sukai. Berbeda sekali ketika ia bersama mama Windy.

"Ayo Wiku maem dulu ya, tadi eyang sudah masak untuk kamu."

Wiku menatap menu yang tersaji di hadapannya tanpa minat.

An Annoying Windy Diary's (End) 🌷Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang