Sebuah batu, selembar daun, sebuah pintu tak bersandar.
Dari batu,daun, pintu dan semua wajah yang terlupakan.
Siapa dari kita yang Tidak kenal saudaranya?
Siapa dari kita yang dapat melihat kedalam hati ayahnya?
Siapa dari kita yang selamanya berada dalam sel penjara?
Siapa dari kita yang tidak selalu asing dan kesepian?
Ingatlah.
Dengan terdiam kita mencari bahasa besar yang terlupakan.
Dan hilangnya jalan menuju surga.
Sebuah batu, selembar daun, pintu tak bersandar.
Dimana?
kapan?
Pergilah.
Dan dengan angin memilukan kau
Kemudian datang dan kembali.
Takdir yang menuntunmu menuju kota ini. Yang cukup tidak wajar.
Tapi satu yg menuntun dari rumahku ke tepat didepan beranda rumahmu.
Dari sana menuju bukit yg menutup awan, melalui suara ayam berkokok lantang.
Dan lembutnya senyumanmu.
Yang menyentuh keajaiban akan kegelapan itu.
Yang mengeluarkan kita kedalam ketelanjangan malam. Lagi..
KAMU SEDANG MEMBACA
LOST [Poetry]
PoesíaSebuah puisi tentang dialog yang penuh emosi. tentang kata yang sebenarnya bukan puisi, yang kutulis sebenarnya hanya emosiku yang api. puisi yang tidak bisa di terjemahkan oleh bahasa namun dapat disyukuri oleh tubuhnya. puisi ini sebenarnya tak pu...