"Jiwa yang sudah mati, konon akan kembali ke kampung halaman."
—dalam Mitologi Polinesia, (Hawaiki)
๑۩๑๑۩๑๑۩๑
San Marino, 19xx
Minato merangkak keluar dari ford transit yang ia kendarai bersama keluarganya. Pria itu cukup sadar, apa yang terjadi pada mereka bukan karena hujan dan mobil mereka terjungkir sebab jalanan menjadi licin—hujan turun selama dua hari tanpa berhenti di beberapa titik bagian Eropa. Begitu sadar dari apa yang terjadi, kebahagiaan Minato lenyap.
Minato mengingat betul ada sebuah van hitam melesat dari depan dengan kecepatan yang sangat menakutkan. Lampu depan mereka berkedip-kedip dan menyilaukan matanya, hingga membuat Minato memutar setir mobilnya. Dia bisa merasakan van hitam itu membentur sebelum ford-nya terbalik dan menabrak palang.
Setelah berhasil keluar menyelamatkan diri, Minato memandang sekeliling.
Ia menemukan rerumputan makin kuyup serta jalan aspal di sekitarnya dipenuhi oleh bekas ban bergesekan, tetapi sebuah keberuntungan tidak jauh dari tempat terjadi kecelakaan itu, ada tiga pemukiman warga, dengan cat rumah mereka terlalu mencolok. Minato pun buru-buru menekan tanda bahaya dari mobilnya sebelum dia kembali kehilangan kesadaran, walau sebenarnya dia ingin sekali melihat apakah kondisi istri dan putranya baik-baik saja. Namun saat dia mulai mendengar suara gemuruh mesin dan lampu dari beberapa mobil melaju mendekatinya, Minato kehilangan kesadaran.
๑۩๑๑۩๑๑۩๑
Yamato semakin membenci pada apa yang dilakukan oleh Kakashi, ketika pria itu selalu peduli terhadap anak kecil secara berlebihan, dan untuk malam ini, Yamato jauh lebih kesal di mana mereka terpaksa membawa anak kecil yang sedang sekarat itu masuk ke dalam mobil mereka. Namun Kakashi tahu jika Yamato tidak akan marah terlalu lama. Dia bertahan di tengah ocehan sahabat karibnya seraya memandangi anak berusia 5 tahun itu mulai pucat di pelukannya.
"Sepertinya baru saja mereka merayakan ulang tahun," Yamato tetap mengendarai mobilnya dan terlihat tidak peduli, tetapi dia tahu betul, sebanyak apa pun dia menolak, Kakashi tetap bercerita, serta satu kenyataan yang ada—hanya ada mereka di dalam van hitam yang sedang melaju di tengah derasnya hujan. "Anak ini baru genap berusia 5 tahun, mengingatkan diriku pada masa-masa kecilku yang kelam." Lanjutnya.
Yamato Mendengkus, dia benci dengan cerita yang sama, bahkan ia lupa sudah berapa kali Kakashi menceritakan hal tersebut kepadanya, tapi dia ingat semua alur cerita itu ataupun sedetail apa krisis hidup yang dialami oleh temannya. "Jika anak ini hidup, dia pasti akan jauh lebih menderita—"
"Oke," Yamato menyela. "Berhenti untuk meneruskan cerita yang sama, karena aku tidak bisa mendengarnya lagi untuk kesekian mulai malam ini."
"Aku belum cerita sampai habis, kenapa kau perlu menyela. Dengarkan dulu sampai beberapa baris saja. Lalu, aku akan berhenti, karena kita sudah berada di kediaman Yuen."
"Kau sengaja menceritakan itu agar aku menerima apa yang sedang kau pilih ini, 'kan?" Kakashi kemudian memandang anak kecil yang ia dekap, lalu pria itu tersenyum. "Aku tahu niatmu sejak awal. Kau ingin memiliki satu bayi mungil tapi kau tidak bisa melibatkan wanita mana pun demi melahirkan darah dagingmu. Dan, sekarang kau memungut anak kecil itu!"
"Memikirkan mereka lahir dari darah seorang ayah yang membunuh banyak orang demi uang dan kesenangan?" Kakashi bertanya pada Yamato. Namun lagi-lagi Yamato mengerti satu hal; untuk tidak terpancing, hingga berujung membahas kehidupan masa kecil mereka—dan tentunya di balik itu, ada alasan lebih masuk akal saat mereka memilih untuk menjadi pasukan khusus negaranya—tapi akhirnya mereka berkhianat.

YOU ARE READING
E N O R M O U S ✔
Ngẫu nhiênKeluarga kaya raya kehilangan putra mereka dalam perjalanan keliling Eropa. Sementara ada dua pria Jepang yang mengadopsi anak laki-laki dan menjadikannya sebagai pembunuh bayaran andal. Tepat dua puluh tahun kemudian, anak laki-laki itu mulai menge...